Salah satu hal yang sering ditanyakan di apotek adalah "kapan saya harus meminum obat ini?" Di kondisi normal, kebanyakan apotek akan menyarankan pasien untuk menggunakannya di waktu standar, terkecuali beberapa kasus lain seperti beberapa jenis statin dan mungkin juga aspirin.

Sangat jarang terdengar ada yang mengucapkan bahwa obat harus dikonsumsi di periode waktu spesifik untuk bekerja optimal.

Kelihatannya, ini bukan yang dianut oleh peneliti dari Universitas Pennsylvania ketika mereka mempublikasikan laporan mengenai ekspresi gen sirkadian yang memiliki pengaruh signifikan pada bagaimana dokter dan apoteker memberikan obat ke pasien mereka.

Ekspresi gen sirkardian bisa memengaruhi dosis dan waktu konsumsi

Tim yang dipimpin oleh Profesor John Hogenesch dari Departemen Farmakologi, Fakultas Kedokteran Perelman, menemukan bahwa 43% gen pengkode protein menghasilkan pola transkripsi yang sangat menyerupai ritme sirkadian, dan pola tersebut banyak ditemukan di beberapa organ tubuh. Mudahnya, mereka menemukan bahwa gen dalam tubuh diaktivasi dalam periode waktu tertentu. Selain itu, pada jendela waktu ini, gen akan sibuk "mengkode protein" yang menjadi target obat modern.

Tim ini juga menyatakan bahwa 56 dari 100 obat paling banyak dijual di Amerika Serikat "menargetkan produk dari gen sirkardian" dan 23 obat memiliki waktu paruh kurang dari enam jam. Selain itu, mereka juga mengomentari bahwa sejumlah besar daftar obat wajib menurut World Health Organization (WHO) berfungsi dengan pola serupa. Penemuan ini menciptakan indikasi menarik bahwa waktu pemberian dosis bisa memainkan peran penting dalam memaksimalkan efek obat.

Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mendukung hasil penelitian

Penting bagi komunitas medis dan sains untuk mencari tahu dan memeriksa bukti yang ada. Ada beberapa tantangan penting yang harus dilakukan sebelum mengaplikasikan ke pasien. Pertama, penelitian dilakukan pada tikus, dengan demikian sulit bagi komunitas medis untuk mengekstrapolasi hasil dari penelitian hewan ke manusia. Meskipun penulis menulis mengenai kesamaan ekspresi gen pada tikus dan manusia, banyak penelitian klinis yang dilakukan pada manusia harus dilakukan sebelum implementasi ke praktek medis.

Kedua, tidak diketahui apakah memberi terapi menurut ritme sirkadian akan memberi pengaruh serupa ke semua penyakit. Apakah cara penentuan dosis obat batuk sama dengan obat kemoterapi? Hasil penelitian yang ada sekarang yang mengindikasikan sains dari chronoterapi memberikan hasil menjanjikan untuk penyakit kanker dan artritis reumatoid. Namun, untuk aplikasi teknologi demikian ke penyakit lain akan dibutuhkan waktu dan usaha yang signifikan untuk membuktikan efikasinya.

Selain itu, chronoterapi diharapkan bisa memberikan pengaruh signifikan ke praktek apoteker. Bukan hanya meningkatkan efikasi dan menurunkan efek samping, chronoterapi bisa meningkatkan kompleksitas regimen terapi manapun. Perubahan penggunaan dosis menurut ritme sirkadian bisa memunculkan risiko lain, yaitu menyebabkan pasien bingung dan kemudian menjadi tidak patuh atau kesalahan dosis obat.

Pemahaman sekarang mengenai chronoterapi masih harus banyak diteliti dan divalidasi. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Professor Hogenesch, penelitian klinis harus memastikan legitimasi chronoterapi dalam pengobatan modern. MIMS

Bacaan lain:
Menghadapi krisis penggunaan obat
Obat "lepas lambat" yang sebenarnya
Apakah 'obat pintar' benar-benar memiliki kecerdasan tanpa menimbulkan efek samping?
Tanggung jawab dan tantangan apoteker dalam mengadakan Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM)