Nyeri punggung bawah (Low Back Pain/LBP) adalah alasan terbanyak yang menyebabkan kunjungan warga Amerika Serikat ke dokter. Nyeri punggung bawah seringkali diklasifikasikan dan diobati berdasarkan durasi gejala, penyebab potensial, ada atau tidak adanya gejala radikular, dan abnormalitas anatomis atau radiografis.

Nyeri punggung bawah akut didefinisikan sebagai nyeri dengan durasi yang berlangsung kurang dari 4 minggu, nyeri punggung subakut berlangsung selama 4-12 minggu, dan nyeri punggung kronis berlangsung selama lebih dari 12 minggu. Nyeri punggung radikular mengakibatkan nyeri pada ekstremitas bawah, parestesia, dan/atau kelemahan dan merupakan akibat dari terjepitnya radiks saraf.

Kebanyakan pasien dengan nyeri punggung akut dapat sembuh dengan sendirinya sehingga tidak memerlukan pengobatan. Untuk pasien yang memerlukan penatalaksanaan medis, nyeri dan disabilitas mengalami perbaikan yang cepat dalam bulan pertama dan pasien dapat kembali bekerja. Akan tetapi, sepertiga dari semua pasien melaporkan nyeri punggung yang menetap setidaknya selama setahun dengan intensitas moderat setelah episode akut, dan 1 dari 5 orang mengeluhkan keterbatasan aktivitas yang bermakna.

American College of Physicians (ACP) telah merilis pembaharuan tatalaksana untuk terapi non invasif pada nyeri punggung bawah nonradikular subakut, akut, dan kronis. Kesimpulannya adalah 3 rekomendasi sebagai berikut.

Rekomendasi 1:

Karena sebagian besar pasien dengan nyeri punggung bawah akut atau subakut dapat membaik seiring waktu tanpa pengobatan, klinisi dan pasien sebaiknya memilih tatalaksana nonfarmakologis dengan modalitas panas superfisial, pemijatan, akupuntur, atau manipulasi spinal. Jika tatalaksana farmakologis dikehendaki, klinisi dan pasien sebaiknya memilih obat-obatan anti inflamasi non steroid (OAINS) atau relaksan otot rangka (contoh eperisone HCl 3x50mg).

Rekomendasi 2:

Untuk pasien dengan nyeri punggung bawah kronis, klinisi dan pasien sebaiknya memulai pilihan tatalaksana nonfarmakologis dengan olahraga, rehabilitasi multidisiplin, akupuntur, pengurangan stres pikiran, tai chi, yoga, latihan kontrol motorik, relaksasi progresif, biofeedback elektromiografi, terapi laser derajat rendah, operant therapy, terapi perilaku kognitif, atau manipulasi spinal.

Rekomendasi 3:

Pada pasien dengan nyeri punggung bawah kronis yang responnya tidak adekuat terhadap terapi nonfarmakologis, klinisi dan pasien sebaiknya mempertimbangkan terapi farmakologis menggunakan OAINS sebagai terapi lini pertama, atau tramadol atau duloxetine sebagai terapi lini kedua. Klinisi sebaiknya hanya mempertimbangkan opioid sebagai pilihan pada pasien yang gagal pada terapi yang telah disebutkan dan hanya apabila keuntungan potensial melebihi risiko masing-masing individu dan setelah mendiskusikan risiko-risikonya (seperti kecanduan atau overdosis aksidental) dan keuntungan nyata dengan pasien.

Pada penelitian terbaru ini, acetaminophen (parasetamol) dan antidepresan trisiklik (seperti amitriptilin) tidak lagi dipertimbangkan dalam tatalaksana nyeri punggung bawah. Selain itu, analgetik topikal, injeksi epidural, dan OAINS selektif COX-2tidak dibahas dalam panduan ini. MIMS

Bacaan lain:
Depresi menjadi penyebab disabilitas pertama di dunia
Penggunaan terapi sinar untuk pengobatan
Nyeri dada tak beralasan mungkin muncul karena faktor psikososial