Orangtua yang sedang berkabung ini menuduh dokter NHS menyembunyikan fakta bahwa anak perempuan mereka yang berusia 11 bulan meninggal karena diberikan obat dengan dosis berlebih. Sophie Burgess menerima sekitar delapan kali dosis rekomendasi obat anti kejang poten, yang kemudian membuatnya meninggal.

Orangtuanya, Gareth dan Emma Burgess, mencurigai adanya kegagalan rumah sakit yang ditutup-tutupi, mencurigai ada bukti yang hilang dari bangsal dimana Sophie meninggal, bersamaan dengan lembar catatan medisnya. Mereka berjuang "mati-matian" untuk mengetahui kebenarannya.

"Dia pasti merasa sangat kesakitan"

Sophie dengan tergesa-gesa dibawa ke Rumah Sakit St Peter di Surrey, setelah mengalami kejang pada 16 Juni tahun lalu. Ia diberikan resep obat antiepilepsi fenitoin oleh konsultan pediatrik Dr Fiona MacCarthy, dan obat diberikan oleh Dr Lojein Hatahet.

Namun, obat yang diberikan ternyata berada dalam dosis letal. "Kondisi Sophie menurun. Saya mencoba untuk menghentikannya tetapi tidak bisa karena Dr Hatahet berdiri disebelahnya dan menginjeksikan obat tersebut," kata Gareth, sesaat ketika Hatahet menginjeksikan obat tersebut ke putrinya.

Sophie Burgess pictured as a newborn with her parents Emma and Gareth Burgess. Photo credit: Daily Mail
Sophie Burgess pictured as a newborn with her parents Emma and Gareth Burgess. Photo credit: Daily Mail


"Sophie mulai batuk dan muntah, matanya bergetar dan ia menjadi kaki. Dia sudah tidak bisa bergerak," kata ayahnya.

"Paginya dia memanggil saya "Dada" untuk pertama kalinya. Sekarang dia melihat saya dengan ekspresi ketakutan. Saya tidak akan pernah melupakannya. Ia pasti merasa sangat kesakitan."

Tenaga medis kemudian berusaha selama satu jam, dan tidak berhasil mengembalikannya. Pemeriksaan post-mortem menyimpulkan bahwa penyebab kematiannya adalah henti jantung, tetapi hasil pemeriksaan toksikologi, yang keluar beberapa minggu kemudian, menunjukkan ada kejadian dosis berlebih.

Sophie mendapat dosis 7,65 kali lebih tinggi di atas dosis rekomendasi fenitoin dalam darahnya.

"Saya percaya itu bukan obat yang seharusnya diberikan untuk Sophie, dan mereka memberikannya dengan dosis sangat tinggi," kata Emma.

Dirahasiakan oleh rumah sakit

Beberapa jam setelah kematian Sophie, Burgess diperiksa oleh polisi, yang menyebutkan rumah mereka sebagai tempat kejadian perkara. Petugas forensik, juga, mengambil kasur dan mainan Sophie "untuk mencari bukti". Burgess percaya ini merupakan tindakan yang dilakukan untuk menutupi kesalahan rumah sakit. 

Pengacara Burgess, Clodagh Bradley QC, menuduh dokter melakukan penipuan. "Mereka memberi informasi yang berkebalikan dengan catatan medis pasien, berkebalikan dan para saksi dan mereka merasa bisa disalahkan - mereka bisa dituduh melakukan tindak kriminal."

Ia menambahkan bahwa Dr MacCarthy memanggil polisi setelah Sohpie meninggal. "Masalahnya adalah apakah seseorang yang tahu mereka sudah membuat kesalahan serius mencoba untuk mengalihkan perhatian dari manajemen medis, yang menyebabkan hilangnya barang bukti."

Tuduhan ini dibuat pada pengkajian pra-perkara, sebelum kesaksian penuh di bulan Juni. Para dokter menolak untuk berkomentar, namun melalui pembicaranya dikatakan bahwa rumah sakit menawarkan "simpati ke keluarga Sophie Burgess, bersamaan dengan permintaan maaf kami atas kematiannya yang tragis". MIMS

Bacaan lain:
Rokok sehat, mungkinkah?
Mengulas kasus "Ganja untuk Istri" Fidelis Ari Sudarwoto dari pandangan medis
Ternyata otak masih bekerja meskipun tubuh sudah tak bernyawa


Sumber:
http://www.dailystar.co.uk/news/latest-news/610142/Devastated-parents-accuse-NHS-doctors-of-cover-up-after-baby-dies-from-drug-overdose
http://www.dailymail.co.uk/health/article-4459082/Huge-overdose-kills-baby-hospital-jab-blunder.html