Rida, yang saat ini berusia 53 tahun, tak menyangka dengan kondisi hidupnya saat ini. Ia seolah mendapat anugerah dari Tuhan berupa kesembuhan.

Empat tahun lalu, Rida mendapati di bagian vitalnya tumbuh benjolan. Hampir tiap malam, tubuhnya lemas, dan mengalami pendarahan. Beberapa rumah sakit sudah disinggahinya untuk mendapat jawaban. Namun tidak ada rumah sakit yang memberikan jawaban memuaskan.

Hingga akhirnya ia harus pasrah menerima kenyataan. Rida didiagnosis menderita penyakit kanker stadium IVa.

Dia menyadari, dengan penyakitnya itu, harapan hidupnya menipis. Masa hidupnya tinggal menunggu waktu. Dia pasrah jika ajal menjemput. Namun sebelum ajal tiba, Rida berkelakar ingin akhir manis dalam kehidupannya.

Namun, takdir ternyata berkehendak lain. Rida justru diberi anugerah kesembuhan. Uniknya, ia tidak sembuh melalui operasi atau terapi obat, melainkan dengan terapi “balur” rokok.

Terapi balur rokok

Sebuah klinik di kawasan Otista, Jakarta Timur menawarkan cara unik untuk terapi kesehatan. Griya Balur, nama klinik itu, menyediakan terapi balur. Pasien dibaluri ramuan tradisional, lalu 'diasapi'.

Kunci terapi balur itu sejatinya ada pada asap tembakau. Asap itu dimasukkan melalui hidung, telinga, dan anus. Dipercaya, itu bisa membantu mengeluarkan radikal bebas dari dalam tubuh.

Berbeda dengan produk rokok komersial, tembakau yang dipakai untuk terapi diproses secara khusus dan tidak mengandung merkuri yang membahayakan tubuh. Divine cigarette tersedia dalam 41 jenis rokok sebagai alat terapi kesehatan. Masing-masing mempunyai perbedaan fungsi serta bahan baku.

Rokok itu diklaim baik untuk proses detoksifikasi.
Divine cigarette: Rokok yang menyehatkan (Sumber: jateng.tribunnews.com)
Divine cigarette: Rokok yang menyehatkan (Sumber: jateng.tribunnews.com)

Mungkinkah rokok bisa memberi efek positif?

Profesor Sutiman Bambang Sumitro, Guru Besar Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, mengatakan, “Pemikiran saya, terciptanya rokok kretek yang dibuat nenek moyang, bukan tanpa dasar, jelas dibuat untuk obat batuk. Namun, fakta tersebut tidak ada yang membuktikan secara ilmiah.”

Maka dalam penelitiannya yang berjudul "Inovasi Mereduksi Dampak Negatif Merokok dan Memperkuat Dampak Positif Merokok dalam Memperbaiki Kualitas Hidup", beliau berhasil mengetahui cara untuk menghilangkan radikal bebas dari asap rokok dengan memodifikasi makro molekul yang terkandung dalam asap rokok lewat sentuhan teknologi. Hasil dari penelitian tersebut diberi nama divine cigarette.

Menurut Sutiman, asap rokok berasal dari pembakaran tidak sempurna yang menghasilkan ribuan komponen berbahaya. Dari komponen tersebut, ditemukan sekitar 5.000 komponen yang bisa diamati, seperti aseton (cat kuku), toluidin (cat), metanol (spiritus bakar), polonium (bahan radiaktif), arsen (racun tikus), serta toluen (pelarut industri).

Radikal bebas dari asap rokok memang berbahaya, tapi komponen racunnya bisa diminimalkan. "Hasil penelitian divine cigarette itu masih dalam bentuk fase-fase awal. Karena itu, saya masih merancang penelitian lanjutan," katanya.

Demi uji coba divine cigarette, Sutiman mendirikan laboratorium swasta yang diberi nama Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di Malang. "Biayanya dari para donatur," ujarnya.

Mekanisme aksi divine cigarette

Divine cigarette dikatakan bekerja dengan memanfaatkan asam amino sebagai pembersih dan sisa nanopartikel untuk “mengubah” merkuri menjadi aurum (emas). Nikotin pada dasarnya merupakan alkaloid (dengan gugus C, H, N, O) dengan m.p -79 derajat celsius dan densitas sama dengan satu, sama seperti air.

Dari penelitian sebelumnya, sudah diketahui bahwa ada elemen Aurum (Au atau emas) dalam daun tembakau yang bisa diisolasi dalam bentuk nikotin-aurum cair.

Maka ketika asap divine cigarette masuk ke dalam tubuh, tubuh akan mengeluarkan carian berwarna kecoklatan yang merupakan nikotin. Asap yang merupakan uap nikotin (densitas 1) mengalami kontak dengan busa toksik air-merkuri, dan kemudian larut dalam air. Aurum kemudian mensubstitusi merkuri dalam larutan nikotin (warna coklat-kehitaman di kulit, yang bisa dibuktikan dengan uji spektroskopi absorpsi atom atau amplifikasi asam nukleat).

Mengingat banyaknya kemajuan pengobatan kanker secara fotodinamika dengan memanfaatkan nano partikel, partikel nano aurum dalam tembakau bisa digunakan dalam konsep nanosains dan nanoteknologi untuk membunuh sel-sel kanker dalam tubuh manusia.

Seperti disebutkan sebelumnya, divine cigarette masih dalam tahap percobaan sehingga belum bisa disimpulkan efek rokok ini pada kesehatan manusia. Namun, jika percobaan ini berhasil, tentu saja hasilnya akan menggemparkan dunia kesehatan mengingat banyak sekali penelitian yang menyebutkan efek negatif dari rokok. MIMS

Bacaan lain:
Mengulas kasus "Ganja untuk Istri" Fidelis Ari Sudarwoto dari pandangan medis
Perokok pasif mungkin tidak seberbahaya itu
Apakah kanker muncul karena "nasib buruk"?
Ternyata otak masih bekerja meskipun tubuh sudah tak bernyawa
Hibrida manusia-babi pertama di dunia: Terobosan medis atau dilema etik?
Transplantasi rahim sekarang bisa dilakukan pada manusia
Mengapa obat tidak memberi efek yang sama?


Sumber:
http://regional.kompas.com/read/2017/05/01/09295921/kisah.farida.wanita.yang.terselamatkan.hidupnya.karena.rokok.1.
http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20141105114851-255-9801/mengulik-tembakau-penyembuh-perokok/
http://sains.kompas.com/read/2011/06/29/1835390/Rokok.Bisa.Menyehatkan.Mungkinkah.
http://divinecigarette.com/web/
http://news.detik.com/jawatimur/1543956/divine-cigarette-dibuat-dalam-41-jenis-rokok
http://divinecigarette.com/web/wp-content/uploads/2009/03/proses_divine_filter130209.pdf