"Apa sih kerja apoteker? Rasanya saya belum pernah bertemu apoteker sebelumnya"
 
"Jangan jadi apoteker, mending jadi dokter sekalian"
 
"Anda tahu apa? Anda kan bukan dokter. Saya hanya percaya obat dari dokter!"

Seringkah Anda mendengar ucapan tersebut? Ya, begitulah kondisi miris profesi apoteker di Indonesia sekarang ini. Jika kita telaah dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti dari kata 'apoteker' adalah seorang yang ahli dalam ilmu obat-obatan; yang berwenang membuat obat untuk dijual.

Meskipun demikian, berdasarkan hasil survei Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) lebih dari 50% apotek tidak dijaga apotekernya, sedangkan di papan nama apotek jelas tertera informasi bahwa apotek buka 24 jam lengkap dengan nama apoteknya.

Tingginya jumlah apoteker tekab (Teken-Kabur) – terutama di Jakarta – membuat banyak orang tidak tahu apa sebenarnya peran dan tugas seorang apoteker. Inilah kenyataan pahit yang harus diterima para apoteker di Indonesia. Maka dari itu, berikut MIMS mengupas 'standar dasar' profesi apoteker sebagaimana yang dicatat dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (permenkes RI) nomor 73 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek.

Definisi Apotek menurut Permenkes No 73 tahun 2016


Seperti yang sudah kita ketahui bersama, apoteker merupakan tenaga kesehatan yang melakukan pelayanan kefarmasian di apotek. Dan sesuai dengan bagan di atas, pelayanan kefarmasian merupakan "Suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien."

Menurut KBBI, berikut arti dari kata:
  • Langsung: terus (tidak dengan perantaraan, tidak berhenti, dan sebagainya)
  • Tanggung jawab: keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dan sebagainya)
  • Mutu: kualitas
  • Kehidupan: keadaan hidup
  • Pasien: orang sakit
Dengan demikian, sudah jelas bahwa seorang apoteker dikatakan sudah "memenuhi" standar jika mereka:
  1. Terus ada di apotek selama jam buka apotek
  2. Memberi pelayanan terbaik untuk menghindari tuntutan, dipersalahkan, dan sebagainya
  3. Berusaha meningkatkan kualitas hidup orang yang sakit

Bisnis apoteker – Mari dukung bisnis beretika!

Tidak seperti dokter dan perawat yang hanya menjual jasa, seorang apoteker bekerja dengan menjual jasa dan produk (obat dan alat kesehatan). Bukankah ini tampak lebih menguntungkan apoteker?

Maka dari itu, mengapa apoteker tidak mau memanfaatkan kesempatan ‘menjual jasa’ ini dan hanya berfokus pada penjualan produk?

Mengapa banyak apoteker rela izinnya digunakan oleh investor dan hanya mendapat sedikit bayaran bulanan dari mereka?

Kuliah minimal 5 tahun untuk mendapat gelar apoteker bukanlah masa yang mudah. Dengan tidak adanya Anda di apotek, apakah Anda rela dianggap tidak tahu apapun tentang obat setelah belajar selama 5 tahun? Apakah Anda rela membuang ilmu tersebut dengan sia-sia? Apakah Anda tidak ingin membuktikan diri dan berdiri sejajar dengan tenaga kesehatan lain (dokter dan perawat)?

Mari kita buktikan bahwa:
Apoteker juga berpendidikan. Apoteker merupakan seorang ahli obat! MIMS

Bacaan lain:
Apoteker spesialis: Apakah diperlukan?
Apakah apoteker komunitas akan segera punah?
Pendidikan profesi apoteker: Praktek apoteker klinis dan industri (Bersama Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt.)

Sumber:
https://kbbi.web.id/ 
https://www.kompasiana.com/ketutwiradana/apotek-tanpa-apoteker_5652a2df167b6129055f14dd