Istilah Senin Biru atau yang biasa disebut ‘hari paling suram sepanjang tahun’, jatuh pada 15 Januari tahun ini – istilah yang sudah diperdebatkan sejak 13 tahun silam.

Meskipun demikian, istilah yang pertama kali digunakan pada tahun 2005 silam oleh seorang psikolog Dr Cliff Arnall, merupakan suatu strategi bisnis belaka. Sky Travel, perusahaan liburan di bawah British Sky Broadcasting, membayar Arnall – yang bekerja sebagai dosen paruh waktu di Universitas Cardiff hingga Februari 2006 – untuk menciptakan rumus yang dapat mengidentifikasi hari paling menyedihkan selama satu tahun, sebagai cara untuk meningkatkan pemesanan perjalanan liburan.

Rumus yang tampak kompleks tersebut mendapat kritik dari banyak ahli di lapangan karena kurangnya bukti dukungan ilmiah.

Persamaan Senin Biru, yang terdiri dari tujuh variabel: (W) musim, (D) utang, (d) gaji bulanan, (T) waktu sejak Natal, (Q) waktu sejak kegagalan, (M) tingkat motivasi rendah dan (Na) kebutuhan untuk melakukan sesuatu
Persamaan Senin Biru, yang terdiri dari tujuh variabel: (W) musim, (D) utang, (d) gaji bulanan, (T) waktu sejak Natal, (Q) waktu sejak kegagalan, (M) tingkat motivasi rendah dan (Na) kebutuhan untuk melakukan sesuatu

Pada saat itu, Arnall mengklaim bahwa pengeluaran tinggi selama perayaan Natal akan menyebabkan tekanan keuangan pada bulan Januari serta ditambah dengan cuaca buruk, resolusi yang tak tercapai dan motivasi rendah, menyebabkan orang-orang cenderung tidak bahagia pada hari Senin di minggu ketiga bulan Januari.

Fenomena ini menyebar ke banyak perusahaan, namun saat ini organisasi kesehatan mental mencoba untuk menyadarkan orang-orang tentang efek merugikan Senin Biru.

Sebagai contoh, organisasi amal MIND menyebut hari itu sebagai "fenomena yang menyesatkan". Lain halnya dengan kaum Samaritan yang merayakan hari tersebut menjadi 'Brew Day' dimana mereka akan menawarkan teh dan kesempatan bagi orang-orang untuk berbagi masalah kesehatan mental.

Mengapa ‘Hari Biru’ dikatakan menyesatkan

Dr Dean Burnett, seorang dosen psikologi di Universitas Cardiff selama satu dekade terakhir, percaya bahwa faktor-faktor rumus tersebut terdiri dari "variabel sewenang-wenang yang tidak mungkin dihitung dan sebagian besar tidak sesuai."

"Depresi klinis sebenarnya adalah kondisi yang jauh lebih kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor, baik itu bersifat kronis atau sementara, serta berasal dari internal atau eksternal. Hal yang sangat tidak mungkin adalah terdapat beberapa faktor eksternal yang menyebabkan depresi pada seluruh populasi di waktu yang sama setiap tahun," tambahnya.

Dr Dean Burnett, expresses that “the equation itself is farcical,” stating that the variables are not part of the metric system, therefore unquantifiable. Photo credit: Wales Online
Dr Dean Burnett, expresses that “the equation itself is farcical,” stating that the variables are not part of the metric system, therefore unquantifiable. Photo credit: Wales Online

Konsep yang tidak ilmiah tersebut menyebabkan masalah serius bagi penderitanya, seperti Sophie Edwards, seorang pelajar berusia 20 tahun yang menderita kecemasan dan serangan panik sejak usia tujuh tahun. Ia saat ini mengelola blog tentang kesehatan mental, dan menyatakan bahwa masalahnya jauh lebih berat.

"Saya pikir Senin Biru adalah omong kosong belaka – hanya istilah yang diberikan pada hari biasa namun menciptakan tekanan tambahan bagi orang-orang yang telah memiliki gangguan mental sebelumnya. Membuat orang-orang semakin gelisah dan khawatir tentang hal itu," katanya.

Banyak orang khawatir Senin Biru akan menutupi masalah kesehatan mental sebenarnya. Burnett mengatakan bahwa "Senin Biru bersifat sementara, kecil dan pasti dialami semua orang, bukan suatu kondisi kronis yang membahayakan. Hal ini justru tidak menghormati pasien yang menderita depresi sesungguhnya".

MIND menyatakan, "seseorang yang menderita depresi tahu bahwa kondisi tersebut tidak dipengaruhi oleh hari apapun. Hal tersebut menyiratkan bahwa depresi hanyalah mitos di mana seseorang 'merasa sedikit tertekan', sesuatu yang tidak perlu dianggap serius."

Kampanye Senin Biru dengan arti berbeda



Arnall sendiri mengakui bahwa kepercayaan pada Senin Biru hanyalah perasaan semu yang dibuat sendiri, dan bukan untuk tujuan yang buruk. Dan mungkin, hari tersebut bisa dijadikan sebagai salah satu hari peringatan yang baik – menyemangati orang-orang untuk membicarakan mengenai kesehatan mental mereka secara umum.

Dr Philip Clarke, seorang dosen psikologi di Universitas Derby mengatakan, "Senin Biru berhasil membuat orang-orang mengutarakan kondisi depresi dan kecemasan mereka serta membagikan cara mengatasi kondisi tersebut. Saya pikir ini adalah suatu kesempatan besar."

Strategi bisnis atau bukan, Arnall sekarang bekerja sama dengan beberapa agen liburan – tahun ini, yaitu Virgin Atlantic dan Virgin Holidays dalam slogan 'Masa bodoh, Ayo lakukan' – mengubah istilah Senin Biru untuk menyemangati terbentuknya pola pikir positif di bulan Januari.

"Memulai karir baru, bertemu dengan teman baru, melakukan hobi baru atau memulai petualangan baru di bulan Januari adalah saat yang tepat untuk membuat keputusan besar yang akan memengaruhi hal yang akan terjadi sepanjang tahun ke depan," sarannya. MIMS

Bacaan lain:
Hari libur yang tidak menyenangkan bagi penderita Seasonal Affective Disorder
Terobosan terbaru anonimitas digital untuk para penderita gangguan mental
Depresi menjadi penyebab disabilitas pertama di dunia

Sumber:
http://www.dailymail.co.uk/femail/article-5270913/Mental-Health-organisation-slam-Blue-Monday-hoax.html#ixzz54JBiS8pu 
http://www.bbc.co.uk/news/newsbeat-42694102 
http://metro.co.uk/2018/01/15/today-blue-monday-doesnt-exist-7229499/
https://www.theguardian.com/science/blog/2012/jan/16/blue-monday-depressing-day-pseudoscience 
http://www.independent.co.uk/news/uk/home-news/blue-monday-apology-depressing-january-misey-money-disposable-income-psychology-dr-cliff-arnall-a8143246.html
http://www.nbcnews.com/id/6847012/
https://www.theguardian.com/science/brain-flapping/2013/jan/21/blue-monday-depressing-day-nonsense-science