Seorang wanita, sebut "Maddie", di usianya yang sudah 70-an tahun, melaporkan bahwa ia tidak bisa berhenti menangis – satu minggu setelah serangan stroke yang membuat setengah tubuhnya tidak bisa digerakkan. Satu-satunya momen ia tidak menangis adalah saat tidur, sehingga kondisi ini sangat mengganggu kualitas hidupnya.

Namun, saat ditanya apakah ia merasa depresi, Maddie menjawab, "Saya bingung mengapa hal ini terjadi. Saya pikir tidak."

Kondisi yang seringkali disalah artikan sebagai depresi

Maddie memiliki riwayat depresi, tetapi ia sudah berhasil mengontrolnya dengan menggunakan antidepresan. Selain itu, dokter psikolognya menyatakan ia tidak memenuhi kriteria yang membuat ia bisa didiagnosis depresi – seperti "tidak tertarik melakukan aktivitas biasa, kurang tidur dan nafsu makan, tidak berenergi dan kurangnya konsentrasi'.

"Maddie mengalami ekspresi yang ekstrem dan tidak bisa dikontrol tanpa perubahan emosi," catat psikolognya, Daniel Shalev.

Faktanya, Maddie menderita efek pseudobulbar (PBA) – kondisi sekunder dari penyakit neurologis, termasuk amyotrophic lateral sclerosis (ALS, atau penyakit Lou Gehrig), multiple sclerosis, penyakit Parkinson dan stroke – yang ditandai dengan eksperi emosi tidak sadar seperti tertawa atau menangis.

Menurut penelitian di tahun 2011 yang dipublikasikan dalam Advances in Therapy, estimasi populasi Amerika dengan PBA adalah 1,8 hingga 7,1 juta orang. Kurang dari setengah (41%) yang berhasil didiagnosis, dan hanya setengah yang mendapatkan obat. Yang lainnya diterapi berdasarkan diagnosis yang salah.

Gejala PBA sering disalahartikan sebagai kondisi seperti depresi dan rasa gelisah, disebabkan fakta bahwa penderitanya mengalami penurunan kualitas hidup dan isolasi sosial – gejala gangguan psikiatrik. Kemiripan hal tersebut meningkat saat penderita pernah memiliki riwayat gangguan kesehatan mental, seperti dalam kasus Maddie.

Gangguan sirkuit emosi dalam otak

Daerah tertentu dalam otak diketahui bertanggung jawab untuk ekspresi emosi, seperti meliputi lobus frontal, yang memainkan peran dalam ekspresi emosi, cerebellum dan batang otak, yang meregulasi refleks emosi, dan pons, yang mengubah impuls otak menjadi aksi dan ekspresi emosi.

Dalam kasus Maddie, stroke membuat terjadi penghambatan pembuluh darah yang mensuplai batang otak, merusak pons dan mengganggu sirkuit emosi di otak.

PBA yang sama sekali tidak berhubungan dengan perasaan seseorang dan ekspresi mereka, membuat mereka mempertanyakan integritas pola pikir dan perasaan mereka sendiri. Maddie juga termasuk salah satunya, dan baginya, 'diagnosis ini sangat melegakan' – membuatnya bisa mempercayai 'pola pikir dan perasaannya lagi'.

Terapi menggunakan antidepresan

PBA seringkali diobati dengan dextromethorphan dan quinidine, obat pertama yang disetujui oleh FDA untuk melawan kondisi ini. Mekanisme aksinya belum jelas, tetapi diketahui bisa memblok glutamat – salah satu dari neurotransmiter eksisatori utama dalam otak. Dengan demikian terjadi penurunan frekuensi pensinyalan abnormal ke neural otak; dan dengan demikian, menyebabkan ledakan emosi yang tidak terkontrol.

Meskipun demikian, dextromethorphan-quinidine tidak direkomendasikan untuk pasien dengan aritmia tertentu, seperti pemblokan total di bagian jantung atau riwayat gagal jantung. Maddie tidak memiliki kondisi tersebut; meskipun demikian, dextromethorpan-quinidine merupakan 'pilihan berisiko' untuknya karena berpotensi mengalami interaksi dengan antidepresan yang sudah dikonsumsi Maddie sebelumnya.

Namun, menurut Dr. Shalev, ' ada golongan obat lain yang mungkin membantu otaknya meregulasi selnya sendiri: antidepresan lain'. Lebih spesifiknya lagi, ia merekomendasikan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) dosis rendah. Ini merupakan antidepresan yang bisa meningkatkan jumlah serotonin dalam sinaps antar neuron.

Setelah lima hari setelah pengobatan, Maddie menemukan bahwa frekuensi menangisnya berhasil diturunkan menjadi kurang dari satu kali sehari. Respon cepat terhadap peningkatan serotonin dalam sinaps menjadi pembeda PBA dari depresi, yang biasanya membutuhkan waktu beberapa minggu hingga dihasilkan efek.

Beberapa hari rehabilitasi dan terapi kemudian menghasilkan penurunan tangisan Maddie hingga mencapai frekuensi tertentu. Meskipun ia masih kesulitan dengan efek paska stroke, namun Maddie tetap optimis.

"setidaknya saya bisa bermain lagi dengan cucu saya," ungkapnya diikuti dengan senyuman. MIMS

Bacaan lain:
Langka namun mematikan: Amoeba pemakan otak
Orang overweight memiliki otak "10 tahun lebih tua" daripada orang normal
Ternyata otak masih bekerja meskipun tubuh sudah tak bernyawa

Sumber:
https://www.scientificamerican.com/article/a-vastly-underdiagnosed-brain-disorder-that-brings-frequent-tears/
https://link.springer.com/article/10.1007/s12325-011-0031-3
http://www.strokeassociation.org/STROKEORG/LifeAfterStroke/RegainingIndependence/EmotionalBehavioralChallenges/Pseudobulbar-Affect-PBA_UCM_467457_Article.jsp#.WRRcMILbvIU
http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pseudobulbar-affect/symptoms-causes/dxc-20198593