Tidak semua orang yang gila kerja akan menderita masalah kesehatan serius. Sebuah penelitian baru menemukan bahwa bukan lamanya kerja yang menyebabkan stres, tetapi sesibuk apa seseorang di tempat kerja yang memengaruhinya.

Maka, kerja dalam jangka waktu lama, bekerja keras, atau bahkan menjawab email di luar jam kerja sebenarnya tidak terlalu buruk.

Kepala penelitian Professor Lieke ten Brummelhuis dari Simon Fraser University’s Beedie School of Business menyebutkan bahwa kuncinya adalah tingkat kesibukan di tempat kerja.

"Kami menemukan bahwa workaholism berhubungan positif dengan RMS (RMS: tekanan darah tinggi, peningkatan kadar kolesterol darah), tetapi hanya saat keterlibatannya rendah," tulis peneliti mengenai hasil penemuannya.

Simon Fraser University, bekerja sama dengan University of Pennsylvania, dan University of North Carolina Charlotte, memeriksa pekerja yang bekerja dalam jam kerja panjang untuk mengetahui apakah kebiasan mereka benar-benar mengganggu kesehatan.

Penelitian sebelumnya berhasil mencatat hubungan antara kondisi stres, bekerja secara kompulsif dengan penyakit jantung dan depresi.

Ia mengatakan ada dua jenis pekerja keras: mereka yang bekerja secara berlebihan, dan mereka yang bekerja secara kompulsif.

"Asumsi umum adalah bahwa menjadi seorang pekerja keras buruk baik kesehatan Anda dan bisa memicu serangan jantung. Tetapi kami menemukan bahwa hanya orang-orang yang tidak dilibatkan dalam pekerjaan mereka yang memiliki risiko lebih tinggi menderita sindrom metabolik," catat profesor penelitian sebagaimana disitasi oleh Global News.

Peneliti memeriksa pekerja – sekitar 763 pekerja dari firma keuangan – mengenai kesehatan dan tenaga, tingkat antusiasme dan memeriksa biomarker sindrom metabolik mereka, yang merupakan prekursor langsung penyakit jantung.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bekerja dalam jangka waktu lama bukan merupakan sebuah indikator apakah pekerja tersebut akan mengalami gejala fisik seperti sakit kepala, dan gangguan lambung. Namun, pekerja keras yang melaporkan adanya keterlibatan di atas rata-rata dalam pekerjaan mereka kemungkinan tidak berisiko kondisi penyakit demikian dibangingkan mereka yang melaporkan adanya keterlibatan lebih rendah dari rata-rata.

"Penemuan kami menggaris bawahi bahwa bekerja dalam waktu lama, tetapi merupakan mentalitas bekerja kompulsif berhubungan dengan risiko kesehatan serius, dan kondisi ini hanya berlaku pada mereka yang tidak dilibatkan dalam pekerjaan," catat peneliti.

Meskipun demikian, ini bukan berarti bahwa pekerja yang sibuk tidak terbebas dari kondisi fisik seperti gangguan tidur, gangguan lambung dan sakit kepala.

Perbedaannya adalah pekerja ini akan menyadari, mengambil tindakan, mengevaluasi pekerjaan mereka dan secara aktif mencari pembaharuan, jelas Profesor Brummelhuis.

"Keterlibatan dalam dunia kerja mungkin bisa melindungi pekerja keras dari risiko kesehatan serius," simpul penulis laporan penelitian. MIMS

Bacaan lain:
Tips berjaga malam untuk perawat
FDA membuka banyak lowongan kerja baru – diikuti dengan kebijakan seleksi yang ketat
Seri kesalahan dan kekerasan di tempat kerja yang menyebabkan dokter kehilangan nyawa

Sumber:
http://amd.aom.org/content/early/2016/10/07/amd.2015.0115.abstract
http://www.dailymail.co.uk/health/article-4855104/It-ok-workaholic-love-job.html
http://globalnews.ca/news/3719337/being-a-workaholic-isnt-as-dangerous-to-your-health-as-you-might-think/
http://abcnews.go.com/Health/long-work-hours-linked-heart-disease/story?id=13292157
http://globalnews.ca/news/2729709/workaholics-at-risk-of-having-ocd-anxiety-and-depression-study/