Sumpah Dokter Indonesia adalah sumpah yang dibacakan oleh seseorang yang akan menjalani profesi dokter Indonesia secara resmi. Sumpah Dokter Indonesia didasarkan atas Deklarasi Jenewa (1948) yang isinya menyempurnakan Sumpah Hippokrates.

Hipokrates sendiri hidup sekitar tahun 460-377 sebelum masehi. Banyak yang mengaitkan beliau dengan Asclepiad, sebuah kelompok penyembuh pada masa itu. Nama Asclepiad berasal dari Asclepius, Dewa Penyembuh yang juga disebut kakek buyut Hipokrates.

Telah banyak tulisan kedokteran yang dikaitkan dengan Hipokrates. Lebih dari 60 tulisan yang disebut sebagai Corpus Hipokrates disebut sebagai karya Hipokrates. Namun, hal ini masih kontroversial, dikarenakan tulisan-tulisan ini ditulis sekitar 510-300 sebelum masehi, maka tidak semua tulisan ini ditulis Hipokrates.

Fakta-fakta memperlihatkan bahwa Hipokrates mungkin bukanlah penulis dari sumpah yang menyandang namanya itu. Selain itu, dunia kedokteran dewasa ini tidak selalu menggunakan pedoman ini sebagaimana yang ditulis pada mulanya.

Apakah kita tahu siapa sebenarnya penulis sumpah kuno ini? Dan, meskipun kita mengetahuinya, apakah sumpah ini memiliki makna bagi kita dewasa ini?

Apakah memang Hipokrates penulisnya?

Ada sejumlah alasan untuk mempertanyakan apakah Hipokrates yang menulis sumpah itu. Salah satunya ialah bahwa sumpah itu dimulai dengan permohonan kepada sejumlah dewa.

Padahal Hipokrates dipandang sebagai orang pertama yang memisahkan kedokteran dari agama dan yang mencari penyebab fisik ketimbang penyebab supernatural untuk penyakit.

Lagi pula, beberapa hal yang dilarang dalam sumpah itu tidak bertentangan dengan caranya kedokteran dipraktekkan pada zaman Hipokrates. Misalnya, aborsi dan bunuh diri tidak dikecam oleh hukum atau oleh kebanyakan standar agama pada zaman Hipokrates. Selain itu, orang yang mengucapkan sumpah berjanji untuk tidak melakukan pembedahan. Padahal teknik pembedahan menjadi bagian dari koleksi Hipokrates, kumpulan karya tulis medis yang sering kali dianggap sebagai karya Hipokrates dan para penulis lain pada zaman dahulu.

Di tengah situasi kontroversial, pandangan Galen cukup memberikan pencerahan. Galen adalah penyembuh Yunani terkenal dan terakhir. Beliau menguasai anatomi, fisiologi, neurologi, farmakologi, dan patologi. Dalam pendidikan Kedokteran, beliau mengacu pada para pendahulunya dari Yunani Kuno. Beliau menyadari adanya keraguan tentang Corpus Hipokrates. Beliau memastikan salah satu tulisan ini, De Natura Hominis (The Nature Of Man) memang bukan ditulis Hipokrates, melainkan Polybus. Namun kepastian ini justru menguatkan Hipokrates. Karena polybus adalah menantu Hipokrates. Polybus bahkan mewarisi tugas Hipokrates dalam mendidik para penyembuh muda. Fakta yang paling penting adalah tidak sedikit pun Polybus mengubah doktrin Hipokrates dalam tulisannya.

Jadi, meskipun pertanyaan itu masih menjadi topik debat ilmiah, tampaknya mungkin saja bahwa sumpah Hipokrates sebenarnya tidak ditulis oleh Hipokrates. Filsafat yang dinyatakan dalam sumpah tampaknya cocok dengan filsafat para pengikut Pythagoras dari abad keempat SM, yang mendukung standar kesucian hidup dan yang menentang prosedur pembedahan.

Berubah mengikuti perkembangan zaman modern

Dalam banyak versi sumpah ini, konsep yang tidak lagi mencerminkan praktek kedokteran modern telah dihapus, sedangkan standar lain yang penting bagi masyarakat kontemporer telah disisipkan. Misalnya, prinsip otonomi pasien mungkin sangat penting bagi praktek pengobatan dewasa ini, namun hal itu tidak ada padanannya dalam pengobatan Yunani kuno dan tidak menjadi bagian dari sumpah Hipokrates. Konsep hak-hak pasien menjadi bagian penting dalam banyak deklarasi yang sekarang digunakan.

Selain itu, hubungan dokter-pasien telah berubah sejalan dengan semakin pentingnya konsep-konsep, misalnya konsep persetujuan yang terinformasi. Jadi, dapat dipahami bahwa hanya sedikit sekolah kedokteran yang masih menjalankan sumpah Hipokrates dalam bentuk aslinya.

Inilah naskah terakhir dari Deklarasi Jenewa. Dan mungkin paling mungkin menjadi sumber adaptasi Sumpah Dokter di Indonesia. Lafal Sumpah Dokter Indonesia pertama kali digunakan pada 1959 dan diberikan kedudukan hukum dengan Peraturan Pemerintah No.69 Tahun 1960. Sumpah mengalami perbaikan pada 1983 dan 1993. Saat ini lafal Sumpah Dokter yang dipakai sebagai berikut :

  • Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;
  •  Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya;
  • Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang berhormat dan ber­moral tinggi, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;
  • Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;
  • Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerja­an saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter;
  • Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;
  • Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan;
  • Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian, atau kedudukan sosial;
  • Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;
  • Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan ke­dokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;
  • Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan memper­taruhkan kehormatan diri saya.

Nilai suatu sumpah

Survei pada tahun 1993 mendapati bahwa kebanyakan sumpah yang digunakan berfokus pada komitmen para dokter kepada pasien mereka, menuntut para calon dokter agar berjanji untuk mengurus pasien-pasien mereka sebaik-baiknya. Dengan membuat pernyataan demikian, perhatian dipusatkan pada prinsip-prinsip moral tinggi yang mendasar bagi bidang medis.

Dalam sebuah editorial yang diterbitkan oleh The Medical Journal of Australia, Profesor Edmund Pellegrino menulis, ”Barangkali, bagi banyak orang, sumpah kedokteran sekarang ini seperti secuil konsep kuno yang pecah. Namun, cukup banyak dari konsep itu masih ada dalam hati nurani profesi kedokteran guna mengingatkan kita bahwa jika kita melupakannya sama sekali, praktek kedokteran akan menjadi bisnis komersial, industri, atau proletar.”

Apakah sumpah Hipokrates atau deklarasi modern yang dibangun di atas sumpah itu masih relevan dewasa ini kemungkinan besar akan terus menjadi topik perdebatan akademis. Namun, apa pun hasilnya, komitmen para dokter untuk merawat orang sakit tetap pantas dihargai.

Sumpah Hipokrates sebelum direvisi

Sumpah Hipokrates masih digunakan sebagai Sumpah Dokter Indonesia (Sumber: Weixing.tistory.com)
Sumpah Hipokrates masih digunakan sebagai Sumpah Dokter Indonesia (Sumber: Weixing.tistory.com)


Sebagaimana diterjemahkan oleh Ludwig Edelstein
Saya bersumpah demi Apollo sang Tabib, demi Asklepius dan Hygieia dan Panaceia dan semua dewa-dewi, sebagai saksi saya, bahwa sesuai dengan kemampuan dan penilaian saya, saya akan memenuhi sumpah dan janji berikut ini:

Menganggap guru yang mengajar seni ini sama seperti orang tua saya dan hidup bekerja sama dengannya, dan bila ia perlu uang saya akan memberinya sebagian dari milik saya, dan menganggap anak-anaknya sederajat dengan saudara-saudara lelaki saya dalam garis keturunan keluarga saya dan mengajarkan kepada mereka seni ini—jika mereka ingin mempelajarinya—tanpa menuntut bayaran atau perjanjian; untuk membagikan instruksi lisan dan peraturan dan semua pembelajaran lainnya kepada putra-putra saya dan putra-putra guru yang mengajar saya serta kepada murid-murid yang telah menandatangani perjanjian dan telah mengambil sumpah sesuai hukum kedokteran, tetapi tidak kepada orang lain.

Saya akan menjalankan pola makan demi kebaikan si sakit menurut kemampuan dan penilaian saya; saya akan menjauhkan mereka dari celaka dan ketidakadilan.

Saya tidak akan memberikan obat mematikan kepada siapa pun yang memintanya, juga tidak akan memberikan saran untuk maksud ini. Saya juga tidak akan memberikan obat yang mengakibatkan aborsi kepada seorang wanita. Dalam kemurnian dan kesucian, saya akan mempertahankan kehidupan saya dan seni saya.

Saya tidak akan melakukan pembedahan, meski terhadap penderita batu endapan, tetapi saya akan mundur agar ahli bedah mengerjakan ini.

Di rumah mana pun yang saya kunjungi, saya akan datang demi kebaikan si sakit, menjaga diri bebas dari semua ketidakadilan yang disengaja, dari semua tindakan yang mengganggu dan khususnya hubungan seks dengan wanita ataupun dengan pria, baik mereka merdeka maupun budak.

Apa yang mungkin saya lihat atau dengar dalam perawatan atau bahkan di luar perawatan sehubungan dengan nyawa manusia, yang tidak boleh disebarluaskan, saya akan merahasiakannya.

Bila saya memenuhi sumpah ini dan tidak melanggarnya, bolehlah saya menikmati kehidupan dan seni kedokteran, dihormati dengan ketenaran oleh semua orang dan di setiap waktu; bila saya menyimpang darinya atau bersumpah palsu, biarlah kebalikan dari semua ini menjadi nasib saya. MIMS

Bacaan lain:

Ketika pasien tidak memahami maksud dokter
10 situasi yang malas dihadapi dokter umum
Penelitian menemukan 82% dokter meresepkan atau memberi terapi yang tidak perlu

Sumber:
https://wol.jw.org/id/wol/d/r25/lp-in/102004288#h=26
http://anggadewantara.com/sumpah-dokter-dahulu-dan-saat-ini/
https://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Dokter_Indonesia