Pada mulanya diharapkan operasi hysterectomy akan berjalan mulus saat dokter di rumah sakit Toronto bersiap untuk mengeluarkan uterus dan ovarium pasien berusia 54 tahun saat anestesi sudah memberikan efek.

Lynn Hillis berharap saat ia bangun, operasi sudah berjalan lancar dan selesai. Tetapi prospek kelancaran operasi berubah menjadi mimpi buruk saat ia terbangun dan merasa sakit saat dokter bedah menyobek kulitnya.

Tidak bisa bergerak karena obat, Hillis terbaring tidak berdaya di atas kasur operasi, tidak bisa bergerak atau berbicara.

"Seseorang dalam diri saya, menyobek-nyobek saya," kata Hillis. "Sangat mengerikan. Saya merasa terbakar dan terbakar."

"Kemungkinan itu adalah hal terburuk yang bisa Anda bayangkan," kata pengacara Hillis, Stephen MacDonald.

Komplikasi langka dan menyusahkan

Didiagnosis kanker endometrium pada Desember 2008, Hillis dirujuk ke Rumah Sakit Umum Toronto untuk operasi laparoskopi untuk membuang uterus, ovarium dan tuba falopinya, untuk mencegah penyebaran penyakit.

Namun, pada saat operasi ia harus mengalami konsekuensi dari kesalahan manusia, menurut hakim, pasien bangun karena kelalaian dokter anestesi.

Pasien mengalami "Kesadaran" saat operasi yang tidak disengaja - kegagalan anestesi sehingga pasien harus menyaksikan operasi dirinya sendiri. Dalam hukum malpraktek medis, Hakim Kendra Coats mencatat bahwa pasien tidak mengindikasikan ada sesuatu yang salah.

"Ia menjelaskan mencoba bergerak, membuka mata dan berteriak tetapi tidak bisa mendapat perhatian dokter," kata hakim.

Menurut penelitian di Inggris, di saat pasien bangun selama operasi, pasien merasa sangat tersiksa karena paralisis, bukan rasa sakit. Setelah operasi, Hillis mengatakan bahwa seorang dokter mengatakan bahwa ia memiliki "sedikit ingatan" akan operasi, dan menjelaskan kejadian tersebut tanpa dorongan atau pertanyaan, kata Coats.

Pasien memenangkan kasus malpraktek

Pengacara dokter mengatakan anestesi diberikan dengan benar, dan kesadaran, dianggap sebagai faktor risiko, dan bukan sepenuhnya kesalahannya.

Ia menambahkan bahwa kasus ini diikuti dengan fakta bahwa Hillis menderita kondisi yang membuat dokter tidak bisa memberikan anestesi dalam bentuk sediaan gas, yang lebih mudah dimonitor. Selain itu, tidak ada perubahan signifikan pada kecepatan jantung atau tekanan darah pasien, sesuatu yang biasanya, tetapi tidak selalu, muncul saat sadar.

Pengacara Hillis menuntut dua dokter anestesi - seorang anggota dokter yang tidak menetap selama proses operasi, dan seorang "senior" - pelajar lanjutan - yang berada di sana sepanjang waktu operasi.

Meskipun demikian, hakim memutuskan bahwa dokter anestesi, Dr. Massimiliano Meineri, tidak bersalah dan sudah melimpahkan tanggung jawab ke Dr. Reza Ghaffari.

Hakim ini menerima tuntutan Hillis kepada dokter anestesi, dan menjadi kasus malpraktek pertama di negara tersebut.

Hakim Coats menyimpulkan bahwa Dr. Ghaffari membuat kesalahan ketika ia tidak meningkatkan dosis propofol intravena setelah menurunkan aliran nitrat oksida yang diminta oleh dokter bedah. Gas ini memperbesar kolon Hillis, sehingga sulit bagi dokter bedah untuk melanjutkan prosedur.

Pengalaman traumatis

Kemungkinan bangun saat operasi sangat kecil, kata Dr Eric Jacobsohn, profesor departemen anestesi, di Universitas Manitoba. Belum jelas seberapa sering kasus ini muncul - tetapi satu dari 1.000 operasi - dan Dr Jaconsohn mengatakan, "Itu berarti kemungkinan ribuan orang pernah mengalami kesadaran anestesi."

"Orang-orang bangun karena dosis anestesi terlalu rendah," jelasnya, atau bisa juga karena faktor teknik seperti gangguan pada mesin anestesi atau kehabisan gas dari mesin.

Dalam kasus Hillis, pertanyaannya adalah berapa banyak dan kapan anestesi diberikan. Dua hal ini angat berpengaruh akan kelangsungan proses operasi.

Pengalaman yang dialami Hillis mungkin membuatnya merasa trauma dan bisa terus tersimpan dalam pikirannya. Hakimnya MacDonald mengatakan Hillis perlu beberapa bulan konsultasi psikologis dan psikiatrik setelah kejadian tersebut.

"Bahkan selama proses pengadilan ia terus menangis dan merasa sedih," katanya.

Hillis bukan satu-satunya pasien yang mengalami hal ini. Di tahun 2008, seorang pasien di Kanada, Donna Penner, yang tetap sadar selama satu setengah jam operasi, didiagnosis mengalami gangguan stres paska-trauma dan masih mengalami kondisi ini. MIMS

Bacaan lain:
Faktor yang menyebabkan bervariasinya rasa nyeri
5 pasien korban malpraktek medis
3 sumber jurnal gratis yang bisa dimanfaatkan oleh tenaga kesehatan


Sumber:
http://news.nationalpost.com/health/woman-who-felt-surgeons-rip-her-apart-wins-canadas-first-malpractice-ruling-over-waking-during-operation
http://www.bbc.com/news/magazine-38733131
http://www.cbc.ca/radio/thecurrent/the-current-for-may-19-2017-1.4121961/i-went-into-distress-patient-wakes-up-during-surgery-1.4121977