Sebuah laporan dari U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengonfirmasi masalah terbesar dalam dunia kesehatan, yaitu resistensi antibiotik - seorang wanita di Nevada terinfeksi bakteri yang resisten terhadap semua 26 antibiotik yang tersedia di negara tersebut.

"Telah dicoba diberikan semua antibiotik yang ada di Amerika Serikat ... dan semuanya tidak efektif," kata Dr Alexander Kallen, seorang petugas medis di CDC bagian promosi kualitas perawatan kesehatan.

Bakteri ini resisten terhadap semua antibiotik yang tersedia di AS

Pasien yang tidak disebutkan namanya ini, berusia 70-an tahun, dilaporkan sebelumnya menghabiskan beberapa waktu wisata ke India, dimana tulang femur kanannya patah dan mengalami infeksi ke femurnya dan panggul beberapa tahun silam. Dalam dua tahun terakhir, ia dirawat beberapa kali di India, dan waktu perawatan terakhirnya adalah pada bulan Juni 2016. Meskipun demikian, ia tidak berhasil sembuh.

Ia kemudian dirujuk ke rumah sakit di Reno untuk terapi lebih lanjut, pada pertengahan Agustus, dimana tenaga kesehatan menemukan bahwa ia terinfeksi oleh superbug: carbapenem-resistant enterobacteriaceae (CRE). Bakteri ini merupakan bakteri strain Klebsiella pneumonia yang telah resisten terhadap antibiotik carbapenem - antibiotik pilihan akhir.

Uji kerentanan antibiotik di lab mikrobiologi rumah sakit menemukan bahwa bakteri ini resisten ke 14 obat, yang merupakan semua pilihan antibiotik yang tersedia di fasilitas kesehatan tersebut.

"Ini merupakan kali pertama saya melihat pola [resistensi] tersebut di daerah kami," kata Lei Chen, seorang ahli epidemiologi senior dan Petugas Distrik Kesehatan Washoe.

Sampel tersebut kemudian dikirimkan ke CDC di Atlanta untuk pengujian, hanya untuk menemukan bahwa bakteri ini resisten ke total 26 antibiotik - semua antibiotik yang tersedia di negara tersebut.

Pola infeksi resisten ini akan menyebar cepat

Wanita ini dirawat dalam ruang isolasi selama rawat inap di rumah sakit, dan peringatan kontrol infeksi ditaati untuk mencegah penyebaran CRE ke orang lain di rumah sakit. Hingga sekarang, tidak terdeteksi ada kasus infeksi baru.

Meskipun demikian, infeksi resisten lain masih ada kemungkinan akan muncul.

Menurut Dr James Johnson, profesor pengobatan penyakit infeksi di Universitas Minnesota, kemungkinan warga lain dalam negara tersebut merupakan pembawa bakteri dalam sistem pencernaannya.

"Saya pikir ini merupakan pelopor munculnya hal buruk di masa depan," katanya. "Masuk akal jika dikatakan bahwa ia merupakan satu-satunya orang AS dan ia bernasib buruk karena datang ke India, terinfeksi bakteri, kembali, dan disinilah ia, kami menemukannya dan sekarang ia sudah meninggal, dan bakteri hilang dari AS. Kondisi ini merupakan suatu hal yang mustahil."

Peneliti kemudian menemukan bahwa bakteri ini rentan terhadap fosfomycin, antibiotik yang belum disetujui penggunaannya di AS.

"Saya pikir ini merupakan sebuah masalah. Kami sangat bergantung pada penemuan antibiotik baru. Tetapi tentu saja, bakteri bisa kapan saja [mengembangkan resistensi] lebih cepat daripada proses kami menemukan antibiotik baru," kata Kallen.

Sayangnya, banyak perusahaan farmasetik besar menolak mengembangkan antibiotik baru karena lamanya waktu tunggu dan banyak penghalang yang harus dilalui. Mengartikan bahwa mengembangkan senyawa antibiotik yang efektif hanya sebagian dari masalah yang ada, menurut Evan Loh, presiden Paratek Farmasetikal.

Masalah lain meliputi biaya, waktu yang dibutuhkan untuk penelitian klinis dan juga persetujuan obat.

Para ahli telah memprediksikan akan ada 10 juta kematian di tahun 2050 jika situasi ini tidak segera diatasi, dan jika tidak ada antibiotik baru atau inovasi alternatif yang dikembangkan untuk membantu mengalahkan penyebaran superbugs, resistensi antibiotik bisa berproliferasi menjadi epidemik global.

"Orang-orang banyak bertanya kepada saya... 'Sedekat apakah kita dengan ujung jurang?'" ungkap Johnson.

"Dan saya mengatakan kepadanya: Kita sudah jatuh ke jurang." MIMS

Bacaan lain:
Menghadapi krisis penggunaan obat
Sejarah panjang krisis resistensi antimikroba
Apa manfaat bakteri baik?
5 peneliti Singapura mencari cara eradikasi penyakit di tingkat genetik