Apoteker sering berada dalam posisi serba salah ketika harus mengatakan 'tidak' saat menyediakan obat-obatan bagi pasien, terutama jika disertai resep dokter yang valid. Di Indonesia, dalam salah satu pasal dalam kode etik apoteker Indonesia mencatat bahwa "Seorang apoteker dalam melakukan praktik kefarmasian harus mengutamakan kepentingan masyarakat, menghormati hak azasi pasien dan melindungi makhluk hidup insani", yang dengan demikian membuat seorang apoteker dapat menolak memberikan obat apabila hal tersebut tidak sesuai dengan tujuan terapi serta membahayan pasien, tidak seperti di Amerika Serikat di mana apoteker dapat dituntut karena menolak memberikan obat. Meskipun demikian, beberapa apoteker merasa sulit membedakan pasien yang berpotensi menyalahgunakan obat dengan yang tidak. Terutama didukung oleh celah dalam sistem pencatatan nasional, beberapa penyalahguna obat cenderung membeli obat dari apotek.

Mengidentifikasi penyalahguna obat potensial

Banyak bahan kimia berpotensi disalahgunakan. Di sebagian besar negara, zat seperti tembakau, alkohol dan obat penenang (misalnya prometazin dan dekstrometorfan) mudah didapat. Di Indonesia, beberapa jenis obat seperti heroin, kokain dan ekstasi yang merupakan narkotika golongan I tidak boleh diproduksi dan diedarkan untuk kepentingan terapi. Terdapat peraturan perundang-undangan ketat yang mengatur mengenai penyalahgunaan, termasuk perdagangan ilegal, kepemilikan serta konsumsi obat-obatan terlarang tersebut. Hukuman bagi pelaku yang memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan narkotika golongan I dapat dipidana denda hingga miliaran rupiah bahkan dipidana mati.

Tanda dan gejala para pecandu obat

Secara umum, setiap orang menunjukkan tanda kecanduan yang berbeda-beda. Tanda dan gejalanya dapat meliputi: perasaan gelisah, mudah tersinggung, insomnia, gerakan lamban yang tidak normal, kebingungan, disorientasi, penurunan berat badan mendadak, atau kenaikan berat badan, kejang otot, kedinginan, berkeringat dan tremor.

Saat gejala kecanduan muncul

Ada beberapa tanda dan gejala lain yang dapat digunakan sebagai petunjuk kecanduan obat:

Sekretif: Berbicara dengan suara lembut dan bergumam saat membeli obat

Hilang kontrol/tidak toleran: Agresif, kasar [fisik atau verbal], bila tidak mendapat obat yang diinginkan

Perubahan penampilan: kotor dan berantakan, jorok

Jika terdapat tanda dan gejala yang menunjukkan bahwa pelanggan/pasien merupakan pecandu obat, sebaiknya Anda sebagai seorang apoteker, menolak melayani pembelian obat yang bersangkutan. Apoteker harus berhati-hati untuk menentukan pasien yang benar-benar membutuhkan obat tersebut untuk menghindari masalah hukum. Di Amerika Serikat, apoteker dapat dituntut karena menolak melayani obat untuk pasien, seperti pada kasus metadon pada pasien yang menderita sakit kronis akibat multiple sklerosis.

Lalu bagaimana cara apoteker menolak pasien yang kemungkinan merupakan pecandu obat?

1. Tetapkan batasan pribadi

Pelanggan yang datang berulang kali untuk membeli obat penenang over-the-counter yang sama seperti prometazin kemungkinan merupakan penyalahguna obat. Informasikan kepada pelanggan bahwa Anda membatasi pembelian obat lebih dari jumlah tertentu selama periode waktu tertentu, walaupun tidak tercantum dalam undang-undang. Misalnya, "Di sini saya tidak menjual lebih dari dua botol prometazin dalam sebulan, maaf saya tidak dapat melayani permintaan Anda hari ini."

2. Penggunaan obat yang rasional

Periksa catatan penggunaan obat untuk melihat jumlah dan tanggal pembelian terakhir obat tersebut. Rasionalisasi penggunaan obat pada pelanggan dengan dosis berlebih. Misalnya, "Jika Anda menggunakan dosis 10ml sebanyak tiga kali sehari, untuk botol 500ml, maka akan habis dalam setengah bulan. Oleh karena itu, masih terlalu dini untuk membeli lagi obat tersebut hari ini, karena Anda baru saja membeli dua botol kemarin." Namun, jangan gunakan cara ini pada pelanggan yang mungkin berlaku kasar karena dapat membahayakan diri Anda sendiri.

3. Luangkan waktu untuk mempertimbangkan permintaan

Para pecandu paling sering mengatakan "obat saya hilang", "untuk persediaan saat bepergian" sebagai alasan untuk kembali membeli obat dalam waktu singkat. Sebenarnya, ini adalah masalah yang paling sulit saat menghadapi pasien. Luangkan waktu untuk mempertimbangkan permintaan tersebut, walaupun pasien mungkin tampak memelas dan membutuhkannya. Buat kata-kata yang dapat diterima dan tidak menyinggung pasien, misalnya, "Saya tahu Anda sering menggunakan obat ini, apakah ada suatu hal yang dapat saya lakukan untuk Anda? Jika obat ini tidak memberikan efek, saya bisa memberi obat lain untuk keluhan umum yang Anda alami? Saya juga bisa mengarahkan Anda ke dokter untuk mengetahui diagnosis yang akurat?"

Pengamatan yang baik dan keterampilan komunikasi yang bijaksana sangat penting bagi apoteker dalam menangani penyalahguna obat potensial. Terkadang, penting bagi apoteker untuk mengetahui kapan harus mengatakan "tidak". MIMS

Bacaan lain:
6 tips apoteker bisa menjadi lebih unggul dari yang lainnya
Apoteker: Tips mendapat surat izin praktik di luar negeri
Konseling apoteker: Cara untuk meningkatkan pelayanan kefarmasian

Sumber:
1. Substance abuse and addiction: An overview. Health Promotion Board. Available at: http://www.hpb.gov.sg/HOPPortal/health-article/1384. Last accessed on 10 October 2016.
2. Drug addiction. Mayo clinic. Available at: http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/drug-addiction/basics/symptoms/con-20020970. Last accessed 10 October 2016.
3. National Council on Alcoholism and Drug dependence. Signs and symptoms. Available at: https://www.ncadd.org/about-addiction/signs-and-symptoms/signs-and-symptoms. Last accessed on 10 October 2016.
4. Walgreens pharmacists now turning away some customers who need pain meds. WTHR News (Indianapolis, United States), 11 March 2014.
5. http://ikatanapotekerindonesia.net/page/kode-etik-apoteker
6. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika