Teknik yang disebut iCas merupakan teknik yang berhasil dikembangkan dari hasil kolaborasi A*STAR's Genome Institute of Singapore (GIS) dan Nanyang Technological University Singapore (NTU Singapore). Teknik ini mengubah DNA sel hidup dengan presisi lebih baik dibanding metode yang ada sekarang.

iCas merupakan protein yang dikontrol oleh input kimia eksternal, dan menjawab beberapa masalah yang berkaitan dengan pengubahan DNA, CRISPR-Cas, yang dianggap sebagai standar emas.

Membuka pandangan baru mengenai terapi

Dengan tingginya presisi, teknik ini membuat dokter dan peneliti bisa mengembangkan personalisasi pengobatan untuk melawan penyakit dengan pilihan terapi yang sedikit. Penyakit seperti gangguan neurodegeneratif seperti penyakit Huntington, distrofi muskular, dan gangguan darah seperti anemia sickle cell.

Enzim Cas yang ada sekarang, dalam beberapa situasi, bisa mengubah posisi DNA yang kemudian bisa menghasilkan konsekuensi lain dari yang diinginkan. Sebaliknya, pengguna iCas bisa mengontrol aktivitas enzim dan meminimalisir modifikasi DNA dalam sel.

Dr Tan Meng How, peneliti stem sel & biologi regeneratif senior di GIS, dan asisten profesor di Fakultas Kimia dan Teknik Biomedikal menjelaskan bahwa "DNA seperti perintah manual yang memberitahu sel hidup bagaimana cara bekerja, sehingga jika kita menulis ulang perintah ini, kita bisa mengontrol apa yang harus dilakukan sel.

"Protein iCas yang kami temukan bekerja seperti saklar lampu yang bisa dinyala dan matikan sesuka hati. Protein ini juga bekerja lebih baik mengenai respon waktu dan reliabilitasnya," tambahnya.

iCas lebih baik dari CRISPR-Cas

Untuk aplikasi efektif dalam ranah biomedis dan bioteknologi, presisi merupakan hal yang penting, dan dengan demikian, aktivitas protein Cas harus bisa diatur dengan ketat.

Zat kimia yang bekerja mengubah protein iCas adalah tamoxifen, yang biasa digunakan pada pasien kanker payudara. Tanpa tamoxifen, iCas tidak dapat mengubah DNA; ketika diganti dengan tamoxifen, iCas bisa mencapai situs target aksi di DNA.

Penelitian menunjukkan bahwa iCas bekerja lebih baik daripada CRISPR-Cas, karena ia memiliki respon waktu lebih cepat dan kemampuan untuk mengatur kerjanya. Respon waktu yang lebih cepat ini menghasilkan kontrol presisi yang lebih baik saat pengeditan DNA. Dalam jalur pensinyalan sel, iCas dapat dengan pas mencapai sel target dalam jaringan (kontrol sebagian) untuk mengedit DNA pada tahap perkembangan tertentu (kontrol sementara).

Direktur eksekutif GIS, Profesor Ng Huck Hui menjelaskan bahwa "perkembangan ini membuat peneliti memiliki kontrol presisi sehingga ia bisa dengan lebih akurat mengedit DNA, dan bisa membantu peneliti mengedit DNA sel yang termutasi. MIMS

Bacaan lain:
Sensor gerakan untuk meningkatkan kualitas home care pada lansia Singapura dalam penelitian skala pilot
4 media pembuat animasi papan tulis bertema kesehatan
3 cara tenaga kesehatan mencegah onset demensia digital
Perlukah dokter belajar pemrograman?
Terkabulnya harapan seorang anak perempuan 14 tahun untuk diawetkan dengan cryonic


Sumber:
http://phys.org/news/2016-09-singapore-scientists-dna-altering-technology-tackle.html
http://www.asianscientist.com/2016/09/in-the-lab/chemical-inducible-crispr-cas9-system-icas-protein-gene-editing/
http://media.ntu.edu.sg/NewsReleases/Pages/newsdetail.aspx?news=cbf2430b-afa6-462c-bc60-f43646fb20b3