Mesoblast Ltd mengumumkan bahwa data hasil penelitian klinis tahap menengah pada terapi eksperimental stem sel menunjukkan efektivitas yang secara signifikan dapat mengurangi gejala dan aktivitas penyakit pada pasien rheumatoid arthritis (RA) yang  berhenti merespon obat bioteknologi komersial. Temuan ini memiliki banyak implikasi dalam pengembangan terapi baru yang efektif terhadap rheumatoid arthritis.

Wanita lebih rentan terhadap gangguan autoimun ini

Rheumatoid arthritis (RA) adalah salah satu gangguan rematik autoimun yang paling banyak diderita di dunia, dengan jumlah penderita sekitar 23,7 juta orang. Di Indonesia sendiri, jumlah penderita rematik di Indonesia adalah 32,2% dari jumlah total Indonesia. Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi Jawa Barat, Papua Barat serta Nusa Tenggara Timur dengan distribusi proporsi rematik terbesar terdapat di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

RA merupakan suatu kondisi kronis di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sel sehat –  menyebabkan peradangan dan pembengkakan sendi yang menyakitkan serta dapat terjadi pada bagian tubuh lainnya seperti kulit, mata, dan paru-paru walaupun jarang. Tingkat keparahan gejala RA beragam – dapat bermanifestasi sebagai kerusakan lebih lanjut pada tulang rawan dan tendon, yang mengakibatkan sendi tidak berfungsi; sebaliknya, gejalanya bahkan mungkin sama seperti kelelahan tak berkesudahan dan kekakuan sendi ringan. Akibatnya, beberapa orang mungkin tidak menyadari tengah menderita RA untuk waktu yang lama.

RA lebih banyak diderita wanita, dengan persentase sebesar 75% dari seluruh pasien, dan biasanya dimulai antara usia 20 hingga 45 tahun. Penyebab pasti RA masih belum diketahui, walaupun tampaknya terdapat kecenderungan genetik pada penyakit ini.

Saat ini, terapi RA terdiri dari obat untuk menekan sistem imunitas tubuh dan meminimalkan inflamasi, serta obat penghilang rasa sakit. Biaya pengobatan pada umumnya akan meningkat seiring dengan berjalannya waktu, dan terapi yang menekan sistem imunitas tubuh tidak dapat menjadi solusi jangka panjang untuk RA, karena respon obat akan berangsur-angsur hilang.

Meskipun demikian, terapi biologis konvensional tidak memberikan efek pada sepertiga pasien, baik dengan tidak memberikan cukup respon atau pasien tidak bisa mentoleransi obat tersebut. Dengan demikian, dibutuhkan terapi baru untuk meringankan RA.

Terapi baru untuk melawan RA

Gejala dan perkembangan RA muncul akibat sel darah putih pemicu inflamasi dan sel T yang diaktivasi sistem imunitas tubuh sehingga terjadi aktivasi beberapa jalur sitokin pemicu inflamasi; artinya, terjadi pengaktifan berbagai jenis protein kecil yang memberi sinyal pada sel untuk meradang. Dengan kata lain, ada lebih dari satu cara untuk mengirimkan pesan ke sel agar meradang.

Terapi sekarang bekerja dengan menargetkan satu jalur transmisi pengantar 'pesan inflamasi' dengan menghambat satu jenis protein, tetapi tidak menargetkan lebih dari satu protein pada waktu yang sama. Terapi mesoblast, di sisi lain, dapat menghambat beberapa jenis protein penyebab inflamasi. Dengan demikian, gejala yang dirasakan pasien pun dapat dihilangkan.

Harapan baru bagi pasien yang berhenti merespon obat konvensional

Perusahaan di Melbourne menciptakan terapi intravena MPC-300-IV, produk pertama yang berisi 300 juta Sel Prekursor Mesenkim (Mesenchymal Precursor Cells/MPC). Hasil percobaan fase 2 pada 48 pasien, selama 12 minggu dianggap sebagai terapi yang dapat ditoleransi dengan baik tanpa efek samping serius maupun gangguan yang berhubungan dengan infus.

ACR digunakan sebagai skala untuk mengukur perubahan gejala RA. Jika pasien mengalami penurunan gejala RA sebesar 20%, percobaan dikatakan telah mencapai ACR20. Pada pasien yang sebelumnya pernah diobati dengan setidaknya satu obat biologis, ACR20 berhasil dicapai pada 55% subjek yang menerima infus 2 juta sel per kilogram berat badan. Pada pasien yang telah menerima pengobatan dengan setidaknya satu obat biologis tanpa infus, maka hanya 33% yang mencapai ACR20.

Ada istilah yang digunakan untuk tingkat perbaikan lebih tinggi, ACR70, saat pasien mengalami penurunan gejala sebesar 70%. Hasil ini dicapai pada 36% subjek setelah diberikan satu infus terapi Mesoblas, dibandingkan dengan kelompok plasebo yang tidak menunjukkan perbaikan. Industri bioteknologi juga mengklaim bahwa terapi sel dapat memperbaiki fungsi fisik pasien dan mengurangi keseluruhan aktivitas penyakit.

Menurut sebuah pernyataan yang dibuat oleh Dr Allan Gibofsky, seorang spesialis rheumatologi di Rumah Sakit untuk Operasi Khusus, New York, terapi infus sel Mesoblas 'berpotensi untuk memenuhi kebutuhan medis utama‘ pasien yang tidak mendapatkan manfaat terapi biologis konvensional. Ada dua efek terapi baru RA ini – mengurangi rasa sakit dan menghentikan penyakit ini agar tidak bertambah parah secara bersamaan.

Bagi Mesoblas, yang 14,6%-nya dimiliki oleh Teva Pharmaceutical Industries, tantangan sesungguhnya terletak pada pendanaan untuk mengembangkan terapi ini. Industri ini berencana mencari mitra untuk mendukung percobaan Tahap 3 yang lebih besar dari terapi ini. MIMS

Bacaan lain:
Osteoartritis bisa dicegah – dan tidak berhubungan dengan penuaan, kata penelitian
Hipotalamus, bagian kecil di otak yang mengontrol proses penuaan
Orang overweight memiliki otak "10 tahun lebih tua" daripada orang normal

Sumber:
http://www.asiabiotech.com/publication/apbn/13/english/preserved-docs/1312/0058_0059.pdf
https://www.singhealth.com.sg/PatientCare/ConditionsAndTreatments/Pages/Rheumatoid-Arthritis.aspx
http://www.channelnewsasia.com/news/health/mesoblast-cell-treatment/3026880.html
http://www.afr.com/business/health/biotechnology/mesoblast-seeks-partner-to-develop-rheumatoid-arthritis-stem-cell-treatment-20160809-gqoiuz
http://www.mesoblast.com/product-candidates/immune-mediated-inflammatory-conditions/rheumatoid-arthritis
Nainggolan, O. 2009. Prevalensi dan Determinan Penyakit Rheumatik di Indonesia. Majalah Kedokteran Indonesia 59: 587-594.