Tidak adanya akses ke air bersih bisa memicu konflik dan peperangan, serta membahayakan banyak kehidupan khususnya anak-anak. Melalui Laporan Monitoring Gabungan berjudul "Progress on Drinking Water and Sanitation", UNICEF dan WHO menemukan bahwa lebih dari 180 juta orang di seluruh dunia sekarang hanya memiliki akses terbatas ke suplai air.

Dari 484 juta orang yang hidup di daerah sulit di tahun 2015, 183 juta dari mereka tidak memiliki akses ke air bersih, catat laporan.

Dua badan anggota PBB ini mengkhawatirkan situasi buruk ini karena air merupakan dasar kebutuhan manusia untuk hidup, namun banyak orang di daerah tertinggal dan berkembang kesulitan mendapatkannya.

"Akses anak-anak ke air bersih dan sanitasi, khususnya di daerah konflik dan darurat, merupakan suatu hak, bukan hak khusus," menurut Sanjay Wijesekera, pempimpin dunia UNICED dalam divisi water, sanitation dan hygiene.

Misalnya saja di Yaman, yang sekarang sedang menghadapi krisis kolera terbesar di dunia dengan penemuan lebih dari setengah juta laporan kasus. Selain itu, negara ini juga menghadapi kesulitan akibat perang yang merusak fasilitas kesehatan dasar, suplai air, dan banyak tenaga kesehatan harus bekerja tanpa dibayar. Laporan mencatat bahwa sekitar 15 juta orang di negara tersebut tidak memiliki akses ke air bersih dan sanitasi.

Somalia dan Sudan Selatan merupakan dua negara lain di Afrika yang sedang menghadapi penyebaran wabah kolera.

Di Siria, badan organisasi melaporkan bahwa air digunakan sebagai senjata perang, sehingga suplai air untuk Aleppo, Damaskus, Hama, Raqqa, dan Dara dihentikan. Limabelas juta orang dan 6,4 juta anak-anak membutuhkan akses air bersih.

Di Nigeria, 75% infrastruktur penyedia air bersih dan sanitasi hancur, bahkan di saat 3,6 juta orang membutuhkan akses ke air bersih. Di Sudan Selatan, setengah sistem air bersih juga hancur.

Kelaparan juga merupakan satu ancaman lain, setelah masalah kurangnya air bersih terutama di Nigeria Timur Laut, Somalia, Sudan Selatan dan Yaman. Sekitar 30 juta orang – 14,6 juta dari anak-anak ini – menghadapi darurat air bersih. Lebih dari lima juta anak-anak mengalami malnutrisi tahun ini, 1,4 juta anak-anak lain juga berada dalam kondisi malnutrisi parah, menurut PBB.

Di tahun 2030, WHO dan UNICEF berharap bisa mengakhiri kebiasaan defekasi di ruang terbuka dan mempromosikan pelayanan dasar dan pelayanan aman. MIMS

Bacaan lain:

Krisis air bersih dialami seperempat populasi dunia di tahun 2050 - PBB
PBB: Serangan ke rumah sakit dan tenaga kesehatan di Siria merupakan bentuk dari "kriminalitas dalam peperangan"
Enam negara Asia merupakan kontributor terbesar infeksi HIV – lapor PBB

Sumber:
https://www.unicef.org/media/media_100710.html