Kelelahan, menipisnya energi atau kekuatan, adalah salah satu deskripsi yang paling banyak digunakan; terutama, dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun ada semakin banyak dokter yang merasa lelah, namun belum banyak solusi yang berhasil mengatasinya. Sebuah studi oleh Sinsky dkk. melaporkan bahwa jumlah dokter yang berhenti lebih banyak daripada yang baru masuk profesi kedokteran dan kelelahan merupakan salah satu alasan utamanya.

Masalah yang dihadapi di seluruh dunia

Masalah dokter yang terlalu banyak bekerja tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi juga di seluruh dunia. Menurut survey yang dilakukan oleh Physician Wellness Services (PWS) dan Cejka Search di Amerika Serikat pada tahun 2011, sekitar 87% dokter mengalami stres sedang hingga berat. Ini merupakan angka yang mengkhawatirkan karena lebih dari setengah praktisi medis mengalami masalah serupa.

"Data ini menunjukkan bahwa tingkat stres dan kelelahan pada dokter terus meningkat," ungkap Mitchell Best, Chief Operating Officer PWS. "Sampai sekarang, hanya sedikit penelitian yang dilakukan untuk menyelidiki mengapa dokter merasa stres, dampaknya terhadap kehidupan mereka dan dampaknya terhadap pasien," tambahnya.

"Stres dan kekelahan sangat mengganggu praktek medis dan juga dapat berujung pada kesalahan fatal," tutur Lori Schutte, kepala Cejka Search. Jumlah dokter yang berhenti praktek mungkin saja menjadi lebih tinggi daripada para dokter baru, yang kemudian akan menyebabkan kekurangan tenaga kesehatan. Hal ini juga kemudian akan menurunkan motivasi tenaga kesehatan baru disebabkan terlalu beratnya beban kerja, jam kerja yang panjang dan lingkungan kerja yang penuh stres. Siklus ini kemungkinan akan terus berlanjut hingga kita menyadari pentingnya mengatasi tingkat stres di antara para dokter ini.

Implikasi di balik tren kesehatan yang mengkhawatirkan

Jika kesehatan mental dokter dibiarkan – baik dengan gejala mengantuk, lelah atau depresi – hal ini bisa menganggu kualitas penanganan pasien. Pikiran yang tidak fokus bisa mengganggu keputusan dokter dan juga konsentrasinya saat melakukan beberapa prosedur penting. Dokter yang kelelahan juga dilaporkan berisiko tinggi melakukan kesalahan pada perawatan pasien, tidak menikmati pekerjaan, menunjukkan ketidak-ramahan kepada pasien dan memiliki hubungan yang tidak baik dengan sejawat dan tenaga kesehatan lain.

Selain itu, dokter yang kelelahan tidak hanya merugikan pasien, tetapi juga dokter itu sendiri. Karena jam kerja yang terlalu panjang, kurang istirahat dan tidur juga dapat berkontribusi pada kecelakaan di jalan.

Seperti yang disampaikan oleh Menteri Kesehatan Malaysia Dr S Subramaniam, dari tahun 2014 sampai 2016, sebanyak 554 kasus dilaporkan di antara petugas layanan kesehatan, dan 96 kasus di luar jam kerja reguler.

Di Indonesia, belum terdapat aturan khusus mengenai jam kerja dokter. Aturan terkait hal tersebut masih merujuk pada Pasal 77 Ayat (2) Undang-undang (UU) no. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. UU tersebut mengatakan bahwa waktu kerja maksimum seorang tenaga kerja adalah tujuh jam satu hari (untuk enam hari kerja dalam satu minggu) atau delapan jam satu hari (untuk lima hari kerja per minggu). Namun, kenyataannya, dokter seringkali bekerja lebih lama dari aturan tersebut. Hal tersebut terjadi karena adanya regulasi bahwa dokter dapat memiliki Surat Izin Praktik (SIP) di tiga tempat sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 512/MENKES/PER/IV/2007. Peraturan tersebut sebenarnya merupakan upaya untuk meningkatkan pelayanan dokter dengan membatasi jumlah tempat praktik, namun batasan tersebut masih memicu masalah. Sebagai contoh, sebuah rumah sakit mewajibkan dokter bekerja selama 40 jam sesuai dengan UU Ketenagakerjaan; namun jika dokter masih bekerja di dua tempat lain, maka beban jam kerjanya tentu akan menjadi sangat tinggi.

Janji dokter pada Sumpah Hipokrates

Dokter wajib bersumpah
Dokter wajib bersumpah "Saya akan menjaga kesehatan saya ... untuk memberi pelayanan terbaik"

"Saya akan memerhatikan kesehatan, kesejahteraan, dan kemampuan saya sendiri untuk memberi perawatan dengan standar tertinggi." Sumpah Hipokrates yang baru direvisi memuat kalimat bahwa dokter perlu juga menjaga kesehatan mereka sendiri – sebelumnya tidak termasuk dalam Deklarasi Jenewa.

"Dokter cenderung tidak merawat kesehatan sendiri karena merasa harus mengorbankan diri untuk merawat pasien," ungkap Dr Sam Hazledine, dokter dan pendiri MedRecruit dari Selandia Baru.

Hazledine baru-baru ini mengubah sejarah dengan mengadakan petisi untuk memasukkan kewajiban bagi dokter untuk menjaga kesehatannya sendiri, sama seperti menjaga dan/atau merawat pasien, dalam Sumpah Hipokrates, yang disetujui oleh Asosiasi Kedokteran Dunia pada Oktober 2017.

Dengan demikian, penting untuk merevisi jumlah jam kerja dokter – mengingat kesehatan fisik dan mental dokter juga sangat penting untuk mempertahankan sistem kesehatan yang optimal. MIMS

Bacaan lain:
Sumpah Dokter Indonesia: Apakah benar ditulis oleh Hipokrates?
Apakah dokter Indonesia sudah merdeka?
Para dokter khawatir gangguan mental akan membuat mereka 'kehilangan' izin praktek

Sumber:
https://www.medscape.com/viewarticle/887940#vp_2 
https://www.cejkaexecutivesearch.com/physician-stress-and-burnout-study-reveals-nearly-87-percent-of- 
https://www.themalaysianinsight.com/s/21137/ 
http://www.mayoclinicproceedings.org/article/S0025-6196(17)30637-7/fulltext 
https://www.fiercehealthcare.com/healthcare/physician-burnout-continues-to-take-toll-profession 
http://www.nzherald.co.nz/nz/news/article.cfm?c_id=1&objectid=11932712
Undang – Undang  No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 512/MENKES/PER/IV/2007 tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran