WHO baru-baru ini mengeluarkan Monitor Perkembangan penyakit non-komunikabel (NCD) WHO untuk memandu semua pemerintah di dunia untuk mengambil langkah mengontrol NCD. Perkembangan ini sudah terhambat di banyak negara dan aksi tegas perlu segera dilakukan untuk mengatasi masalah ini.

Penyakit non-komunikabel (NCD), seperti penyakit kardiovaskular, stroke, kanker, diabetes dan penyakit paru kronik, bertanggung jawab pada 70% dari semua kematian di dunia, memicu semakin banyaknya kematian. Setiap tahunnya, sekitar 15 juta orang berusia antara 30 hingga 70 tahun tidak tahan pada penyakit ini.

NCD membagikan faktor risiko termodifikasi, yang memiliki pengaruh pada obesitas, tekanan darah, dan kadar kolesterol, dan secara keseluruhan, penyakit.

Mengatasi tantangan kesehatan ini merupakan masalah yang sedang berlangsung dan tidak satupun negara yang berhasil terhindar dari risiko tersebut. Gaya hidup modern kesehatan dan tren konsumsi memengaruhi standar kesehatan dunia.

Sikap harus diambil untuk melindungi populasi global dari NCD. Dengan kata lain, anak muda zaman sekarang ditakdirkan untuk hidup dengan kesehatan yang buruk dan semakin menurunnya kesempatan ekonomik, kata World Health Organization (WHO).

WHO ingin memonitor perkembangan ini untuk masa depan dunia yang lebih baik

Monitor Perkembangan didasarkan pada data terbaru yang berhasil dilacak dari 19 indikator perkembangan. Meliputi target Nasional NCD terikat waktu, generasi rutin data mortalitas dengan penyebab spesifik, menyelesaikan survey pemeriksaan kesehatan yang komprehensif setiap lima tahun dan kebijakan, strategi, atau rencana aksi NCD nasional operasional.

Sistem monitor juga melacak aksi yang dilakukan oleh beberapa negara untuk membentuk target dan mengimplementasikan kebijakan untuk mengatasi empat faktor risiko utama untuk NCD: penggunaan tembakau, pola makan tidak sehat, inaktivitas fisik dan penggunaan alkohol yang berlebihan. Pengukuran lain meliputi edukasi publik, panduan manajemen dan konseling juga diperhitungkan.

Beberapa poin kunci lain di edisi tahun 2017 meliputi peningkatan jumlah negara dalam mengatur target nasional untuk mengatasi NCD – dari 59 di tahun 2015 hingga 93 di tahun 2017. Sejumlah total 100 negara juga sudah mengadakan kampanye kesadaran aktivitas fisik dan 94 negara sudah mengimplementasikan strategi multisektoral operasional untuk mengatasi NCD – 30 lebih dari 2015.

Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, WHO Director-General, highlighted advances in responding to NCDs, but urged further action. Photo credit: Denis Balibouse/Reuters/Scroll.in
Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, WHO Director-General, highlighted advances in responding to NCDs, but urged further action. Photo credit: Denis Balibouse/Reuters/Scroll.in


Dalam pidatonya untuk Monitor, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Umum WHO, menggaris bawahi kemajuan dalam merespon NCD tetapi mereka tetap meminta aksi selanjutnya, "Aksi politikal yang lebih berani dibutuhkan untuk mengatasi masalah dalam mengontrol NCD, termasuk mobilisasi sumber domestik dan eksternal dan komunitas pengamanan dari gangguan oleh operator ekonomik yang cenderung sangat kuat."

Dibutuhkan lebih banyak tindakan; lebih sedikitnya kematian disebabkan NCD

NCD cukup mahal dan memiliki pengaruh pada permasalah ekonomi.

Di awal tahun ini, Menteri Kesehatan Malaysia mengatakan bahwa pengeluaran kesehatan juga ikut memengaruhi pertumbuhan ekonomik, berkontribusi pada penyebab masalah peningkatan NCD.

Menurut Organisasi Keamanan Sosial negara, jumlah kematian disebabkan NCD lebih besar daripada penyebab lain, meliputi kecelakaan kendaraan. Tahun lalu, di sektor swasta itu sendiri, sekitar 46 pekerja meninggal atau menjadi catat setiap hari akibat NCD.

Selain itu, MOH juga menggaris bawahi bahwa pengeluaran kesehatan per orang di Malaysia sudah meningkat hingga dua kali lipatnya dalam waktu 17 tahun. MOH sekarang mencari cara untuk optimasi sistem penyampaian kesehatan dan mempromosikan pasangan yang lebih baik antara sektor kesehatan swasta dan negeri.

Di samping itu, di Singapura – dianggap sebagai negara tersehat di Asia dan negara tersehat keempat di dunia – mendeklarasikan sejumlah perang nasional untuk melawan diabetes. Masalah yang memperkirakan sejumlah pasien diabetes untuk meningkat menjadi 670.000 di tahun 2030 dan hampir 1 juta di tahun 2050, jika tidak ada yang dilakukan.

Menteri Kesehatan Singapura sekarang memulai pendekatan di berbagai ranah kesehatan, dengan mengatasi lima masalah utama. Hal ini meliputi: pencegahan, skrining, manajemen kesehatan yang lebih baik, edukasi publik dan usaha nasional.

Pertama di Asia, tujuh produsen minuman ringan juga baru-baru ini setuju untuk menurunkan kadar gula pada produk yang dijual di Singapura pada tahun 2020.

Dengan lebih tingginya kesadaran dan lebih banyaknya edukasi publik, WHO berharap kesempatan bisa terus ada sehingga mereka bisa mengatasi NCD secara keseluruhan. MIMS

Bacaan lain:
Update terbaru panduan NICE: Statin untuk semua pasien gagal ginjal kronis
Panduan baru tidak merekomendasikan prosedur operasi lutut yang paling banyak dilakukan di dunia
Permintaan kompensasi IVF yang diajukan seorang wanita Singapura ditolak oleh pengadilan

Sumber:
http://www.who.int/mediacentre/news/releases/2017/ncds-progress-report/en/http://www.un.org/apps/news/story.asp?NewsID=57542#.WcCNXLIjGUk
http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/258940/1/9789241513029-eng.pdf?ua=1
https://www.moh.gov.sg/content/dam/moh_web/PressRoom/Highlights/2016/cos/factsheets/COS_Factsheet%20-%20Diabetes.pdf
http://www.channelnewsasia.com/news/singapore/7-major-soft-drinks-manufacturers-in-singapore-to-reduce-sugar-9146552