Pandemik penyakit flu mematikan telah dimulai sejak satu abad lalu. Penyakit ini awalnya memiliki gejala seperti flu biasa, pada musim semi 1918, menjangkiti tentara Amerika di kamp militer Fort Riley, Kansas. Banyak dari mereka sembuh dan tingkat kematiannya rendah.

Meskipun demikian, saat musim berganti, dan tentara (dimobilisasi untuk Perang Dunia I) bergerak ke Eropa – virus tersebut menjadi lebih kuat. Pada bulan Mei tahun itu, virus ini menyerang Amerika, Eropa dan Asia – menghancurkan keluarga dan bisnis.

Hampir tanpa ampun, virus mematikan tersebut menyerang 500 juta orang di seluruh dunia dan membunuh 30-50 juta penduduk berusia 20-40 tahun, dan mencatat korban tewas lebih banyak daripada wabah penyakit manapun dalam sejarah. Onset mendadak tersebut menandakan kecenderungan terjadinya komplikasi pneumonia, yang diduga menyebabkan delapan juta kematian di Spanyol, bahkan Raja Alfonso XIII dilaporkan terinfeksi oleh virus tersebut. Serangan penyakit yang belum pernah terjadi sebelumnya menyebabkan penyakit ini dijuluki "flu Spanyol".

Serangan penyakit misterius ini menyebabkan peralihan usia pandemik, membagi dua penyebaran demografi secara ekstrem – sangat muda, di bawah lima tahun, dan yang sangat tua, di atas 65 tahun.

Individu sehat bisa terjangkit penyakit ini dalam satu atau dua jam. Demam mungkin saja membuat suhu tubuh naik hingga 105o Fahrenheit (sekitar 40,6o Celsius), penderita mengatakan bahwa mereka merasa seperti dipukul dengan sebuah stik golf.

Korban meninggal dalam hitungan jam atau hari akibat infeksi ini, dengan kulit berubah biru dan paru-paru tersumbat cairan. Hanya dalam satu tahun, harapan hidup rata-rata di Amerika anjlok hingga belasan tahun.

Semuanya terjadi begitu cepat

Women wearing surgical masks in Brisbane, 1919. Photo credit: John Oxley Library, State Library of Queensland/National Museum Australia
Women wearing surgical masks in Brisbane, 1919. Photo credit: John Oxley Library, State Library of Queensland/National Museum Australia

Dihadapkan dengan pandemik penyakit yang luar biasa, dunia berada dalam status siaga tinggi. Orang-orang sangat memperhatikan kondisi kesehatannya dengan keluar rumah menggunakan masker, bahkan kondektur trem tidak menerima penumpang tanpa masker.

Namun, dengan hanya sedikit atau tidak ada imunitas, serta penyebaran virus yang cepat dan menyedihkan dapat menyebabkan banyak korban tewas dan bisnis ditutup.

Terjadi kesalahan diagnosis yang mengarah pada demam berdarah, kolera atau tifoid karena gejala yang ditimbulkan penyakit ini tidak spesifik.

Sebuah surat dari seorang dokter di sebuah kamp Angkatan Darat AS kepada seorang rekannya mengungkapkan, "Orang-orang ini awalnya menunjukkan gejala serangan penyakit seperti LaGrippe atau Influenza, namun ketika dibawa ke rumah sakit, mereka dengan sangat cepat akan mengalami pneumonia terparah yang pernah ada... hanya masalah waktu hingga kematian datang... ini mengerikan. Sudah biasa jika melihat satu, dua atau dua puluh orang mati, seolah-olah seperti melihat lalat berjatuhan..."

Tidak ada terapi flu yang efektif, dan kebanyakan dokter pada awalnya keliru menghubungkan penyebabnya dengan bakteri, bukan virus mematikan. Baru pada tahun 1940-an, para ilmuwan menemukan vaksin flu yang dapat menyelamatkan dunia.

Dalam penyelidikannya, para ilmuwan menemukan satu petunjuk dari seorang warga AS yang merupakan imigran asal Italia, Adolfo Sartini, 29 tahun, yang meninggal karena flu saat sedang menjalani tugas militer. Dari kasus tersebut muncul hipotesis tentang sistem imunitas pada individu dewasa muda di tahun 1918.

Analisis terbaru menunjukkan bahwa kematian pada tahun 1918 paling tinggi di antara individu yang lahir sekitar tahun 1889, seperti Adolfo. Virus flu menyerang kelompok yang terkait secara evolusioner. Virus yang beredar saat Adolfo masih bayi kemungkinan terjadi pada apa yang disebut "Kelompok 2", sedangkan virus 1918 berada di "kelompok 1". Sehingga Adolfo tidak mungkin memiliki kekebalan terhadap virus "Kelompok 1" ini.

Persiapan serangan pandemik penyakit di masa mendatang

Faktor flu 1918 tetap tidak dapat dijelaskan meskipun para ilmuwan modern mencoba mengurutkan DNA virus 1918 dari sampel beku paru-paru korban.

Sementara itu, para ilmuwan telah menemukan penjelasan yang masuk akal untuk tingkat kematian yang tinggi. Beberapa peneliti mengaitkannya dengan sifat varian virus spesifik yang sangat agresif. Satu kelompok ilmuwan menemukan bahwa transfeksi pada hewan menyebabkan kegagalan pernapasan progresif yang cepat dan kematian melalui badai sitokin (reaksi berlebihan terhadap sistem imunitas). Postulasinya adalah bahwa reaksi imunitas yang kuat dari individu dewasa muda merusak tubuh, sedangkan imunitas yang lebih lemah pada anak-anak dan orang dewasa setengah baya menyelamatkan mereka dari serangan virus mematikan.

Temuan yang lebih baru, terutama berdasarkan laporan medis asli dari pandemik penyakit, menemukan bahwa infeksi virus itu tidak lebih agresif daripada influenza sebelumnya, namun faktor-faktor seperti kekurangan gizi, fasilitas medis dan rumah sakit yang padat, serta kebersihan yang buruk bisa memperperah superinfeksi bakteri.

Seratus tahun berlalu, tapi tidak ada jaminan sejarah tidak akan terulang kembali. Hari ini, dengan dukungan vaksin yang lebih efektif dan antivirus yang lebih kuat, apakah kita sudah siap – atau terlindungi – menghadapi serangan berikutnya? Sambil meninjau sejarah dan memprediksi tren, pertanyaan yang lebih mengkhawatirkan adalah: Kapan pandemik penyakit ini akan kembali? MIMS

Bacaan lain:

Sumber vaksin cacar yang membingungkan
Penyakit pes: Meningkatnya angka kejadian Black Death
Virus baru H7N9: Virus yang resisten obat dan ancaman untuk serangan epidemik penyakit baru

Sumber:
https://theconversation.com/the-mystery-of-a-1918-veteran-and-the-flu-pandemic-86292
https://www.awesomestories.com/asset/view/A-DEADLY-SECOND-WAVE-Spanish-Flu-Pandemic
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK22148/
https://nzhistory.govt.nz/culture/1918-influenza-pandemic/death-rates
http://www.history.com/topics/1918-flu-pandemic
https://news.nationalgeographic.com/news/2014/01/140123-spanish-flu-1918-china-origins-pandemic-science-health/