Dekan tiga fakultas kedokteran di Singapura menyebutkan masyarakat Singapura lebih membutuhkan dokter generalis daripada dokter spesialis.

Istilah dokter generalis mengarah ke tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan untuk mengobati pasien dengan beberapa kondisi medis, daripada merujuknya dari dokter ke dokter.

"Saya pikir inilah yang dibutuhkan sistem kesehatan sekarang  ̶  kami membutuhkan dokter generalis," ungkap Profesor Asosiasi Yeoh Khay Guan, yang merupakan seorang dekan dari Fakultas Kedokteran Yong Loo Lin di National University of Singapore (NUS).

"Tidak baik jika seorang pasien lansia harus menemui lima dokter. Lebih baik jika ada seorang dokter yang mengerti apa yang mereka butuhkan."

Dokter generalis seringkali dianggap mirip dengan dokter umum. Namun, sebenarnya dokter ini harus dilatih dalam pengobatan keluarga, geriatrik dan paliatif, juga.

Dokter spesialis bisa diarahkan ke disiplin yang lebih umum

Hal ini berkebalikan dengan yang diinginkan oleh Menteri Kesehatan Gan Kim Yong yang menyatakan bahwa masyarakat Singapura lebih membutuhkan lebih banyak dokter spesialis dalam pengobatan pasien geriatri pada Oktober silam. Ia mengatakan dibutuhkan lebih dari 30.000 tenaga kesehatan untuk melayani komunitas lainsia, dan mayoritas meliputi perawat dan dokter geriatri terlatih.

Hal serupa Konsil Medis Singapura (SMC) melaporkan bahwa ranah yang baik, seperti pengobatan ginjal dan operasi tangan, merupakan salah satu disiplin dengan persentase pertumbuhan terbesar – dibandingkan perawatan paliatif atau geriatri.

Selain itu, mereka juga melaporkan pertumbuhan untuk disiplin umum, seperti penyakit dalam, yang terdapat peningkatan sebesar 50% antara tahun 2012 dan tahun lalu. Spesialisasi ini berfokus untuk mengobati seseorang secara keseluruhan, daripada hanya berfokus pada satu organ atau daerah tertentu saja, dengan demikian dibutuhkan kemampuan yang sangat tinggi.

Dalam periode yang sama, jumlah dokter perawatan paliatif juga meningkat menjadi dua kalinya, sedangkan spesialis geriatrik meningkat menjadi tiga kali.

Singapira sedang menghadapi populasi menua dengan prediksi peningkatannya menjadi 610.000 orang berusia di atas 65 tahun di tahun 2020, dibandingkan di tahun 2015 yang hanya terdapat 460.000 orang.

Dokter generalis ini penting dalam populasi tua karena para lansia biasanya cenderung mengidap berbagai masalah kesehatan, kata Professor James Best, dekan Fakultas Kedokteran Lee Kong Chian Nanyang Technological University.

"Ini merupakan pengobatan menyeluruh, dimana dokter melihat pasien secara keseluruhan  ̶  bukan hanya jantungnya atau ginjalnya," katanya. "Kita juga perlu mempertimbangkan pasien dalam konteks keluarga dan lingkungan sosialnya."

Tidak menarik bagi mahasiswa kedokteran

Namun, membuat dokter muda masuk ke spesialisasi ini bukan merupakan sesuatu yang mudah. Musahnya, dokter spesialis seperti dokter bedah biasanya lebih menguntungkan, dengan demikian, hal ini tampak sebagai pilihan yang menarik, catat Dr Loka Wai Chiong, yang merupakan pemimpin sektor kesehatan Asia Tenggara/

Spesialisasi lain juga memiliki keseimbangan hidup yang lebih baik, karena para dokter tidak perlu menghadapi pasien yang sangat sakit dan menangani pasien gawat darurat. Selain itu, dokter spesialis seperti geriatri dan pengobatan paliatif juga dipandang sebagai spesialisasi yang 'membuat stres' karena mereka harus berhadapan dengan pasien berusia tua, kata Dr Loke.

"Beberapa pasien mungkin menderita beberapa penyakit berbeda, dan semuanya berpotensi memperburuk kondisi pasien, dengan tidak adanya kesempatan untuk sembuh total," tambahnya.

Menurut laporan di tahun 1992 oleh peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Texas, mahasiswa kedokteran juga menganggap dokter generalis sebagai sesuatu yang tidak mungkin. Rentang pengetahuan dokter generalis sangat luas dan tidak terikat, sehingga mahasiswa menganggap ranah ini tidak mungkin ada.

Solusinya: Dimulai dari bangku kuliah

Professor Thomas Coffman, dekan Fakultas Kedokteran Duke-NUS menyarankan bahwa contoh harus diberikan ke mahasiswa kedokteran.

"Seiring dengan pertumbuhan spesialisasi ini dan sebagai seorang mahasiswa kedokteran yang melihat orang lain bekerja... mereka bisa melihat semenarik apa spesialisasi ini," katanya.

NUS di sisi lain, sudah menggunakan kurikulum yang merefleksikan kebutuhan populasi.

"Seiring dengan perubahan demografi.. kami berusaha dan mengubah kurikulum kami untuk disesuaikan dengan hal tersebut, untuk memberikan (mahasiswa) gambaran dan lebih banyak ilmu pengetahuan," jelas Prof Yeoh.

Hal ini juga cukup menantang karena pengetahuan medis terus meningkat dengan cepat. Solusi yang ada sekarang adalah untuk melatih mahasiswa seni belajar, daripada menghapal fakta, kata dekan.

"Jika Anda seorang dokter yang baik, Anda tidak akan pernah berhenti belajar," sebut Prof Best. MIMS

Bacaan lain:
Mengajarkan mahasiswa kedokteran tanpa kuliah
Perundungan antara rumah sakit dan mahasiswa kedokteran
6 tips untuk mahasiswa kedokteran baru

Sumber:
http://www.straitstimes.com/singapore/health/more-generalist-doctors-needed-for-spore-say-med-school-deans
http://www.straitstimes.com/singapore/health/30000-more-healthcare-workers-needed-by-2020-to-cater-for-singapores-ageing
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/1558590