Tahun 2050, menurut Tim pengkaji Inggris bulan Desember 2014 yang dipimpin oleh Jim O'Neill dan dikomisikan oleh Perdana Menteri Inggris, kematian manusia akan mencapai angka 10 juta orang.

Angka ini muncul disebabkan masalah kesehatan manusia. Kolera, misalnya, diestimasi bisa membunuh 100.000 hingga 120.000 nyawa pada tahun 2050. Campak juga diestimasi bisa menimbulkan 130.000 kematian.

Kecelakaan di jalan diestimasi menyebabkan sekitar 1,2 juta kematian di tahun 2050, dan diare disebut-sebut bisa membunuh 1,4 juta orang setiap tahunnya. Di tahun 2050 juga, sekitar 1,5 juta orang diestimasi akan menderita diabetes.

Dan yang menjadi penyebab meningkatnya kematian setiap tahun adalah fenomena resistensi antimikroba yang sering disebut-sebut oleh ilmuwan, apoteker, dan dokter.

Kanker merupakan penyakit paling menakutkan di masa sekarang, dan diestimasi akan menyebabkan 8,2 juta kematian pada tahun 2050. Meskipun angkanya cukup tinggi, tetapi angka ini masih belum bisa mengalahkan angka 10 juta yang disebabkan resistensi antimikroba.

Ini merupakan sebuah fakta menyakitkan: menurut estimasi, di tahun 2050, resistensi antimikroba akan membunuh lebih banyak orang daripada kanker.

Tidak seperti penyakit lain, resistensi antimikroba sebenarnya bukanlah penyakit. Namun ini merupakan fenomena dimana mikroorganisme, khususnya bakteri penyebab penyakit, menjadi resisten dan kebal terhadap obat.

Konsekuensi penting dan menyusahkan dari resistensi antimikroba bertitik tolak pada terapi dan intervensinya. Di beberapa tempat intervensi dan terapi korban resistensi antimikroba sangat sulit dilakukan dan membutuhkan biaya banyak. Terkadang bahkan tidak ada terapi yang bisa diberikan.

Mikroorganisme, ketika terpapar agen antimikroba, secara alami akan mengembangkan kondisi resisten. Salahnya penggunaan dan penggunaan berlebih antimikroba - yang sering dilakukan manusia - akan memicu timbulnya hal ini.

Resistensi antimikroba perlahan-lahan menghantui dunia kesehatan. Terlalu perlahan sehingga publik, secara umum, tidak menyadari kemunculannya.

Sekarang, tenaga kesehatan semakin takut akan kemunculan mikroorganisme resisten.

Mei 2016, seorang wanita Pennsylvania dilaporkan terinfeksi Escherichia coli langka yang memiliki gen mcr-1. Gen ini menyebabkan bakteri resisten terhadap colistin, antibiotik yang biasa diberikan sebagai pilihan terakhir infeksi bakteri.

Agustus 2016, seorang pria di New Jersey ditemukan terinfeksi E. coli yang memiliki gen mcr-1 dan blaNDM-5. Gen ini membuat bakteri resisten terhadap colistin dan carbapenem, obat yang digunakan sebagai pilihan terapi terakhir.

Untungnya, E. coli dalam kedua kasus tersebut belum resisten total; infeksi masih bisa diterapi menggunakan agen antimikroba lain. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa mikroba mengandung gen mcr-1 dan blaNDM-5, memiliki plasmid ekstra-kromosomal; yang membuat bakteri ini bisa mudah berpindah galur bakteri.

Kasus ini menggambarkan bahwa, setidaknya di Amerika Serikat, peneliti perlu menciptakan elemen genetik untuk melawan mikroorganisme resisten. Jika hanya berdiam diri saja, kasus ini bisa menjadi kasus global dan hanya perlu menunggu waktu untuk kemunculan epidemiknya.

Malpraktek

Resistensi antimikroba bukan merupakan konsep baru. Faktanya, peringatan ancaman resistensi sudah ada sejak tahun 1954. Dalam pertemuan gabungan dari Royal Society of Medicine dinyatakan resistensi ini muncul karena kesalahan penggunaan antibiotik, Dr. J. D. N. Nabarro mengatakan:

"Dari sudut pandang populasi secara keseluruhan, kaum resisten muncul karena kesalahan penggunaan antibiotik. [...] Kemungkinan, kaum resisten muncul bersamaan dengan antibiotik apa yang digunakan.

"Satu-satunya cara meminimalisir evolusi bakteri adalah dengan mengurangi penggunaan antibiotik dan hanya menggunakannya jika dibutuhkan. Jika kami gagal melakukan ini, jika kami tetap meresepkan antibiotik untuk penyakit minor, kami bisa menciptakan situasi dimana semua pasien terinfeksi bakteri yang resisten."

Alexander Fleming, orang paling terkenal penemu penicillin, sudah memperingatkan kami semua mengenai resistensi antimikroba saat pidato kemenangannya saat menerima Hadiah Nobel tahun 1945.

Testing for antimicrobial resistance
Testing for antimicrobial resistance


Resistensi antimikroba sudah terdeteksi manusia sejak bertahun-tahun lalu. Semuanya ini bergantung pada evolusi: antibiotik digunakan sebagai penekan populasi bakteri, membunuh yang rentan terhadap obat dan membiarkan yang resisten. Seiring berjalannya waktu, ketika hanya tersisa bakteri kebal obat, efektivitas antibiotik akan dipertanyakan.

Ini merupakan salah satu cara bertahan hidup pada bakteri.

Dalam beberapa tahun terakhir, manusia dinyatakan bersalah karena melakukan malpraktek yang mengeksaserbasi situasi ini. Penggunaan antibiotik yang salah, misalnya, meningkatkan tekanan tertentu pada populasi bakteri, dan dengan demikian juga mempercepat dominasi bakteri resisten. Beberapa antibiotik tersebut banyak diregulasi di beberapa negara.

Hal serupa, resep obat yang salah, selain tidak memberi efek terapeutik, juga bisa mempercepat resistensi bakteri. Resep antibiotik untuk penyakit disebabkan virus, seperti flu, misalnya, bisa membantu mempercepat resistensi.

Antibiotik juga digunakan untuk membuat bakteri hidup sehat dan terus tumbuh, yang dengan demikian meningkatkan penyebarannya. Bakteri resisten ini bisa ditransfer ke tubuh manusia dan kemudian menyebabkan infeksi dan penyakit.

Edukasi dan mengajak

"Dalam Hukum Farmasi baru," tulis Krishelle Obispo dalam e-mail ke MIMS, "salah satu kesalahan industri farmasi dalam menciptakan resistensi antimikroba adalah distribusi sampel antibiotik; yang dilarang dalam hukum terbaru."

Krishelle merupakan Apoteker yang bekerja untuk Sandoz Philippines Corporation, sebuah perusahaan farmasi multinasional. Menurutnya, industri farmasetik Filipina, memberikan respon positif ke inisiatif memperlambat resistensi antimikroba.

Perusahaan, khususnya perusahaan multinasional, sangat patuh terhadap Hukum Farmasi baru dan kebijakan lain yang berhubungan, dan mau ikut berpartisipasi dalam inisiatif yang dihasilkan selama Pekan Kesadaran Antibiotik Filipina 2016.

Dengan demikian, tentu saja, manusia perlu memberi ruang perubahan. Pertama, Krishelle menyarankan agar perusahaan bisa lebih banyak melakukan kampanye mengenai resistensi antimikroba secara internal.

"Edukasi dalam perusahaan terutama saat perlatihan atau pertemuan bisnis atau komunikasi dengan asosiasi bisa mendorong keikutsertaan mereka dalam implementasi kebijakan tanpa resep, tanpa peracikan ... yang selanjutnya bisa memengaruhi sikap mereka terhadap antibiotik dalam fungsi operasional dan interaksi eksternal mereka," jelasnya.

Sebalinya, memperluas jangkauan kampanye ke ranah lain, di luar pengaruh perusahaan, bisa semakin diperkuat karena konsumen semakin teredukasi dan ingin ikut serta di dalamnya.

"Integrasi praktek antar dunia profesional akan sangat memengaruhi sikap pembeli karena mereka akan selalu diingatkan mengenai penggunaan antibiotik yang baik, dan juga reperkusi kapan mereka sebaiknya tidak mengonsumsinya," ungkapnya. MIMS

Bacaan lain:
5 poin penting BPJS yang perlu diketahui oleh tenaga kesehatan
Kanker: Obat konvensional hingga modern
PBB: Hapuskan hukum anti-aborsi di dunia
4 sumber informasi obat dan farmakologi yang wajib dimiliki
Farmasi komunitas dan dokter umum: Bekerja sebagai pelengkap, bukan bersaing