Tubuh manusia sangat kompleks bahkan hingga di tingkat sel sekalipun. Sampai saat ini, masih banyak penelitian dilakukan untuk menemukan sumber penyebab penyakit dan cara untuk menyembuhkannya. Berikut adalah hasil studi terbaru yang berhasil ditemukan pada tiga penyakit tidak menular (PTM) atau biasa disebut non-communicable diseases (NCDs) seperti diabetes, obesitas, aterosklerosis, dan penyakit radang usus (inflammatory bowel disease/IBD).

Tulang mempengaruhi nafsu makan dan metabolisme

Selain berfungsi sebagai penunjang struktur otot dan jaringan, rangka manusia juga memproduksi hormon. Salah satunya adalah osteocalcin – dan peneliti menemukan bahwa osteocalcin memegang peran penting dalam metabolisme gula dan lemak.

Mathieu Ferron, seorang peneliti di Montréal Clinical Research Institute (IRCM) dan profesor fakultas kedokteran di Université de Montréal bersama rekan timnya menghabiskan puluhan tahun untuk mempelajari fungsi osteocalcin. Hasil penemuan mereka semakin memperkuat pernyataan bahwa kemungkinan hormon adalah solusi untuk mencegah penyakit diabetes mellitus tipe II dan kegemukan.

"Salah satu fungsi osteocalcin adalah meningkatkan produksi insulin yang menurunkan kadar glukosa darah", jelas Ferron. "Osteocalcin juga dapat mencegah kegemukan dengan meningkatan pengeluaran energi basal."

Penelitian berbeda pada juga menunjukkan kensentrasi osteocalcin dalam darah dapat mencegah terjadinya diabetes. Bentuk perlindungan semacam ini menarik perhatian Ferron untuk mengetahui mekanisme aksinya.

"Pertama osteocalcin diproduksi oleh osteoblast dalam bentuk inaktif", ujar Ferron. "Yang menarik adalah cara memahami mekanisme osteocalcin menjadi bentuk aktif saat dilepaskan ke dalam aliran darah."

Tim IRCM menemukan jawabannya yaitu: Furin.

Furin mengaktifkan osteocalcin sebelum dilepaskan ke aliran darah. Mereka juga menemukan furin menimbulkan efek tidak terduga, yaitu penurunan nafsu makan – untuk mendukung hasil penelitian ini, peneliti juga membuktikan bahwa osteocalcin sendiri tidak mempengaruhi nafsu makan. Kedepannya, mereka mengusulkan agar hormon yang dapat mengontrol asupan makanan tersebut dapat direalisasikan.

Tim juga berharap bisa mengetahui efek furin dengan protein lain dalam regulasi nafsu makan.

Makanan bukan penyebab penyakit jantung melainkan lemak yang dihasilkan bakteri 

Manusia sudah sejak lama mengetahui bahwa serangan jantung dan stroke disebabkan oleh aterosklerosis kronis (struktur berlemak atau lipid yang mengeras dan menyumbat arteri). 

Namun bukti terbaru menunjukkan bahwa penyebab sumbatan lemak bukan hanya berasal dari makanan tetapi juga berasal dari bakteri dalam mulut.

Sebelumnya dokter dan peneliti beranggapan bahwa lipid berasal dari konsumsi makanan kaya lemak. Tetapi setelah diperhatikan pada beberapa orang yang mengkonsumsi makanan tersebut, orang-orang tersebut tidak menderita penyakit jantung.

Studi yang dilakukan oleh peneliti UConn menemukan struktur lipid aneh yang berasal dari keluarga bakteri dengan struktur kimia khas berbeda dengan binatang.

Bakteri ini disebut Bacteroidetes memproduksi lemak khas yang biasanya tidak ditemukan pada mamalia.

Bacteroidetes sendiri juga bukan penyebab satu-satunya mengingat bakteri ini hanya bisa ditemukan pada mulut dan usus. Lipid yang dihasilkan dapat dengan mudah melewati dinding sel dan aliran darah, yang kemudian menyebabkan sumbatan lemak jika dibandingkan dengan lemak dari makanan.

Tim peneliti juga mengungkapkan bahwa sistem imun bisa mengidentifikasi lipid sebagai sinyal invasi bakteri dan sistem dalam tubuh memberi respon perlawanan.

Meski dianggap partikel asing, lipid juga dipecah oleh enzim dalam tubuh untuk membentuk molekul-molekul inflamasi.

Ini berarti bacteroidetes menambah masalah pada pembuluh darah saat sistem tubuh menyerang lipid sekaligus meningkatkan proses inflamasi pada waktu yang bersamaan.

Para peneliti berharap mereka dapat mengindentifikasi selanjutnya dimana sebenarnya bakteri lemak ini berakumulasi sebab hal tersebut bisa memperkuat bukti bahwa lemak aneh ini terlibat dalam proses terbentuknya atheroma dan juga sekaligus bisa memecahkan solusi untuk menurunkan risiko penyakit jantung.

Saat ini merokok dikaitkan dengan penyakit radang pada usus

Merokok sudah banyak dihubungkan dengan gangguan saluran pernapasan dan kanker. Namun untuk pertama kalinya peneliti dari universitas KyungHee melaporkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa merokok mengaktifkan sel darah putih spesifik dalam paru-paru yang kemudian akan berpindah ke kolon dan memicu terjadinya peradangan.

"Sistem pada saluran napas dan pencernaan memiliki banyak persamaan," kata HyunsuBae, dari Universitas KyungHee, Korea Selatan. "Hubungan antara paru-paru dan usus besar telah lama ditunjukkan. Dan Crohn’s disease sering ditemukan pada penderita gangguan saluran pernapasan – yang membuktikkan bahwa proses radang paru berkorelasi dengan radang usus."

Studi yang dilakukan oleh peneliti pada tikus menemukan adanya peningkatan kadar mukus dan inflamasi di kolon dan darah pada feses (kotoran) tikus yang terpapar rokok. Mereka juga menemukan peningkatan kadar CD4+ sel T, sejenis sel darah putih, yang melepaskan protein inflamasi – interferon gamma. 

Tim ini yakin bahwa sel T CD4+ berperan pada penyakit colitis yang diinduksi rokok. Untuk mendukung penemuan ini, mereka juga menguji sel yang telah diisolasi dan memasukkannya ke tubuh tikus yang bebas paparan rokok. Terungkap bahwa sel yang dimasukkan tersebut berpindah ke kolon dan tikus yang bebas paparan rokok tersebut menderita kolitis beberapa waktu setelahnya.

Para peneliti berharap studi ini dapat membantu ppengembangan obat penyakit radang usus baru – seperti Crohn’s disease – dan meningkatkan kesadaran perokok akan risiko penyakit ini. MIMS

Bacaan lain:
Rokok sehat, mungkinkah?
Nyeri dada tak beralasan mungkin muncul karena faktor psikososial
Mengapa kanker lebih banyak muncul di payudara daripada di jantung?

Sumber:
https://medicalxpress.com/news/2017-11-bones-affect-appetiteand-metabolism.html 
https://www.sciencedaily.com/releases/2017/11/171101151213.htm 
https://medicalxpress.com/news/2017-10-inflammatory-bowel-disease.html