Sejak pertama kali diumumkan oleh Puel dan Sigwart di tahun 1986, stent jantung dianggap sebagai terapi standar untuk nyeri dada koroner – bahkan hingga sekarang. Namun, menurut David Epstein dari ProPublica, terdapat epidemi pemberian terapi yang tidak perlu – salah satunya adalah pemasangan stent pada pasien stabil angina.

Stent konon dapat meringankan penderitaan pasien angina, dan mengurangi risiko serangan jantung yang mungkin berakibat fatal.

Namun, banyak penelitian menyimpulkan bahwa intervensi ini sebenarnya tidak diperlukan. Sebuah penelitian di tahun 2007 menunjukkan bahwa stabil angina dapat dikendalikan dengan pengobatan oral, dan stent tidak terbukti bisa memperpanjang umur atau mengurangi risiko penyakit. Sebaliknya, malah meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke yang merupakan efek samping prosedur stent.

Efek plasebo stent lebih besar dari yang diperkirakan

Sebuah penelitian yang baru-baru ini dilakukan oleh Imperial College London menemukan "tidak ada bukti dari uji acak tertutup dan plasebo terkontrol yang membuktikan bahwa stent lebih efektif daripada obat minum pada demografi yang sama.

Penelitian tersebut menguji efikasi stent pada 200 pasien penyakit jantung yang semuanya memiliki satu arteri tersumbat, dengan nyeri dada yang membatasi aktivitas sehari-hari – terutama saat berolahraga.

Selama enam minggu, semua subjek distabilkan dengan anti-koagulan, obat tekanan darah dan pereda nyeri untuk nyeri dada yang dialami. Kemudian secara acak dilakukan prosedur, dimana hanya setengah yang dipasang stent asli sementara sisanya menjalani prosedur palsu, yaitu kateter yang diikat tanpa penyisipan stent.

Enam minggu kemudian, pasien dievaluasi dengan tes treadmill. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam jumlah olahraga yang dapat dilakukan kedua kelompok dan tidak ada perbedaan bermakna pada nyeri dada.

Apa yang ditunjukkan oleh penelitian ini "adalah bahwa stent memang memberikan efikasi dan tidak merugikan – tapi tidak lebih efektif” daripada obat oral dalam meredakan nyeri dada atau peningkatan kapasitas olahraga jangka pendek, tegas Indu Poornima, Ketua medis Allegheny Health Network kardiologi nuklir, yang bukan bagian dari penelitian ini.

Serupa dengan penelitian tahun 2007, bukti baru ini mempertanyakan apakah prosedur stent ‘perlu’ dilakukan jika hasilnya tidak signifikan.

"Hal ini masih menjadi kontroversi. Tidak ada penelitian yang menunjukkan stent lebih baik daripada obat minum dalam mengurangi risiko kematian atau serangan jantung pada pasien dengan penyakit arteri koroner stabil," tambah Poornima.

Mengurangi "reaksi spontan" untuk mengobati penyumbatan jantung

Dr Steven Nissen, ketua Departemen Pengobatan Kardiovaskular di Cleveland Clinic, mengatakan ada masa ketika stent terus dipasang mengingat efikasinya dalam dunia medis – "reaksi spontan".

"Tapi masa itu berangsur-angsur hilang. Dokter yang bijaksana harusnya memberitahu semua pilihan yang ada dan memberikan terapi pengobatan terbaik. Bila Anda melakukan itu, jumlah pasien yang benar-benar memerlukan stent akan berkurang," tegas Dr Nissen.

Evaluasi komprehensif harus dilakukan. Dalam kebanyakan kasus, pasien dapat ditangani dengan memulai pengobatan oral terlebih dahulu, namun jika pasien memang tidak bisa mentoleransi obat, maka stent baru diberikan sebagai pilihan terapi.

Dr Nissen juga menunjukkan bahwa hasil penelitian tersebut masih diperdebatkan karena uji treadmill yang digunakan untuk menganalisis pengaruh stent tersebut "cukup subjektif".

"Seseorang bisa saja berhenti berlari di atas treadmill karena berbagai alasan, tidak semua karena mengalami nyeri dada," ungkap Nissen.

Ia juga menyarankan untuk dilakukan penelitian lebih mendalam dengan ukuran sampel lebih besar agar dapat menentukan efikasi stent pada pasien jantung dengan hasil yang lebih bisa dipercaya.

Memasuki era baru ‘resorbable stent’ sebagai alternatif

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul alternatif baru yaitu resorbable stent (stent yang bisa larut secara alami), yang berarti bahan pembentuk stent akan hilang setelah jangka waktu tertentu.

Secara teori, ini berarti komplikasi yang berhubungan dengan stent tradisional, seperti pengerasan arteri, penggumpalan darah, pembengkakan dan bahkan restenosis (penyempitan ulang pembuluh darah) akan berkurang secara signifikan.

Beberapa perusahaan, terutama di Amerika Serikat, sudah menggunakan stent baru ini – namun, hasilnya masih didiskusikan dan diamati secara berkelanjutan. MIMS

Bacaan lain:
Perdebatan mengenai statin terus berlanjut
Golongan darah non-O memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi kesehatan
Konsumsi kafein berlebih dalam waktu cepat bisa menyebabkan serangan jantung

Sumber:
http://time.com/5009249/do-heart-stents-work/
https://www.vox.com/science-and-health/2017/11/3/16599072/stent-chest-pain-treatment-angina-not-effective
https://www.eurekalert.org/pub_releases/2017-11/icl-soh110117.php
http://www.post-gazette.com/news/health/2017/11/06/Stents-stable-angina-study-medications-coronary-arterial-disease-chest-pain-exercise/stories/201711020136