Penyediaan jasa pelayanan kesehatan merupakan hal yang tidak murah dan memberikan laba yang sedikit untuk rumah sakit. Selain itu, terdapat tagihan rumah sakit yang belum dibayar dan semakin bertambah banyak seiring dengan berjalannya waktu. Hal ini mengakibatkan tekanan finansial dan kesulitan untuk meningkatkan pelayanan.

Selain itu seiring dengan peningkatan biaya hidup, biaya pelayanan kesehatan juga mengalami peningkatan sehingga menyebabkan banyak pasien tidak mampu membayar tagihan mereka dan menyebabkan penumpukan jumlah utang biaya pelayanan kesehatan.

Rumah sakit bergumul dengan kredit macet

Rumah sakit semakin banyak memiliki kredit macet dan kondisi ini masih akan terus berlanjut. Sekarang ini, rumah sakit lebih sering mengalami kesulitan ketika menagih pembayaran dari pasien yang tertanggung asuransi dan pasien dari kelas menengah ke bawah yang tidak mampu membayar tagihan rumah sakit.

Jaringan rumah sakit terbesar di Illinois yaitu Advocate Health Care, mengamati bahwa jumlah utang yang tidak dapat dikumpulkan meningkat sebanyak lebih dari 22% pada tahun 2016, yaitu 269.5 juta USD atau sekitar 5% dari seluruh pendapatan. Kenaikan ini berhubungan dengan peningkatan jumlah nominal premi asuransi dan tanggung jawab finansial pasien secara keseluruhan dalam paket penawaran asuransi, tutur David Szandzik, wakil presiden bagian siklus pendapatan untuk Downers Grove-based Advocate.

Struggling with bad debt burden on the rise: Hospitals are working overtime to get money from patients – and gotten much more aggressive in trying to collect at time of service, because their ability to collect on self-pay amounts decreases significantly when the patient leaves the building. Photo credit: Crain’s Chicago Business
Struggling with bad debt burden on the rise: Hospitals are working overtime to get money from patients – and gotten much more aggressive in trying to collect at time of service, because their ability to collect on self-pay amounts decreases significantly when the patient leaves the building. Photo credit: Crain’s Chicago Business

Swedish Covenant Hospital, salah satu rumah sakit komunitas terbesar dan tertua di Chicago, mengalami peningkatan jumlah kredit macet sebesar 71%, yaitu 11.2 juta USD pada tahun 2015. Sementara di Lurie Children's Hospital, kredit macet meningkat sebanyak 22%, menjadi 11.5 juta USD pada tahun 2015. Menurut studi yang dilakukan oleh TransUnion, sebuah perusahaan yang membantu rumah sakit mengumpulkan tagihan yang belum dibayar, sebanyak lebih dari dua per tiga pasien tidak membayar seluruh tagihan rumah sakit dan angka tersebut dapat meningkat menjadi 95% pada tahun 2020. TransUnion menemukan bahwa jumlah pasien yang tidak membayar tagihan rumah sakit sebesar $500 atau kurang pada kurun waktu dua tahun lalu berjumlah kurang dari separuh. Perusahaan tersebut juga menghubungkan peningkatan tersebut dengan jumlah nominal premi asuransi dan tanggung jawab pasien yang meningkat sekitar 10%-30% selama beberapa tahun terakhir.

Rumah sakit justru bekerja melebihi batas waktu untuk mendapatkan uang dari pasien dan menjadi lebih agresif dalam menagih biaya saat waktu pelayanan sebab kemampuan mereka untuk menagih akan berkurang secara signifikan ketika pasien sudah meninggalkan gedung rumah sakit.

Bisnis penagihan utang

Rumah sakit sudah banyak berusaha untuk mengatasi masalah utang ini, misalnya dengan meningkatkan jumlah staf untuk menagih dan menghubungi pasien untuk mengatur rencana pembayaran, dan menjual tagihan kedaluwarsa kepada penagih utang. Untuk meningkatkan pendapatan, pemimpin rumah sakit besar juga sudah tidak lagi menggunakan jasa perantara dan mengurus masalah mereka sendiri.

Selain itu, beberapa pemilik rumah sakit besar di Amerika Serikat bahkan memutuskan untuk terjun ke dalam bisnis penagihan utang akibat beban finansial.

Tenet Healthcare Corp, salah satu operator rumah sakit berbasis laba keuntungan misalnya, menjual rumah sakit untuk membantu mengurangi beban utang, tetapi menyimpan rumah sakit tersebut sebagai pengguna jasa penagih utang yang dimilikinya. (Collections agency, Central Financial Control – milik Tenet Healthcare Corp – merupakan nama anak perusahaan Conifer yaitu Syndicated Office Systems LLC.)

Menurut ahli ekonomi dari MIT, Northwestern University dan University of Chicago, tagihan utang rumah sakit yang terlambat di Amerika Serikat berjumlah sekitar 75 milyar USD, tersebar diantara 43 juta orang dan ditambah dengan potongan yang akan datang terhadap Medicare, mereka memperkirakan bahwa sekitar 60% rumah sakit tidak memiliki keuntungan pada tahun selanjutnya.

Hal ini menandakan bahwa pelayanan pasien telah menduduki kursi belakang sebab institusi yang semula memiliki tujuan utama untuk melayani masyarakat sekarang telah mengubah utang pasien menjadi laba.

The collections agency, Central Financial Control (owned by Tenet Healthcare Corp), is the operating name of a Conifer subsidiary called Syndicated Office Systems LLC. Photo credit: Tenet/Bloomberg
The collections agency, Central Financial Control (owned by Tenet Healthcare Corp), is the operating name of a Conifer subsidiary called Syndicated Office Systems LLC. Photo credit: Tenet/Bloomberg

Lain dengan kasus di Indonesia

Sementara jika Amerika Serikat mengubah pelayanan pasien menjadi bisnis yang menguntungkan, hal demikian tidak terjadi di Indonesia – bukan rumah sakit yang merugi melainkan sistem kesehatan pemerintah atau lebih spesifiknya program BPJS Kesehatan.

Di akhir tahun 2017 silam, diketahui bahwa BPJS Kesehatan – sistem asuransi kesehatan nasional di Indonesia – masih mengalami defisit, bahkan hingga ke angka yang mencengangkan, yaitu sembilan triliun rupiah.

Asisten Deputi Direksi Bidang Pengelolaan Fasilitas Kesehatan Rujukan BPJS Kesehatan, Beno Herman, mengatakan bahwa "Defisit atau ketidaksesuaian antara iuran dengan pelayanan kesehatan (mismatch) terjadi karena iuran yang diterima tidak sebanding dengan biaya yang kami keluarkan."

Selain penerimaan iuran yang tidak bertambah banyak, ia juga menyinggung moral hazard peserta JKN-KIS utamanya Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU). Ia menyinggung banyak peserta JKN-KIS yang ketika sakit dan kemudian sudah mendapatkan pelayanan kesehatan ternyata tidak membayar lagi.

"Padahal, biaya banyak dihabiskan oleh PBPU yang ketika sakit, masuk (RS), dan tidak membayar lagi. Itu masalah kita," ujarnya.

Meskipun begitu, Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Mardiasmo memastikan jika pada tahun 2018 ini BPJS Kesehatan tidak akan mengalami defisit lagi. Pasalnya pada tahun depan, akan ada dana urunan dari daerah yang akan membantu klaim dari BPJS Kesehatan.

Adapun dana iuran tersebut nantinya akan berasal dari pajak rokok daerah. Tak hanya itu, pemerintah juga akan memotong anggaran daerah yang menunggak pembayaran BPJS ke rumah sakit.

Khusus pajak rokok, nantinya pihaknya akan memotong pajak dari pendapatan yang daerah. Dimana peraturan mengenai pemotongan tersebut tengah disusun dalam Peraturan Presiden yang akan segera dikeluarkan dalam waktu dekat.

"Nah ini nanti langsung bisa dipotong oleh Kemenkeu, setiap daerah pasti ada yang merokok. Itu kalau ditotal mencapai Rp5,1 triliun," jelasnya.

Sementara untuk pemotongan anggaran daerah, memperkirakan ada sekitar Rp 1,3 triliun yang berasal dari seluruh daerah di Indonesia. Dengan dana tersebut, diprediksi akan menambah dana BPJS Kesehatan agar tidak lagi mengalami defisit pada tahun 2018 ini.

"Ada dana sebesar Rp1,3 triliun bisa menambal defisit dan menambah arus kas BPJS Kesehatan," ucapnya.

Sebagai informasi, pemerintah telah memberikan dana sebesar Rp 7,8 triliun untuk menutupi defisit dari BPJS Kesehatan pada akhir November lalu. Dimana Rp 3,6 triliun digelontorkan pada 30 November 2017 lalu dan Rp 4,2 triliun pada 8 November 2017.

"Jadi total Rp7,8 triliun, sudah lewat dari defisit. Jadi BPJS Kesehatan sudah tidak boleh mengeluh. 2018 nanti beres. Semuanya sudah lunas," jelasnya. MIMS

Bacaan lain:
Utang mahasiswa fakultas kedokteran bisa berkontribusi kepada kelelahan fisik
Jika diberikan pilihan kedua, apakah Anda akan memilih dunia medis lagi?
Mempersiapkan pensiun dalam tingkatan karir tertentu

Sumber:
https://www.bloomberg.com/news/features/2017-12-18/a-hospital-giant-discovers-that-collecting-debt-pays-better-than-curing-ills
http://www.benefitspro.com/2017/12/20/hospitals-new-profit-strategy-help-others-collect?slreturn=1514945581&page_all=1
https://thehustle.co/hospital-debt-collection/
https://www.thestar.com.my/news/nation/2017/04/15/foreigners-owe-rm505mil-they-make-up-nearly-20-of-outstanding-medical-bills/
http://www.freemalaysiatoday.com/category/nation/2017/03/22/hard-to-collect-hospital-dues-from-foreigners/
http://www.chicagobusiness.com/article/20170324/ISSUE01/170329894/feel-like-the-hospital-is-shaking-you-down-over-that-bill-it-probably-is
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/12/20/p190rh423-bpjs-kesehatan-defisit-rp-9-triliun-ini-penyebabnya
https://economy.okezone.com/read/2017/12/07/320/1827020/kemenkeu-pastikan-tahun-depan-bpjs-kesehatan-bebas-dari-defisit