Banyak obat potensial gagal mencapai tahap penelitian klinis, yang menyebabkan kekecewaan mendalam baik pada pasien dan juga bagi peneliti klinis.

Salah satu alasannya adalah karena peneliti menguji obat ini pada hewan seperti tikus dan mencit sebelum mengujinya ke manusia, dan menganggap hewan uji memiliki mekanisme fisiologis dan biologis yang sama dengan manusia.

Sekarang, setiap tahun ada lebih dari 115 juta hewan digunakan di dunia untuk percobaan saintifik atau untuk digunakan dalam industri biomedis.

Hewan uji pertama kali digunakan ratusan tahun lalu, tetapi hewan tidak dianggap sama dengan manusia. Namun, peneliti mempelajari tikus untuk memahami mekanisme tubuhnya.

Meskipun demikian, Todd Preuss, seorang ahli antropologis di Pusat Penelitian Primata Nasional Yerkes di Universitas Emory menjelaskan, "Seiring dengan berjalannya proses ini, orang-orang berhenti menggunakannya sebagai hewan khusus dan mulai menjadikannya sebagai prototipe mamalia."

Industri untuk meneliti rodensia

Tikus percobaan mulai digunakan karena penjual "sangat percaya Anda bisa melakukan apa saja" dengan hewan ini, menurut Preuss. Mereka mengasumsikan bahwa peneliti bisa "mempelajari mengenai hampir semua mekanisme dalam tubuh manusia", dan dengan demikian, menemukan solusi terapeutik untuk semua penyakit.

Hal ini diketahui tidak benar karena manusia dan rodensia memiliki jalur evolusi berbeda, dan dengan demikian obat yang memberikan efek pada tikus belum tentu bekerja pada manusia. Meskipun demikian, hampir semua komunitas saintifik sangat bergantung pada penggunaan tikus, mencit, dan hewan uji lain.

"Saat komunitas ini muncul, maka pada saat itu Anda sudah memiliki dasar pengetahuan: bagaimana cara memelihara binatang, bagaimana cara menjaganya agar tetap sehat," kata Preuss.

"Perusahaan cenderung membekali Anda dengan alat khusus untuk mempelajari hewan ini."

Selain itu, peneliti dalam institusi berbeda mempelajari mekanisme penyakit yang sama menggunakan hewan uji yang sama, dan kemudian menjadi jurnal dan akan disebarkan ke agen pembiayaan. Faktanya, ada ratusan fasilitas yang didikan untuk memberikan dedikasi ke perawatan dan makan tikus uji ini.

Reprodusibilitas penelitian tikus merupakan masalah utamanya

Dalam penelitian mengenai tikus, banyak peneliti menggunakan parameter yang sama sehingga percobaan identik yang dilakukan di fasilitas penelitian berbeda bisa menunjukkan kesamaan hasil. Meskipun demikian, penelitian menunjukkan bahwa reprodusibilitas sangat sulit dilakukan karena faktor-faktor seperti lingkungan hidup, makanan, hubungan tikus dengan penjaga, dan pencahayaan, semuanya memberikan efek berbeda.

Lingkungan laboratorium dengan pencahayaan buatan dan suara manusia merupakan kondisi tidak alami yang bisa memengaruhi outcome penelitian karena bisa menyebabkan stres dan sikap abnormal tikus.

Joseph Garner, peneliti sikap di Pusat Medis Universitas Stanford menjelaskan dengan mengatakan, "Bayangkan Anda melakukan percobaan obat pada manusia dan Anda mengatakan ke FDA, 'OK, saya akan melakukan percobaan ini pada pria kulit putih berusia 43 tahun di kota kecil di California dimana orang-orang tinggal di rumah jerami yang sama, dengan makanan yang monoton dan suhu yang sama."

"Dan oh, mereka juga memiliki kakek yang sama! FDA akan menertawakan pengaturan gila ini. Tetapi itulah apa yang kita lakukan pada hewan. Kami mencoba untuk mengontrol semuanya, dan hasilnya kita tidak mempelajari apapun," tambahnya.

Berhenti dengan yang lama, mulai dengan yang baru

Pendukung ide Garner percaya bahwa variasi merupakan sumber masalahnya. "Mungkin kita perlu berhenti berpikir bahwa hewan kecil berbulu ini bisa atau harus dikontrol," katanya.

Gregory Petsko, yang mempelajari penyakit Alzheimer di Fakultas Kedokteran Weil Cornell, percaya kuncinya adalah menangani hewan sama seperti menangani pasien.

"Outcome terburuknya, adalah jatuh ke jebakan pola pikir bahwa kualitas hidup tidak menjadi masalah, bahwa hewan tidak bisa merasa sakit, atau tidak bisa merasa takut, atau tidak bisa merasa depresi," katanya.

Petsko percaya bahwa peneliti bisa lebih banyak belajar mengenai sel manusia daripada hewan lain, misalnya untuk penyakit neurologis.

Menghentikan penelitian hewan mungkin bukan menjadi solusinya. Dengan membandingkan manusia dan hewan lain, peneliti bisa mempelajari banyak hal mengenai sistem biologi penyakit tanpa mengasumsikan apa yang terjadi pada tikus juga akan terjadi pada manusia. Hewan uji juga akan tetap berguna dalam penelitian klinis untuk mengetahui keamanan potensi terapi.

"Peneliti harus keluar dari budaya yang menghambat kemajuan," kata Preuss. MIMS

Bacaan lain:
5 gen langka "manusia super"
Lebih dari 20% pasien penderita kondisi serius pernah mengalami salah diagnosis
Imunoterapi bisa mempercepat pertumbuhan tumor, kata peneliti kanker
Satu-dua serangan obat bisa digunakan untuk melawan superbug


Sumber:
http://www.npr.org/sections/health-shots/2017/04/10/522775456/drugs-that-work-in-mice-often-fail-when-tried-in-people 
http://www.mnn.com/earth-matters/animals/stories/if-animal-lab-testing-doesnt-translate-humans-should-we-keep-doing-it-same-way