Di tahun 1796, saat masih duduk di bangku Fakultas kedokteran, Edward Jenner dari Gloucestershire menyadari bahwa pemerah sapi yang berkontraksi dengan penyakit disebut cacar sapi (cowpox), yang menyebabkan melepuhnya ambing sapi, tidak menderita cacar air. Cacar air menyebabkan erupsi kulit yang parah dan demam – sudah memakan banyak nyawa. Cacar sapi, di sisi lain, cenderung tidak mengganggu dan hanya menghasilkan gejala ringan pada pemerah sapi.

Setelah observasi, di bulan Mei 1796, Jenner menguji hipotesisnya sendiri dengan mengambil cairan dari lepuhan cacar sapi Sarah Nelmes dan menggoreskannya ke kulit James Phipps, seorang anak dari tukang kebunnya. Phipps kemudian mengalami demam dan ruam, tetapi kemudian sembuh. Kemudian di bulan Juli tahun itu, Jenner melakukan inokulasi lagi pada Phipps – tetapi tidak memberikan efek apapun. Tidak ada penyakit yang muncul, sehingga disimpulkan bahwa Phipps kebal terhadap cacar air.

Para dokter dan peneliti mereplikasi intervensi Jenner – Bapak imunologi – dan keberhasilannya dalam eradikasi cacar air dari tahun 1966 hingga 1977. Di tahun 1980, cacar air, yang sudah ditemukan sekitar 3.000 tahun dan berhasil membunuh nyawa miliaran orang di abad 20an, berhasil dieradikasi dari dunia. Vaksin ini kemudian terus digunakan seiring dengan berjalannya waktu, dengan vaksin modern disebut juga sebagai vaccinia, dan seiring berjalannya waktu, vaksin tetap memiliki host yang tidak jelas.

Cacar kuda, bukan cacar sapi, dalam vaksin cacar air

Sejarawan dan dokter percaya bahwa vaksin cacar air dibuat dari virus cacar sapi, keluarga dari virus cacar air. Namun, masih ada pertanyaan yang belum terjawab mengenai sumber asli virus Jenner. Ia sendiri mengatakan bahwa kemungkinan cacar kudalah yang menginfeksi sapi.

Penemuan terbaru, dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine memperjelas masalah ini. Penelitian yang dilakukan di Institut Robert Koch di Berlin, Jerman, berhasil menganalisis 1902 vial berisi salah satu vaksin cacar air paling awal. Vaksin ini diproduksi oleh H.K. Mulford Co. dari Philadelphia – yang sekarang adalah Merck & Co. – dan menemukan bahwa virus yang digunakan dalam inokulasi tersebut berhubungan dengan cacar kuda, bukan cacar sapi. Sekuens ini ditemukan memiliki 99,7% kemiripan.

The 1902 smallpox vaccine produced by H.K. Mulford & Co. that was analysed to reveal a virus origin of horsepox. Photo credit: The New England Journal of Medicine/STAT News
The 1902 smallpox vaccine produced by H.K. Mulford & Co. that was analysed to reveal a virus origin of horsepox. Photo credit: The New England Journal of Medicine/STAT News


Clarrisa Damaso, seorang ahli dalam virologi dan molekular biologi dari Universitas Federal Rio de Janeiro, Brazil dan penulis penelitian mengatakan bahwa ada kemmungkinan virus yang digunakan terus diubah-ubah seiring berjalannya waktu. Cacar sapi, cacar kuda dan cacar air disebabkan oleh tiga virus berbeda tetapi dari genus yang sama. Meskipun demikian, vaccinia modern tidak berhubungan dengan cacar sapi atau cacar kuda.

Penemuan ini menjadi bukti "dugaan peran cacar kuda dalam asal mula vaksin cacar air, peran yang ditemukan oleh Jenner sendiri," sebut penelitian.

Membuat ulang cacar air

Sebelum penemuan yang sudah dipublikasi mengenai sumber vaksin cacar air dalam New England Journal of Medicine, peneliti di Kanada berhasil mensintesis virus cacar kuda dengan biaya CAD100.000 dalam waktu setengah tahun dan potongan genetik lain disimpan di dalamnya. Virus dibentuk dengan tujuan untuk membentuk jalur produksi vaksin yang lebih baik dan bahkan terapi kanker.

Meskipun demikian, dalam mensintesis virus cacar kuda, kelompok yang dipimpin oleh ahli virologi David Evans di Universitas Alberta di Edmonton, Canada juga menciptakan ulang proses eradikasi virus cacar air – alasan yang melatar belakangi mengapa penelitian Evans ditolak dan tidak dipublikasikan. World Health Organization (WHO) melarang pembentukan genom utuh cacar air atau mengembang biakan virus cacar air dalam laboratorium.

Hingga sekarang, virus cacar air hanya bisa ditemukan dalam dua fasilitas – satu di Georgia, Amerika dan satu lagi di Novosibirsk, Rusia – dan telah terbukti digunakan hanya untuk pengembangan penelitian, khususnya untuk penelitian kanker pankreas dan prostat. Bahkan tanpa akses kepada virus cacar air, penelitian Evans menunjukkan bahwa cacar air bisa dengan mudah kembali menyerang manusia atau digunakan dalam bioterorisme.

Penelitian juga menunjukkan "adanya tantangan penting, pembuktian konsep bahwa akan ada sesuatu yang bisa dilakukan dengan sintesis virus," ungkap ahli bioetika Nicholas Evans dari Universitas Massachusetts. MIMS

Bacaan lain:
Eksperimen pada manusia: Sebuah pelajaran dari perjalanan sejarah
Virus baru H7N9: Virus yang resisten obat dan ancaman untuk serangan epidemik penyakit baru
Risiko mikrocefalus hanya ditemukan pada virus Zika di Asia

Sumber:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1200696/
https://www.statnews.com/2017/10/11/vaccine-mystery/
http://www.newsweek.com/genome-sequencing-smallpox-vaccine-shows-not-cowpox-682793
http://www.iflscience.com/health-and-medicine/new-research-sheds-light-on-the-mysterious-origin-of-the-smallpox-vaccine/
https://www.sciencedaily.com/releases/2017/10/171011180558.htm
https://www.theverge.com/2017/7/7/15938168/smallpox-variola-horsepox-virus-synthesis-vaccines-bioweapon
http://www.sciencemag.org/news/2017/07/how-canadian-researchers-reconstituted-extinct-poxvirus-100000-using-mail-order-dna