Tren peraturan kesehatan erat kaitannya dengan teknologi belakangan ini, terutama dengan banyaknya aplikasi telepon pintar, telekomunikasi, database digital, dan lain sebagainya. Dengan cepatnya perkembangan ini, terkadang keamanan data masih banyak dipertanyakan dan penyebaran data juga masih tidak jelas.

Semua orang harus bertanggung jawab dalam menjaga kerahasiaan dan informasi pribadi

Mulai dari pengembang aplikasi hingga rumah sakit pengguna teknologi, semua orang memiliki peran untuk menjaga keamanannya sendiri. Kurt Hagerman, CISO dari firma keamanan cyber Armor Defense mengatakan, "Ada jutaan aplikasi berbeda di luar sana - masalahnya adalah rendahnya batasan untuk memasuki pasar kesehatan."

Salah satu cara untuk mencegah penyebaran informasi adalah melawan masalah ini selama fase perkembangan. Pengembang harus menyadari ketentuan dalam sistem kesehatan untuk memproduksi jenis teknologi yang berhasil.

Rumah sakit bekerja bersama dengan pengembang perlu mengklarifikasi kebijakan perlindungan kesehatan dan sangat penting dalam aplikasi spesifik. "Untuk melindungi kerahasiaan, integritas dan availabilitas, Anda harus membangun peraturan yang harus Anda patuhi. Tetapi perusahaan kecil jarang memahaminya," kata Hagerman.

Di luar edukasi, rumah sakit perlu memastikan keamanan cyber, mempertanyakan pertanyaan yang benar dan meminta jenis keamanan yang akan melindungi informasi kesehatan pasien dari berbagai serangan, lanjutnya.

Persiapan penting pasien

Pertemuan IT Kesehatan Nasional di Singapura mengarahkan ke perkembangan teknologi baru di negara dan pengaruhnya pada pasien. Tujuannya adalah untuk memastikan inovasi yang ditawarkan memberikan nilai ke publik untuk memberikan pelayanan yang baik, murah, dan cepat.

Alat teknologi baru bisa jadi menyulitkan rata-rata orang yang mencari bantuan manusia. Tanpa persiapan di era digital, pasien mungkin tidak mendukung perubahan. Misalnya, di beberapa percobaan 'hidup pintar', subjek lansia menolak sensor dipasang di rumah mereka karena takut kerahasiaan mereka terganggu.

Orang-orang harus diedukasi untuk mengikuti evolusi kesehatan. Dibutuhkan perubahan saat suplai tidak sanggup memenuhi permintaan. Di Singapura, diestimasikan dibutuhkan sekitar 30.000 tenaga kesehatan tambahan antara tahun 2015 dan 2020 dengan peningkatan jumlah warga Singapura yang berusia 65 tahun ke atas.

Untuk meningkatkan cakupan kesehatan, teknologi bisa digunakan untuk menurunkan kebutuhan sumber daya manusia. Misalnya, robot dan alat bisa membantu perawat bangsal untuk mengerjakan pekerjaan mereka dengan lebih cepat dan efisien. Kepintaran buatan bisa menjadi solusi yang menghemat biaya dan telemedicine yang menawarkan kemudahan.

Dokter perlu beradaptasi atas perubahan

Penelitian global, Truth About Doctors, menyebutkan untuk memikirkan kembali komunikasi dokter-pasien karena mereka khawatir akan pengaruh kekuatan dan redistribusi otoritas dokter dalam melakukan hubungan personal dengan pasien mereka. "Dunia kesehatan sudah banyak mengalami perubahan," kata Hilary Gentile, penulis penelitian ketika ia berbicara di Pertemuan Asia-Pasifik baru-baru ini.

"Kami memiliki kesempatan untuk menganalisis data, teknologi, dan kepintaran buatan untuk mendukung dokter dalam efisiensi diagnosis dan manajemen pasien untuk menjadi lebih unggul dibanding yang lainnya. Terutama di Asia, dengan platform telepon pintar dan teknologi terintegrasi. Jika kita bisa memahami sistemnya, kita bisa mendukung dokter untuk menjadi ahli dalam perawatan pasien," lanjut Gentile.

Penelitian menggaris bawahi wilayah kemajuan untuk mengaplikasikan teknologi ke perawatan berkelanjutan. Selama tahap penelitian, diketahui bahwa 53% dari masyarakat berusia 18 hingga 34 tahun percaya bahwa teknologi suatu hari nanti bisa mengambil alih pekerjaan dokter. Nadia Tuma-Weldon, seorang partner dalam penelitian, mendukung integrasi teknologi dalam banyak praktek klinis.

"Kami menemukan bahwa keterbukaan terhadap teknologi sebagai 'partner' lebih tinggi pada dokter di Cina dan Jepang," katanya.

"Ini tidak mengejutkan, karena sudah matangnya pasar di sana dalam aplikasi teknologi baru secara umum. Kondisi ini membuka kesempatan bagi berbagai platform untuk liberasi dokter agar bisa melakukan yang terbaik - mendengarkan, menunjukkan empati, mempelajari dan, yang paling penting ada di sana untuk pasien mereka."

Ahli lain juga menunjukkan pentingnya menunjukkan aspek seperti empati, karena ini merupakan keahlian dokter manusia yang tidak bisa digantikan. Hal ini membuat mereka bisa berhubungan lebih dalam dengan pasien, dimana robot tidak akan pernah bisa menggantikannya. MIMS

Bacaan lain:
'WanaCrypt0r 2.0' menyerang rumah sakit NHS dan menyebabkan kegawat-daruratan nasional
Serangan 'WannaCry' bisa berubah menjadi malpraktek digital di rumah sakit, kata ahli hukum
Satu per tiga obat FDA memiliki masalah keamanan

Sumber:
http://www.healthcareitnews.com/news/how-hospitals-can-avoid-security-pitfalls-health-apps
http://www.straitstimes.com/opinion/st-editorial/prepare-patients-for-digital-healthcare
http://www.campaignasia.com/article/the-truth-about-doctors-global-study-reveals-impact-of-rapid-technology-changes/436801