Pada 19 Agustus 2003 silam, sebuah hotel di Baghdad dibom, membunuh 22 orang. Di antara korban ada Perwakilan Khusus PBB, Sekretaris umum Irak, Sergio Vierira de Mello. Lima tahun kemudian, diputuskan oleh Majelis Umum bahwa 19 Agustus akan ditandai sebagai Hari Kemanusiaan Dunia – untuk memperingati hari kematian Sergio Vierira de Mello dan tenaga kemanusiaan dan kesehatan lain di seluruh dunia. Setiap tahun sejak saat itu, kampanye dunia akan berlangsung dengan tujuan untuk menyokong keamanan tenaga kemanusiaan, termasuk tenaga kesehatan.

Tahun ini, Peringatan Hari Kemanusiaan Dunia di Jenewa oleh World Health Organization (WHO) diadakan di Palais des Nations pada 21 Agustus bersama dengan Komite Palang Merah Internasional (ICRC), Médecins Sans Frontières (MSF), Kantor PBB untuk Koordinasi Masalah Kemanusiaan (OCHA) dan Kantor PBB di Jenewa (UNOG). Direktur umum WHO yang baru, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus memberikan pidatonya dan mengadakan diskusi panel dengan judul 'Violence against healthcare and its implications for affected populations, humanitarian workers and aid’.

Pengerangan kepada tenaga kesehatan; meskipun bukan bagian dari target penyerangan (#NotATarget)

WHO menganggap serangan terhadap tenaga kesehatan sebagai suatu pelanggaran yang menghalangi pemberian perawatan di saat darurat. Pelanggaran ini meliputi serangan verbal atau fisik melalui bom, penembakan, perampokan, api, abduksi dan bentuk aksi terorisme lain. Serangan ini akan mengganggu tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan, metode transportasi atau pasien, baik itu secara disengaja atau tidak disengaja.

Serangan ini mengganggu hukum kemanusiaan internasional yang melindungi tenaga kesehatan dan fasilitasnya untuk mengobati mereka yang terluka, baik warga dan tentara. Tenaga kesehatan tidak terlibat dengan perang – tetapi seringkali harus menjadi target, untuk menghilangkan kemungkinan penyembuhan. Banyak yang angkat bicara mengenai masalah ini melalui petisi agar peraturan bisa lebih dihargai.

WHO sudah mengumpulkan data mengenai penyerangan ini sejak tahun 2014. Data selama 4 tahun ini menunjukkan pola serangan; sebagian besar terjadi di Siria dan daerah konflik lain, yang dengan sengaja menargetkan fasilitas kesehatan, dan meresahkan warga serta tenaga kesehatan setempat. Di 3 bulan pertama tahun 2017, dilaporkan terjadi 88 serangan, yang menyebabkan hilangnya 80 nyawa.

Attacks on healthcare for the period of January to March 2017. Source: WHO
Attacks on healthcare for the period of January to March 2017. Source: WHO


Salah satu serangan yang masuk dalam laporan ini adalah serangan dimana dokter diserang oleh kerabat pasien. Dalam kasus lain, saat sejawatnya diserang, dokter mengadakan demo untuk melawan pelanggaran yang dilakukan pasien. Hal serupa, para perawat juga mau mengadakan demo untuk membela sejawat mereka yang meninggal. Selain itu, seiring dengan semakin meningkatnya jumlah serangan, dokter di India memperlengkapi diri mereka dengan sikap pertahanan.

Masalah utamanya: Melindungi tenaga kesehatan

Serangan ke sistem kesehatan akan menghasilkan efek domino. Saat sistem kesehatan mati, pasien yang membutuhkan penanganan medis darurat, kemungkinan tidak akan terselamatkan. Serangan ke fasilitas kesehatan, bisa memutus terapi jangka panjang. Pada umumnya, serangan membakar aset berharga karena hanya dibutuhkan beberapa tahun untuk melatih tenaga kesehatan dan untuk membangun dan memperlengkapi fasilitas kesehatan.

WHO menyadari bahwa data yang dikumpulkan tidak komprehensif, meskipun ada gambaran luas mengenai masalah realita yang terjadi. Hal ini disebabkan rendahnya sistem pelaporan, karena rendahnya kesadaran dan keterbatasan waktu dan sumber daya. WHO juga mengajukan standarisasi metode pengumpulan data yang kemudian akan dipublikasikan sehingga data tersebut bisa dibandingkan satu dengan yang lainnya; dan dengan demikian mengisi celah pemajaman mengenai konsekuensi serangan pada penanganan kesehatan jangka pendek dan tujuan kesehatan masyarakat jangka panjang.

Selain itu, peraturan baru Security Council Resolution 2286 ditujukkan untuk menegakkan kekudusan hukum bahwa tenaga kesehatan harus dilindungi di daerah konflik. Meskipun demikian, WHO mengadakan pertimbangan lebih lanjut yang menyatakan bahwa pelanggaran bagi tenaga kesehatan juga bisa terjadi di luar daerah konflik, seperti saat melawan polio dan ebola. Hingga sekarang, WHO masih menjadi penyedia data di garis depan dan menjadi pilar pertama yang bertugas untuk menyelesaikan suatu masalah. MIMS

Bacaan lain:

Dokter di masa perang: Mengobati luka di tengah kekacauan perang
PBB: Serangan ke rumah sakit dan tenaga kesehatan di Siria merupakan bentuk dari "kriminalitas dalam peperangan"
Peneliti mengubah kode virus komputer menjadi DNA

Sumber:
http://worldhumanitarianday.org/en
http://www.who.int/emergencies/attacks-on-health-care/en/