Antibiotik banyak diresepkan sebagai obat penyakit infeksi menular seksual (IMS) seperti chlamydia dan gonorrhea, yang berasal dari bakteri. Baru-baru ini, WHO memutuskan untuk mengubah strategi terapi untuk tiga penyakit IMS: chlamydia, gonorrhea dan sifilis, disebabkan banyaknya risiko resistensi antibiotik.

Peningkatan angka kejadian resistensi antibiotik menyebabkan terapi IMS dengan antibiotik menjadi sia-sia. Lamanya paparan antibiotik bisa menyebabkan bakteri berkembang dan menjadi resisten. Seiring dengan berjalannya waktu, populasi bakteri ini mudah tersebar ke sejumlah mikroorganisme yang mudah resisten terhadap antibiotik. Penyebab resistensi antibiotik lain juga adalah mutasi spontan, dimana bakteri merasa harus mengubah materi genetik mereka agar bisa tetap bertahan hidup.

Angka kejadian IMS semakin meningkat di Asia dan di dunia

PBB mengestimasikan bahwa setiap tahun, 131 juta orang terinfeksi chlamydia, 78 juta orang terinfeksi gonorrhea, dan 5,6 juta orang menderita sifilis. Di tahun 2005, WHO mengestimasikan bahwa di Asia Tenggara sendiri, ada sekitar 7,39 juta kasus Chlamydia trachomatis; 8,37 juta kasus gonorrhea, dan 11,77 juta kasus sifilis.

Jumlah yang besar ini menggaris bawahi terapi efektif yang bisa membantu kontribusi untuk mengontrol angka transmisi. Menurut klinik rawat jalan di Singapura dengan spesialisasi pelayanan IMS di populasi lokal.

Tiga jenis IMS ini merupakan "masalah utama kesehatan publik"

Fokus utama terapi IMS didasarkan pada fakta bahwa kondisi ini bisa memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Misalnya, gonorrhea dan chlamydia bisa menyebabkan penyakit inflamasi pelvis pada wanita selama tahap akhir jika tidak diterapi. Gonorrhea juga berhubungan dengan meningkatnya risiko kehamilan ektopik dan infertilitas. Sifilis bisa menyebabkan gangguan jantung dan otak yang kemudian menyebabkan paralisis dan kematian.

Ian Askew, direktur kesehatan reproduksi dan penelitian di WHO menyatakan bahwa, "Chlamydia, gonorrhea, dan sifilis merupakan masalah utama kesehatan di dunia, yang memengaruhi jutaan kualitas kehidupan orang, menyebabkan penyakit serius dan terkadang kematian."

Perhatian langsung dengan mengubah rencana terapi untuk penyakit ini bisa memberikan pengaruh positif terhadap mortalitas, produktivitas ekonomi dan kesehatan di dunia.

Selain itu, pernyataan WHO mengenai revisi strategi terapi menggaris bawahi bahwa gonorrhea memiliki "resistensi terkuat terhadap antibiotik." Sekarang, beberapa strain Neisseria gonorrhea, bakteri gram negatif, sudah banyak yang mengalami resistensi antibiotik.

Dibutuhkan terapi baru untuk IMS

Panduan terapi terbaru untuk semua tiga infeksi ini didasarkan pada bukti eksperimental yang dikumpulkan melalui sejumlah pengujian untuk mengetahui terapi mana yang paling efektif untuk menyembuhkan kondisi ini. Untuk terapi gonorrhea, panduan ini tidak mendukung penggunaan kuinolon, antibiotik spektrum luas yang sebelumnya banyak diresepkan. Namun, WHO meminta agar tenaga kesehatan mengevaluasi kembali produk apa yang paling efektif di setiap tempat.

Untuk sifilis, terapi yang disarankan adalah "benzathine penicillin dosis tunggal", yang merupakan antibiotik injeksi. Terapi ini dianggap memiliki efikasi lebih baik dan paling murah dibandingkan antibiotik lokal lain.

Masalah sedikitnya stok benzathine penicillin di negara dengan angka penderita sifilis tinggi sekarang banyak menjadi masalah hingga WHO meminta agar setiap negara harus mengatur kebutuhan dasarnya. Tingkat morbiditas pada bayi dan wanita hamil memanggil kolaborasi langsung dengan penyedia kuangan di negara yang terpengaruh.

Tetrasiklin seperti doksisiklin yang banyak digunakan untuk terapi chlamydia tidak ditunjukkan memberikan efek serius untuk menyamakan tingkat penggunaannya. Hingga sekarang, terapi tertarget terhadap infeksi kelamin dan komorbiditas lain juga banyak didukung.

Askew menambahkan bahwa, "Panduan baru WHO menggaris bawahi kebutuhan untuk memberi terapi IMS dengan antibiotik yang benar, dalam dosis yang benar, waktu yang benar untuk menurunkan angka penyebaran dan meningkatkan tingkat kesehatan seksual dan reproduksi."

Disamping revisi strategi terapi yang diharapkan bisa menurunkan prevalensi infeksi, ini merupakan tanggung jawab kebijakan lokal untuk memastikan panduan ini bisa diimplementasikan dan diikuti dengan baik. MIMS

Bacaan lain:
Patient zero: cerita pasien dan pola epidemik
Seorang wanita AS meninggal dunia karena superbug resisten-obat
Resep berlebih: Apakah manfaatnya untuk dokter atau pasien mereka?
Obat "lepas lambat" yang sebenarnya


Sumber:
https://www.dsc-clinic.sg/Patient-Care/Prevention%20and%20Education/STI/Pages/STI-Statistics.aspx
http://www.medicalnewstoday.com/articles/312660.php
https://medlineplus.gov/gonorrhea.html
http://www.who.int/mediacentre/news/releases/2016/antibiotics-sexual-infections/en/
http://sti.bmj.com/content/87/Suppl_2/ii14.extract
http://www.cdc.gov/std/gonorrhea/lab/ngon.htm
http://www.cdc.gov/std/gonorrhea/stdfact-gonorrhea.htm
http://www.acog.org/Patients/FAQs/Gonorrhea-Chlamydia-and-Syphilis
http://www.who.int/reproductivehealth/topics/rtis/benzathine-penicillin/en/
https://www.drugs.com/doxycycline.html