Ini sudah keputusan akhir! Pejabat kesehatan dari 186 sudah memilih pemimpin baru mereka untuk World Health Organization (WHO) saat World Health Assembly (WHA) di Jenewa, pada 23 Mei.

Mantan menteri kesehatan Etiopia, Tedros Adhanom Ghebreyesus, 52 tahun, resmi dipilih untuk memimpin organisasi dalam menghadapi berbagai masalah keuangan dan terus memimpin situasi politik dalam pelayanan kesehatan pada 7 miliar orang di dunia.

Setelah dua kali proses pemilihan, para pemilih memilih Ghebreyesus - bukan Sania Nishtar, seorang dokter kardiologi dari Pakistan, dan David Nabarro, seorang dokter dan senior di WHO dari Inggris yang memimpin respon PBB terhadap ancaman Ebola di Afrika Barat pada 2014 - sebagai pemimpin baru mereka.

Nishtar merupakan kandidat dengan pengalaman paling sedikit. Ia pernah melayani sebagai menteri kesehatan dan hanya mengurus penyakit non-komunikabel selama bertahun-tahun dengan berperan sebagai kepala organisasi non-pemerintahan.

Nobarro, sudah bertahun-tahun mengeluarkan terobosan-terobosan baru dan berhasil menghadapi krisis di PBB; tetapi para kritikus mengatakan sebagai seorang senior di WHO, ia sulit menjadi perwakilan karena masalah ras.

Tedros dituduh menutup-nutupi wabah kolera di Etiopia

Tedros, yang banyak dikenal dengan nama depannya ini (dibaca TAY-dros), dikampanyekan sebagai "Dr. Tedros" meskipun bukan dokter - namun ia memiliki gelar Ph.D dalam komunitas kesehatan.

Semua kandidat sudah melakukan kampanye selama setahun setengah dan mereka semua merupakan kandidat yang menjanjikan dalam mengadakan reformasi birokratis WHO, pemimpin kesehatan dunia dan mempersiapkan dunia untuk pandemik global selanjutnya.

Meskipun dalam beberapa minggu terakhir, pertarungan menjadi semakin sengit saat seorang penasihat Dr Nabarro menuduh Dr Tedros menutup-nutupi wabah kolera di Etiopia, yang menyebabkan terjadinya terlambatnya respon internasional, dan baru-baru ini, menggunakan vaksin kolera.

Dr Tedros juga terikat dengan golongan politik dengan catatan buruk, termasuk membantai para pemrotes dan menangkap dan menyiksa pada jurnalis dan lawan politik.

Terpilih berdasarkan pengalaman pelayanan kesehatan dasar

Outgoing Director-general of the World Health Organization (WHO), China's Margaret Chan (L), leads new WHO Director-general, Ethiopia's Tedros Adhanom Ghebreyesus, to the podium – after his election during the World Health Assembly (WHA) in Geneva, Switzerland, May 23, 2017. Photo credit: Voice of America
Outgoing Director-general of the World Health Organization (WHO), China's Margaret Chan (L), leads new WHO Director-general, Ethiopia's Tedros Adhanom Ghebreyesus, to the podium – after his election during the World Health Assembly (WHA) in Geneva, Switzerland, May 23, 2017. Photo credit: Voice of America


Tuduhan ini tidak langsung melunturkan semangat Tedros - misalnya, ia menjelaskan pengalamannya sebagai menteri kesehatan Etiopia, dimana ia melihat adanya ekspansi pelayanan kesehatan dasar di keseluruhan negara - model dasar, tetapi terjadi di seluruh bagian Afrika Timur.

"Dalam waktu enam tahun kami membangun lebih dari 16.000 pos kesehatan, 3.000 pusat kesehatan, dan mempekerjakan lebih dari 40.000 tenaga kesehatan," katanya. "Ini merupakan usaha besar yang menghasilkan hasil besar."

"Tetapi, ada nilai riil saat memilih pemimpin yang sudah berpengalaman menghadapi masalah kesehatan tersulit dan mengubah sistem kesehatannya. Saya membawa perspektif baru, sudut pandang baru ke dunia yang belum pernah dilihat sebelumnya," tambahnya.

Kampanye Tedros menjanjikan asuransi kesehatan bahkan di negara miskin sekalipun, memperkuat respon gawat darurat dan membuat organisasi menjadi lebih bisa dipercaya dan transparan.

Kembali ke kebutuhan akses obat kontrol kehamilan dan perawatan pencegahan pada wanita, dan juga berjanji akan menerima diversitas jenis kelamin dan etnis dalam organisasi - ia juga berjanji akan melawan efek kesehatan dari perubahan iklim.

Tedros berharap bisa menyelesaikan masalah politik dalam organisasi

Waktu pemilihan merupakan waktu penting bagi WHO, yang sudah mengalami banyak penurunan anggaran, kehilangan anggota berprestasi dan banyak dikritik karena responnya yang lamban dan tidak efektif terhadap epidemik Ebola 2014 di tiga negara Afrika Barat yang membunuh lebih dari 11.000 orang.

Meskipun demikian, ahli kesehatan masyarakat mengatakan satu tantangan terbesar yang dihadapi WHO adalah menghilangkan masalah politik yang memengaruhi pemilihan dan promosi staf, serta pegawai pendukung - salah satu alasan penting mengapa respon utama organisasi kesehatan terhadap wabah ebola tidak efektif.

Dengan demikian, beberapa organisasi kesehatan dunia menyambut terpilihnya Tedros.

Kepala WHO baru "memiliki kekuatan untuk membuka era baru dalam penanganan dunia untuk merespon epidemik; termasuk membangun kerjasama, memperkuat sistem kesehatan publik, dan mengembangkan vaksin serta terapi baru, dan juga menyediakannya untuk semua yang membutuhkan," kata Jeremy Farrar yang menjadi kepala Wellcome Trust, amal penelitian biomedis dunia di London, yang tidak mendukung siapapun.

Steve Davis, kepala eksekutif PATH, sektor nirlaba untuk teknologi kesehatan internasional di Seattle berharap pemimpin baru akan meningkatkan akses dunia untuk pengobatan dan teknologi penyelamat nyawa dan terus berusaha menyelesaikan masalah HIV/AIDS, malaria, tuberkulosis, polio, dan kematian maternal serta anak-anak yang bisa dicegah. MIMS

Bacaan lain:
Vaksin ebola ditemukan 100% efektif dan sedang menunggu persetujuan pemerintah untuk penggunaannya
Kebanyakan tuberkulosis mengalami resistensi obat karena transmisi manusia
Teknologi baru pengubah DNA berhasil dikembangkan oleh peneliti di Singapura


Sumber:
https://www.voanews.com/a/new-world-health-organization-director-general/3867557.html
https://www.washingtonpost.com/news/to-your-health/wp/2017/05/23/who-chooses-a-new-leader-to-head-the-global-health-agency/?utm_term=.2b05c47adc23
https://www.nytimes.com/2017/05/23/health/tedros-world-health-organization-director-general.html