Sekitar 346 kilometer dari Stasiun Angkasa Internasional (ISS), beberapa jenis penelitian medis juga banyak dilakukan karena banyak peneliti menganggap bahwa ruang angkasa memberikan perspektif baru mengenai gangguan di bumi. Misalnya efek gravitasi nol pada sistem tengkorak astronot digunakan untuk mempelajari bagaimana cara membantu pasien dengan penyakit otot.

Berikut tiga contoh bagaimana ruang angkasa dan teknologi ruang angkasa menjadi pemecah masalah dalam penelitian medis.

1. Menggunakan teknologi ruang angkasa dalam penelitian kanker payudara

Teknologi ruang angkasa sedang mencari alternatif terapi kanker payudara dengan melakukan kolaborasi antara Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA dan dokter bedah Dr Susan Love, pemimpin petugas visioner untuk Dr Susan Love Research Foundation di Amerika, untuk mengetahui mikrobioma saluran susu, karena hampir semua kanker payudara berasal dari sana.

Pada mulanya, penelitian menghadapi beragam masalah - antiseptik yang digunakan untuk membersihkan kulit pasien kanker payudara terkontaminasi mikroba mati.

"Sulit untuk membedakan yang mana yang merupakan bakteri penting dan yang mana yang hanya merupakan pengganggu dan kontaminasi," kata Love.

Peralatan di JPL bisa menganalisis mikroorganisme dalam konsentrasi sangat kecil untuk memastikan pesawat luar angkasa milik NASA mengangkut sesedikit mungkin bakteri dari bumi, yang disadari Love akan sangat berguna untuk penelitiannya.

Menggunakan alat JPL, Love bisa menganalisis cairan saluran payudara dari 23 wanita sehat dan 25 wanita pengidap kanker payudara. Tim peneliti Love kemudian menemukan bahwa ada perbedaan jelas dalam mikrobioma yang hidup dan sangat berbeda antara dua kelompok ini, meskipun implikasinya masih belum diketahui.

Sistem saluran payudara juga berhasil dipetakan untuk pertama kalinya sejak 1840 menggunakan teknologi ruang angkasa, karena ultrasound medis 3D biasa tidak dapat menangkap salurannya. Selain itu, teknologi pemetaan dengan radar JPL pada mulanya digunakan untuk memetakan kompleks dan planet asing, diharapkan oleh Love bisa digunakan untuk operasi kanker dengan presisi yang lebih baik.

2. Mengikuti mutasi pada superbug

Perusahaan wisata luar angkasa SpaceX juga menggunakan alat-alatnya untuk membantu penemuan medis. MRSA resisten antibiotik pertama kali diperkenalkan di roket Falcon 9 ke ISS karena dipercaya pertumbuhan bakteri ini mengalami akselerasi dalam kondisi gravitasi nol.

Proyek yang dipimpin oleh dokter dan ahli fisiko Anita Goel, dilakukan dengan tujuan untuk menggunakan kemampuan mikrogravitas untuk mengetahui pola pertumbuhan, mutasi bakteri, dan juga desain obat untuk terapinya. Resistensi antibiotik merupakan ancaman terbesar yang dihadapi dunia sekarang ini.

"Kita bisa mendapatkan obat penyembuhnya sebelum mutasi muncul di bumi," kata Goel.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tren pertumbuhan, mutasi dan populasi sama dengan di bumi, namun dalam kecepatan yang diakselerasikan. Penelitian di tahun 2000 menemukan bahwa setelah 40 hari di ruang angkasa, tingkat mutasi gen bakteri meningkat hingga tiga kali lebih besar dibandingkan kelompok kontrol di bumi.

Di tahun 2015, perusahaan Goel Nanobiosym mengembangkan alat diagnosis yang disebut Gene-RADAR, yang bisa digunakan untuk mengevaluasi mutasi dua golongan MRSA.

"Kemampuan kami untuk mengantisipasi mutasi resisten obat dengan Gene-RADAR akan mengarahkan ke antibiotik generasi selanjutnya yang dikembangkan untuk menghentikan penyebaran patogen paling berbahaya di dunia," kata Goel.

3. Menanam sel punca di ruang angkasa

SpaceX juga mengambil beberapa vial sel progenitor jantung untuk dibawa ISS ke ruang angkasa selama satu bulan penuh.

Ahli imunologi transplantasi Mary Kearns-Jonker dari Universitas Loma Linda di California melakukan eksperimen dengan mikrogravitasi terstimulasi pada sel progenitor jantung. Kemudian diketahui bahwa sel dari proliferasi neonatus lebih baik dan lebih tampak seperti sel punca, yang kemudian bisa digunakan untuk memahami pola penuaan.

"Mereka mundur sedikit untuk kemudian maju secara lebih efisien," jelasnya, menambahkan bahwa mikrogravitasi juga bisa memulai jalur genetik selama regenerasi jaringan.

Ruang angkasa juga memiliki potensi terapeutik sebagaimana yang dikatakan oleh peneliti sel punca di Klinik Mayo Florida, Abba Zubair. Zubair mengirim sel punca untuk tumbuh dan ditanamkan di ISS untuk penelitian klinis di bumi.

Bukti awal menunjukkan bahwa sel yang dikembangkan di ruang angkasa lebih sehat, cepat dan tidak menunjukkan ketidak sempurnaan dibandingkan sel punca yang dikembangkan di bumi, karena lingkungan mikrogravitasi menyerupai lingkungan dalam rahim, yang sangat optimal untuk kultur sel punca.

Zubair sekarang berencana untuk mengirimkan sel punca mesenkimal untuk mengetahui apakah mereka bisa menggunakannya untuk menyembuhkan pasien stroke. Di bumi 100 hingga 200 juta sel punca dibutuhkan untuk menyembuhkan pasien dan dibutuhkan waktu berminggu-minggu untuk dikembangkan, yang bisa jadi terlalu lama. Ia berharap ruang angkasa bisa membantu memproduksi sel punca dalam kuantitas yang dibutuhkan untuk terapi. MIMS

Bacaan lain:
Pembiayaan dari industri bisa jadi kontraindikasi dengan tujuan penelitian kontrol infeksi
Hubungan antibiotik dengan perubahan tingkah laku
Lebih dari 20% pasien penderita kondisi serius pernah mengalami salah diagnosis
Penelitian terbaru menunjukkan ada hubungan antara antibiotik dan polip kolon


Sumber:
https://www.statnews.com/2017/04/18/breast-cancer-jpl-space/
http://edition.cnn.com/2017/02/17/health/superbug-mrsa-space-station/
http://www.businessinsider.my/spacex-launching-lethal-bacteria-february-2017-2/?r=US&IR=T#EIlcuGSoFsepqMZt.97
http://www.universityherald.com/articles/70757/20170327/outer-space-as-womb-for-stem-cells.htm
http://www.sciencemag.org/news/2016/12/why-are-scientists-shooting-stem-cells-space
https://medlineplus.gov/magazine/issues/fall07/articles/fall07pg4-7.html