Johanna Watkins 29 tahun menderita alergi di usia muda, tubuhnya bereaksi ke banyak pemicu dan menyebabkan migrain, nyeri seluruh tubuh dan kesulitan bernapas, tetapi kondisi kesehatannya tidak mencegah ia menikahi pujaan hatinya, Scott Watkins, di tahun 2013.

"Setelah kami menikah, kami ingin mempunyai anak," kata Johanna, seorang mantan guru kelas 1. "Kami membuat banyak sekali rencana."

Namun, semuanya tidak berjalan lancar, ketika kondisi kesehatan Johanna menurun drastis. Reaksi anafilaksis yang mengancam jiwa muncul terhadap ratusan makanan, bau-bauan, lingkungan dan senyawa kimia dan wangi yang dilepaskan orang sekitar - termasuk suaminya.

"Dia pulang (setelah potong rambut) dan mandi beberapa kali dan mengenakan masker dan mengenakan baju yang disimpan di ruangan saya," kata Johanna. "Sekitar dua menit setelah ia datang ke ruangan saya, reaksi anafilaksis mulai muncul."

"Sekarang tubuh saya bereaksi terlalu kuat ke suami saya."

Kondisi langka yang tidak bisa sembuh

Di tahun 2015, setelah banyak kesalahan diagnosis, Johanna didiagnosis Sindrom Aktivasi Sel Mast (MCAS), gangguan genetik langka - ditemukan sembilan tahun lalu - yang memicu reaksi dan menyebabkan anafilaksis. Hingga sekarang, tidak ada intervensi yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan MCAS, dan Johanna tidak merespon ke obat atau kemoterapi.

Kasus Johanna merupakan kasus parah karena ia bereaksi ke ratusan pemicu.

Ia hanya bisa mentoleransi 15 makanan berbeda, seperti rempah-rempah, dan hanya bisa memakan dua makanan spesifik: sup sapi organik, atau domba dengan mentimun organik yang sudah dikupas. Makanan lain bisa menyebabkan reaksi serius.

"Makanan tersebut akan menyerang tenggorokan dan paru-paru saya dan saya akan mulai batuk dan tidak bisa berhenti," ungkapnya. "Kemudian pandangan mata saya menjadi kabur dan tenggorokan saya menjadi terasa sakit... Keseluruhan tubuh saya terasa sakit dan saya mengalami migrain hingga menimbulkan memar di kepala saya."

Ketika Johanna membutuhkan terapi darurat di rumah sakit, ia harus dipindahkan dengan mobil, karena senyawa kimia yang digunakan untuk mensterilkan ambulans bisa semakin memperburuk kondisinya.

"Selama satu tahun, Johanna tidak pernah keluar dari ruangannya kecuali ke rumah sakit," kata Scott. "Satu-satunya cara untuk membuatnya tetap hidup adalah hidup dengan sangat waspada - ruangannya memiliki sistem airlock, beberapa penyaring HEPA dan jendelanya ditutup karena sinar UV bisa memicu selnya."

Johanna hanya bisa menemui beberapa tamu, termasuk saudaranya, yang wangi tubuhnya bisa ditoleransi. Sebelum menemuinya, mereka harus menghindari makanan dengan rempah yang tajam, mandi dengan sabun khusus, dan mengenai masker serta pakaian khusus yang selalu disimpan dalam ruangannya.

Namun, ia tetap akan mengalami reaksi setelah menemui mereka.

Membuat lingkungan terbaik

"Tidak ada cara lain. Saya ingin Johanna tetap aman dan saya akan memastikan keamanannya," kata Scott. "Satu-satunya cara yang bisa saya lakukan adalah menjauh darinya. Saya tidak ingin membahayakan hidupnya."

Meskipun mereka tinggal di rumah yang sama, mereka selalu berada di rungan berbeda tetapi mencoba menghabiskan waktu bersama dengan menonton acara televisi yang sama, dan tetap terhubung melalui surat elektronik dan Skype.

Scott dan Johanna sekarang tinggal di rumah kerabat seorang teman, sambil menunggu rumahnya direnovasi untuk memasang sistem penyaring udara teknologi tinggi untuk Johanna.

"Kami perlu mengubah rumah ini menjadi tempat yang aman untuk Johanna agar ia bisa hidup dan menjaga kondisinya tetap sestabil mungkin," ungkap Scott.

"Keparahan dan bahaya alergi yang diderita membuat kami perlu memasang semuanya sebelum dia pindah ke rumah kami." MIMS

Bacaan lain:
Menderita alergi terhadap dingin
Pelarangan sarung tangan bertepung dan implikasinya
Reaksi berlebihan ke alergi makanan pada anak bisa menyebabkan kesalahan diagnosis
Mengapa ada efek placebo?