Pemerintah Indonesia – dan negara lain, seperti Singapura dan Malaysia – masih kesulitan dalam mengatasi masalah penyalahgunaan narkoba. Apalagi, ditambah dengan fakta semakin kreatif dan inovatifnya para penjual untuk menipu pemerintah.

Walaupun sudah melakukan berbagai edukasi anti-narkoba, menyediakan fasilitas rehabilitasi, dan memberi hukuman berat bagi penyalahguna narkoba, namun Malaysia masih menghadapi banyak hambatan. Menurut badan anti narkoba nasional di negara tersebut atau yang biasa disebut AADK, tantangan utama tang mereka hadapi adalah cara pemusnahan zat psikoaktif baru seperti metamfetamin, ekstasi, heroin, kokain dan ketamin, yang dapat diproduksi dengan mudah oleh pabrik rumahan.

Hal serupa juga dialami di Singapura – negara dengan peraturan ketat terhadap penjual dan pengguna narkoba. Sudah banyak usaha yang dilakukan untuk mengedukasi publik mengenai bahaya penyalahgunaan obat. Meskipun demikian, Menteri dalam negeri dan hukum Singapura, K Shanmugam menyatakan bahwa ancaman pengedaran narkoba dari negara tetangga semakin besar dan merupakan masalah yang sangat sulit diatasi.

"Myanmar dan Lao PDR berkontribusi terhadap 22% dari seluruh area perkebunan ganja. Perdagangan metamfetamin dan heroin di wilayah tersebut menghasilkan lebih dari 32 milyar USD setiap tahun," ujar beliau. Hal ini menarik perhatian sindikat kriminal dari berbagai negara.

Teknologi dan persepsi sosial memicu penyalahgunaan narkoba

"Kebanyakan substansi dalam golongan zat psikoaktif baru adalah legal, sehingga para bandar narkoba membeli substansi tersebut dan mencampurnya di sini sehingga substansi tersebut menjadi ilegal," tutur Dr Abdul Halim Mohd Hussin, direktur badan anti narkoba nasional Malaysia (AADK).

Para pengguna obat sintetis umumnya menggunakan internet dan aplikasi dengan kode sandi seperti WhatsApp untuk memperoleh benda haram tersebut. Inilah yang menyulitkan pemerintah dalam melacak pengedar maupun pengguna narkoba, sebab banyak dari mereka merupakan seseorang berpendidikan dan cukup mapan.

Tidak hanya itu, harga yang murah juga merupakan alasan kunci mengapa banyak murid sekolah dan mahasiswa ikut terlibat.

Hal ini ditunjukkan dalam sebuah hasil penelitian di tahun 2014 oleh Singapore’s Task Force on Youths and Drugs, yang menemukan bahwa kebanyakan pelaku penyalahgunaan ganja berasal dari kalangan ekonomi menengah atau atas.

"Hampir dua per tiga pengguna nakoba baru di tahun 2016 berusia kurang dari 30 tahun," tutur Mr Shanmugam yang mengutip dari sebuah survei yang dilakukan oleh National Council Against Drug Abuse pada tahun 2016. Survei tersebut menemukan bahwa anak muda berusia kurang dari 30 tahun lebih berpikiran terbuka terhadap narkoba dibandingkan dengan hasil survei serupa pada tahun 2013.

Situasi demikian juga terdapat di Malaysia, dimana masalah ini juga dipicu oleh peningkatan akses ketersediaan narkoba secara online.

Efek buruk penyalahgunaan narkoba

 Wakil menteri dalam negeri Malaysia, Mr Nur Jazlan Mohamed, mengatakan bahwa murid dari 402 sekolah di negeri tersebut ditetapkan berisiko tinggi menjadi pengguna. Uji secara acak yang dilakukan terhadap 36.675 murid sekolah pada tahun 2015 menemukan bahwa sebanyak 1.475 murid terdeteksi positif merupakan pengguna narkoba. Dari total tersebut, 73% dinyatakan positif terhadap stimulan jenis amfetamin, sedangkan yang lain dinyatakan positif terhadap obat dari cannabis.

"Para orangtua cenderung tidak ingin ikut campur dalam masalah anak mereka. Mereka ragu meminta bantuan karena khawatir terhadap stigma dan pandangan negatif orang lain. Akhirnya, para pecandu akan dikucilkan dan tidak mendapat perawatan yang seharusnya – yang pada akhirnya menciptakan efek yang mematikan," tutur Zulkifli, seorang pekerja di Ikhlas Community Welfare Association of Malaysia, lembaga swadaya yang membantu para pengguna narkoba, terutama pengguna narkoba secara intravena dan pengguna narkoba yang juga penderita HIV.

"Kita harus terus melaksanakan berperang melawan penyalahgunaan narkoba. Bukan hanya penjual dan pengguna narkoba yang perlu kita pikirkan," ujar Mr Shanmugam.

Diperlukan pendekatan untuk mencegah kekambuhan

Kekambuhan merupakan masalah lain yang perlu diatasi sebab menghentikan penggunaan narkoba bukan hanya sekedar menghentikan konsumsinya.

"Manusia suka untuk tetap seperti diri mereka apa adanya, tidak menyukai perubahan," tutur Dr Sivakumar Thurairajasingam, seorang profesor bagian kedokteran jiwa dan psikologi di Monash University.

Beliau kemudian menggunakan pecandu alkohol sebagai contoh. "Pada pecandu alkohol, Anda mengobati dan menangani mereka. Tetapi ketika mereka pergi keluar ke masyarakat, terdapat faktor lingkungan yang memicu keinginan untuk minum alkohol lagi. Jika tidak cukup dibekali cara mengatasi keinginan tersebut, maka pecandu akan mengulang kebiasaan lama mereka."

Begitu juga pada para pecandu narkoba.

Dr Philip George, konsultan psikiatri di Assunta Hospital, menekankan bahwa salah satu kunci utama untuk mencegah kekambuhan adalah dukungan teman sebaya.

"Dukungan teman sebaya sangat berguna dalam menolong seseorang yang mengalami kekambuhan," ujarnya. "Ketika terdapat dorongan atau nafsu kuat, mantan pecandu sebaiknya mendekati teman mereka."

Mr Yunus Pathi, pendiri sekaligus presiden organisasi Pengasih di Malaysia, juga mengungkapkan hal yang sama. Beliau mengatakan bahwa tingkat kekambuhan yang tinggi banyak disebabkan oleh kurangnya modal pemulihan, yaitu tidak adanya dukungan keluarga, komunitas dan agama serta kesulitan dalam mendapat pekerjaan.

Sementara jika Malaysia dan Singapura memilih pendekatan yang lebih manusiawi, Filipina telah dikritik secara lokal maupun internasional karena hukuman eksekusi mati terkait perang narkoba di negara tersebut.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyatakan perang terhadap penjual dan pengguna narkoba di negara tersebut sejak tahun 2016. Sejak saat itu, ribuan warga Filipina telah dieksekusi dan pembunuhan di luar kerangka hukum dilakukan oleh polisi. Kelompok pembela hak asasi manusia mengutuk pendekatan ini dan menuduh presiden melakukan kejahatan kemanusiaan. MIMS

Bacaan lain:
Produsen minuman keras menutup-nutupi fakta hubungan antara alkohol dan penyakit kanker
Kejujuran pasien: Bagaimana cara meningkatkannya
Dengarkan! – Penyebab bunuh diri di kalangan remaja

Sumber:
http://www.todayonline.com/world/easy-access-synthetic-drugs-high-relapse-rates-key-factors-behind-malaysias-failing-drug-war
http://www.freemalaysiatoday.com/category/nation/2018/01/08/drug-war-hampered-by-easy-access-to-synthetic-drugs-says-report/
https://www.nst.com.my/news/exclusive/2017/12/319989/getting-right-formula-war-against-drugs
https://www.themalaysianinsight.com/s/24154/
https://www.channelnewsasia.com/news/singapore/we-need-to-continue-to-wage-war-against-drug-abuse-shanmugam-9375976 
http://www.todayonline.com/singapore/singapore-will-be-relentless-its-war-drugs