Hakim Agung Bangladesh meminta pemerintah untuk membuat dokter menulis resep dengan jenis penulisan huruf cetak atau diprint, setelah Pembela Hak Asasi Manusia dan Kedamaian di Balngladesh (HRPB) membawa petisi tertulis yang menyebutkan ada masalah pada pasien karena jeleknya tulisan dokter saat menulis resep.

“Kadang bahkan tenaga kesehatan di farmasi saja tidak bisa membaca resep dengan benar dan memberikan obat yang salah ke pasien,” kata HRPB yang diwakili oleh Manzil Murshid.

Hakim Agung Naima Haider dan Hakim Agung Abu Taher Md Saifur Rahman memerintahkan sekretaris kesehatan dan Asosiasi Dokter dan Dokter Gigi Bangladesh untuk menyatakan kepatuhannya dan memberikan laporan keberhasilan dalam waktu enam minggu.

Perlukah obat ditulis dengan nama generiknya?

Hakim juga mengangkat permasalahan, mengapa dokter tidak diminta untuk memberi pengukuran yang efektif dengan menggunakan nama generik.

Menurut Murshid, dokter di negara tetangga menulis resep dengan nama generik mereka menggunakan huruf cetak, sedangkan tenaga kesehatan di Bangladesh harus menskrining semua nama merk obat di daftar resep.

Artikel berita ini disebarkan bersamaan dengan petisi yang meminta agar dokter menulis nama generik obat, bukan nama merk, karena ada pemahaman tersendiri bahwa dokter dan industri farmasi dalam prakteknya seringkali menimbulkan bias.

Konsekuensi praktek ini adalah, pasien akhirnya harus membeli obat yang lebih mahal, meskipun ada alternatif yang lebih murah, atau dipaksa membeli obat yang kurang poten.

Tulisan yang jelek tidak aman bagi pasien

Meskipun terlihat tidak biasa, peraturan dari hakim ini bukan pertama kalinya di buat. Tahun 2015, dokter di India juga menulis resep dengan huruf kapital untuk mencegah kesalahan interpretasi resep obat.

Dokter biasanya menggunakan tulisan jeleknya sebagai lawakan, tetapi masalah yang diciptakannya bukan sesuatu yang bisa ditertawakan – laporan tahun 2006 dari Institut kedokteran dari Akademi Nasional di Amerika Serikat mengestimasikan bahwa tulisan yang jelek ini menyebabkan kematian lebih dari 7.000 pasien setiap tahunnya.

Kejadian mortalitas yang tinggi merupakan hasil dari kesalahan medis yang berakar dari misinterpretasi singkatan dan indikasi dosis yang tidak jelas. Salah menempatkan angka desimal di bagian dosis, misalnya, bisa menyebabkan overdosis ke pasien.

Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Kemajuan Kesehatan tahun 2007 juga menemukan bahwa salah satu sumber kesalahan medis terbanyak adalah menulis resep dengan nama yang mirip, misalnya celecoxib dan citalopram yang merupakan obat nyeri dan antidepresan secara berurutan – dua obat berbeda.

“Kesalahan pengobatan merupakan hal yang sangat menyakitkan bagi dokter, dan juga pasien. Tidak ada yang ingin membuat kesalahan,” kata Tatyana Shamliyan, pemimpin penulis pengkajian dan peneliti di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Minnesota.

Di luar resep obat, tulisan jelek pada catatan pasien dan riwayat pengobatan juga bisa menyebabkan terapi tertunda, karena tenaga kesehatan harus mengonfirmasi ulang rencara terapi obat ke dokter.

Minsinterpretasi juga bisa menyebabkan tes dan prosedur yang tidak perlu, pemberian obat di waktu yang salah, dan kesalahan membaca diagnosis, serta kesalahan lain.

Dalam kasus yang lebih parah, tulisan yang jelek bisa membuat bertambah buruknya implikasi medico-legal, dengan penulis penelitian mencatat bahwa “beberapa testimoni dokter tampak memprihatinkan, dengan menyatakan bahwa mereka tidak bisa membaca tulisan mereka sendiri. Tulisan yang tidak terbaca bisa akhirnya diinterpretasi oleh orang lain dan mengarahkan ke perawatan yang tidak meyakinkan.”

Mengimplementasikan sistem komputerisasi untuk menghindari error

Sistem komputerisasi seperti catatan medis elektronik (EMR), resep elektronik dan teknologi bar-coding telah digunakan sebagai metode untuk mengeliminasi tulisan dokter yang jelek, dan mencegah kesalahan membaca pada nama dan dosis pasien.

Ada manfaat lain dalam sistem TI, yang bisa juga digunakan untuk menghindari dosis melakukan algoritma yang bisa mengarahkan ke dosis resep optimal dan mengingatkan akan interaksi obat yang bisa jadi membahayakan kondisi pasien.

Meskipun demikian, banyak tenaga kesehatan masih menggunakan pen dan kertas meskipun sudah ada sistem komputer. Hingga EMR dan sistem lain banyak digunakan, dokter harus mengingat bahwa mereka harus memperbaiki tulisan mereka demi keamanan pasien. MIMS

Bacaan lain:
5 poin penting BPJS yang perlu diketahui oleh tenaga kesehatan
Mengapa apoteker perlu berhenti memberikan gelas dan sendok ukur
Apakah angka kejadian malpraktek sedang meningkat?