Program Open Access (OA) atau akses terbuka muncul dari ide mulia: untuk mengembalikan tujuan awal penerbitan ilmiah, yaitu menyebarkan pengetahuan secara bebas tanpa kendala biaya. Namun, para peneliti yang tidak waspada secara tidak sadar memfasilitasi penyebaran jurnal predator palsu, yang disalahartikan sebagai penerbit terkemuka.

Masalah ini dianggap hanya memengaruhi negara berkembang. Namun, sebuah penelitian baru menemukan bahwa para peneliti dari institusi terkenal di negara-negara maju, seperti Harvard dan Mayo Clinic, juga menjadi mangsa.

Sejumlah kecil jurnal predator berasal dari institusi terkemuka di Amerika 

Sebuah analisis baru terhadap 1.907 laporan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal yang diduga predator menemukan bahwa 15% sumbernya berasal dari Amerika Serikat – kedua setelah India. Hampir tiga perempat pengajuan melaporkan tidak ada sumber pendanaan, sementara yang paling banyak, mencantumkan National Institutes of Health (NIH).

"Jika mereka menerbitkan dalam jurnal predator, maka artikel tersebut tidak akan disebarluaskan atau digunakan. Hal ini merupakan pemborosan," jelas Kelly Cobey, peneliti di Ottawa Hospital Research Institute, juga satu dari 32 penulis laporan penelitian tersebut, yang terbit di Nature.

Istilah ini pertama kali digunakan oleh Jeffrey Beall, seorang pustakawan penelitian di University of Colorado, Denver, yang menyimpan daftar referensi jurnal dan penerbit predator yang dicurigai di blognya. "Kegiatan ini dimulai saat saya mengikuti pola kepemilikan jurnal dalam beberapa tahun terakhir, dan saya mulai menerima email palsu ini," katanya. "Dari jurnal yang belum pernah saya dengar sebelumnya."

Daftar ini terbukti sangat berharga bagi para peneliti yang melakukan analisis, mengingat mereka sudah memeriksa ulasan sistematis dan studi biomedis primer dari 92 penerbit yang diduga predator ini. Mereka menemukan bahwa laporan penelitian tersebut cenderung tidak melaporkan secara lengkap metode yang digunakan, nomor registrasi percobaan klinis, atau persetujuan dari komite etika.

"Laporan penelitian bermasalah" semacam itu juga dapat ditemukan pada jurnal umum, namun ditemukan lebih sering dalam jurnal yang diduga predator. Dari 1.907 laporan penelitian yang diselidiki, sembilan dari Harvard, 11 dari University of Texas, dan delapan dari Mayo Clinic di Rochester, Minn.

Pengamanan yang tidak memadai terhadap jurnal predator

Sayangnya, daftar yang dibuat Beall tetap merupakan daftar paling otoritatif dari penerbit predator yang dimiliki ilmuwan tersebut, walaupun hanya dibuat oleh satu orang, dan "kriterianya ... belum tentu sepenuhnya transparan," seperti yang ditunjukkan oleh Cobey.

Para peneliti kemudian mengirim email kepada penulis dan universitas untuk menjelaskan mengapa mereka mengirimkan laporan penelitian ke jurnal semacam itu, yaitu tingkat kewaspadaan akan risiko jurnal palsu semacam itu masih terlalu rendah. Dari 18 peneliti yang merespons, tiga meminta materi edukasi tentang jurnal predator, sementara tujuh lainnya menyatakan bahwa mereka, sebenarnya, direkomendasikan untuk mengajukan laporannya ke jurnal-jurnal tersebut.

Kurangnya kewaspadaan ini tidak luput dari perhatian ilmuwan lain. "Ini adalah sesuatu yang Anda hadapi setelah menerbitkan laporan penelitian pertama Anda: banyak permintaan manuskrip," kata Jimmy Gonzalez, asisten profesor klinis di Western New England University.

Bahaya jurnal predator

Banyak penerbit hanya memberikan akses kepada artikel saintifik hanya untuk mereka yang membayar biaya langganan. Namun, peneliti bisa dengan bebas menentukan jika ia ingin agar pekerjaannya bisa diakses secara gratis. Mereka biasanya perlu membayar biaya publikasi, sehingga pembaca dimanapun bisa mendapat akses dan menggunakan artikel tersebut secara gratis. Beberapa jurnal juga menawarkan manfaat lain untuk OA, seperti prioritas dalam publikasi – menarik bagi para peneliti untuk segera melakukannya.

Jurnal yang bagus biasanya selektif dengan kiriman laporan penelitian yang diterimanya – dan memerlukan waktu setidaknya beberapa minggu untuk menyelesaikan keseluruhan proses peninjauan, proofreading, dan proses publikasi. Sebaliknya, jurnal predator sering menerima dan menerbitkan laporan penelitian segera tanpa tinjauan terlebih dahulu; seperti dalam kasus tipuan 'Star Wars’, adalah sebuah keharusan membasmi penerbit semacam itu. Mereka mungkin juga mematok biaya yang sangat tinggi, dan bahkan mengancam siapa saja yang memilih untuk menarik laporan penelitian mereka dari publikasi.

Sayangnya, tidak mudah membedakan jurnal predator dengan yang bukan – peneliti, yang ingin mempublikasikan, mungkin melewatkan fakta bahwa nama jurnal berbeda dari jurnal ternama hanya dengan penambahan “s” pada sebuah kata, atau tanda “&” bukannya "dan".

Jurnal predator menimbulkan dua masalah berbeda: satu, penelitian sah tidak dibaca dan dikutip karena isi jurnal semacam itu tidak dapat ditemukan pada indeks perpustakaan akademik; dua, penelitian yang buruk dan tidak ditinjau muncul dalam pencarian akademis, kemudian dikutip dan digunakan di komunitas ilmiah.

Pengaruh yang lebih membahayakan terdapat di bidang kesehatan dan kedokteran. Contohnya, penelitian tentang manfaat coklat hitam untuk menurunkan berat badan diterbitkan oleh jurnal lain pada daftar referensi Beall, International Archives of Medicine, dan segera ditutup oleh berita umum. Mudah dibayangkan betapa buruknya saran kesehatan yang dapat mempengaruhi konsumen. "Bagaimana jika ini tentang vaksin campak?" catat Rick Anderson, dekan asosiasi untuk koleksi dan komunikasi ilmiah di perpustakaan Universitas Utah. MIMS

Bacaan lain:
3 sumber jurnal gratis yang bisa dimanfaatkan oleh tenaga kesehatan
Kredibilitas jurnal saintifik: Apa makna dari faktor R?
Hoax Star Wars membuat empat jurnal saintifik tampak seperti lelucon

Sumber:
https://www.bloomberg.com/news/features/2017-08-29/medical-journals-have-a-fake-news-problem
https://www.statnews.com/2017/09/06/predatory-publishers-ivy-league/
http://retractionwatch.com/2017/09/06/predatory-journals-not-just-developing-world-countries-says-new-nature-paper/
http://www.nature.com/news/predatory-journals-recruit-fake-editor-1.21662