Laporan TB dunia oleh World Health Organisation (WHO) mengestimasikan bahwa sekitar 10,4 juta orang di dunia menderita tuberkulosis (TB), dan membuatnya menjadi salah satu dari penyakit infeksi paling fatal di dunia.

Dari angka ini, 580.000 kasus TB merupakan resisten obat, membunuh hampir sekitar dua juta orang dengan lebih dari 95% kematian terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah.

Terobosan dalam terapi tuberkulosis

Momen signifikan dalam sejarah TB bisa ditemukan pada 12 Mei 2016, dimana WHO di Jenewa mengumumkan regimen terapi baru yang lebih sebentar untuk mengobati pasien TB resisten obat (MDR-TB). Durasi terapi ini adalah sembilan bulan, lebih rendah secara signifikan dibandingkan terapi standar 24-bulan yang digunakan di dunia.

Penelitian Yayasan Damien, dengan menggunakan hasil penelitian Dr. Armand Van Deun, membentuk "Regimen Bangladesh" baru. Regimen terapi sembilan bulan digunakan untuk mengobati 515 pasien dari 2005-2011. Regimen ini sangat berhasil, dengan 84,5% tingkat kesembuhan dibandingkan dengan terapi konvensional 24 bulan, yang berhasil menyembuhkan sekitar 50% pasien.

Deklarasi ini dibuat untuk menjawab perlunya mengembangkan outcome terapi baru untuk MDR-TB – kegawatdaruratan kesehatan yang terus berkembang. Diestimasikan bahwa ada beberapa pasien dengan MDR-TB tidak sulit di sepuluh negara berbeda. Setiap tahunnya, diestimasikan bahwa 480.000 orang menderita MDR-TB – dan jumlah ini terus meningkat.

Penelitian dari regimen terapi baru

Penelitian STREAM dilakukan untuk mengetahui apakah regimen terapi sembilan bulan yang memberikan angka kesembuhan 80% selama program pilot di Bangladesh bisa memberikan keberhasilan serupa di sistem pengaturan lain. Etiopia, Mongolia, Afrika Selatan dan Vietnam berpartisipasi dalam penelitian tahap pertama yang hanya terdiri dari 424 pasien.

Tim peneliti STREAM memulai penelitian tahap kedua pada bulan Maret 2016, yang disetujui oleh Federal Drug Administration (FDA) dan European Medicines Agency (EMA).

Pada tahap kedua, yang terdiri dari 1.155 pasien, pengacakan meliputi dua regimen tambahan, yang kemudian bisa dibandingkan ke penelitian tahap pertama dengan regimen sembilan bulannya. Regimen kontrol WHO kemudian juga dilanjutkan ke tahap kedua. Kedua regimen terapi baru ini baru-baru ini sudah memasukkan obat baru yang disebut bedaquiline (diproduksi oleh Janssen Pharmaceuticals).

Regimen pertama secara keseluruhan hanya meliputi obat oral dimana obat injeksi yang sebelumnya digunakan untuk regimen tahap pertama – disebut kanamycin – disubstitusi dengan bedaquiline pada penelitian tahap kedua. Regimen baru kedua hanya terdiri dari durasi regimen enam bulan, dimana kanamycin hanya diberikan selama dua bulan.

Hasil dari penelitian STREAM tahap kedua akan dipublikasikan pada 2021.

Untuk menyimpulkannya, kerja keras Armand Van Deun dan koleganya dari Yayasan Damien dan The Union menghasilkan harapan regimen terapi MDR-TB yang lebih pendek dan efektif. Tampaknya ini seperti keuntungan besar untuk ratusan dan ribuan orang yang akhirnya bisa melawan penyakit ini, yang lebih buruk dari keganasan manapun dan yang terapinya cukup panjang dan memiliki efek simpang toksik. MIMS

Bacaan lain:
Kebanyakan tuberkulosis mengalami resistensi obat karena transmisi manusia
Apakah WHO secara tidak sengaja tidak memasukkan TB dari daftar prioritas?
WHO mengumumkan 12 superbug yang bisa menjadi ancaman terbesar dalam kehidupan manusia

Sumber:
http://www.tbfacts.org/bangladesh-regimen/
http://www.theunion.org/news-centre/news/world-health-organization-recommends-shortened-nine-month-treatment-regimen-for-mdr-tb-patients
http://www.theunion.org/what-we-do/research/clinical-trials
http://err.ersjournals.com/content/25/139/29