Sumpah Hipokrates yang sudah berusia 2500 tahun merupakan salah satu dokumen tertua dalam sejarah kedokteran. Deklarasi Jenewa adalah turunan dari Sumpah Hipokrates asli dengan beberapa perubahan pada aspek etika setelah perang dunia kedua. Deklarasi Jenewa menjadi panduan profesi kedokteran di seluruh dunia dan menjadi aturan moral dalam memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal kepada pasien.

Sampai saat ini adopsi Sumpah Hipokrates masih menjadi perdebatan di kalangan dokter. Banyak yang bertanya-tanya apakah sumpah tersebut masih relevan dengan praktek kedokteran masa kini.

“Saat Anda menjadi dokter baru, biasanya Anda akan menertawakan pengambilan sumpah yang mengatasnamakan dewa-dewi Yunani,” tulis seorang ahli bedah vaskular kepada Medscape. ”Namun seiring dengan berjalannya waktu dan semakin banyaknya masalah etika pengobatan, fungsi sumpah ini pun mulai tampak. Terkadang memang tampak seperti beban, tetapi saat Anda tetap berpegang teguh pada ikrar yang telah diucapkan, Anda akan menyadari bahwa Sumpah Hipokrates adalah permata sejati kemanusiaan – sejak pertama kali disuratkan sampai di era modern seperti sekarang,” ungkap ahli bedah vaskular tersebut merujuk pada sebuah artikel di sebuah warta berita kedokteran menanggapi sebuah pemungutan suara bertema “Inikah waktunya untuk memensiunkan Sumpah Hipokrates?” 

Di berbagai negara, sumpah ini menjadi salah satu bagian kode etik kedokteran sementara beberapa lainnya dijadikan kontrak hukum yang mengikat. Ada juga negara yang bahkan tidak menggunakannya sama sekali sementara lainnya hanya mengadaptasi sumpah tersebut sampai pada batas-batas tertentu.

Amandemen baru Sumpah Hipokrates

Versi terbaru yang diadopsi dari deklarasi tersebut – yang sekarang dikenal dengan ‘Sumpah dokter’ – menangkap beberapa pokok perubahan dan penambahan:
  1. menghargai otonomi dan martabat pasien;
  2. membagikan wawasan kedokteran yang bermafaat untuk pasien dan kemajuan bidang kesehatan;
  3. menjaga kesehatan, kesejahteraan dan kemampuan pribadi agar dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang maksimal.
Lafal sumpah kedokteran dalam bentuk teks lengkap tahun 2017 berbunyi sebagai berikut:

SAYA BERSUMPAH BAHWA:

Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan peri kemanusiaan.

Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya.

Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran.

Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan dan keilmuan saya sebagai dokter.

Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien.

Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan Keagamaan, Kebangsaan, Kesukuan, Politik Kepartaian, atau Kedudukan Sosial, dalam menunaikan kewajiban saya terhadap penderita.

Saya akan memberikan kepada Guru-Guru saya, Penghormatan dan Pernyataan Terima Kasih yang selayaknya.

Saya akan memperlakukan Teman Sejawat saya sebagai saudara kandung.

Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan.

Saya tidak akan mempergunakan pengetahuan Kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan Hukum Perikemanusiaan, sekalipun saya diancam.

Saya ikrarkan Sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.


Menjaga kesehatan pribadi 

Dokter Sam Hazledine dari Queenstown, New Zealand menggoreskan sejarah dengan membuat petisi untuk amandemen tahun lalu, dimana ia mengumpulkan empat ribu lima ratus tanda tangan dengan disertai alasan agar dokter peduli pada kesehatan dirinya sendiri sama seperti pasiennya.

“Saya akan menjaga kesehatan, kesejahteraan dan kemampuan pribadi agar dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang maksimal” yang digaungkan dalam salah satu poin ikrar sumpah terbaru. 

“Para dokter sebelumnya tidak memerhatikan kesehatan dirinya sendiri karena bekerja di bawah paradigma bahwa dokter harus mengorbankan diri demi kepentingan pasien,” ungkap Hazledine. 

Sebelumnya, belum ada ketentuan mengenai dokter untuk fokus pada kesehatan jasmani agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pasien. Langkah yang diambil dalam mengubah isi sumpah tersebut merupakan sorotan pada kekhawatiran hasil studi besar-besaran di Amerika, menunjukkan bahwa 87% dokter mengalami stres atau kelelahan – yang akibatnya berkontribusi pada peningkatan kesalahan medis (medical errors).

“Perubahan resmi deklarasi ini wajib diketahui semua dokter,” tegas Hazledin.

Dengan adanya revisi baru, sumpah ini diharapkan dapat menjadi kode etik global bagi para dokter.

Profesi yang dijalankan oleh dokter saat ini sangat berbeda dibandingkan dulu saat Deklarasi Jenewa yang asli diadopsi pada tahun 1948. Sejak saat itu, Deklarasi ini menjadi dokumen inti etika kedokteran dan versi modern Sumpah Hipokrates yang diciptakan 2500 tahun silam. Kami berharap Deklarasi yang disetujui hari ini dapat digunakan oleh semua dokter di seluruh dunia untuk menguatkan penetapan standar profesi untuk menjaga standar pelayanan kesehatan terhadap pasien,” ungkap Dr Yoshitake Yokokura, pemimpin World Medical Association (WMA). MIMS

Bacaan lain:
Sumpah Dokter Indonesia: Apakah benar ditulis oleh Hipokrates?
Apakah dokter Indonesia sudah merdeka?
Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS) – Terobosan baru Kementerian Kesehatan

Sumber:
https://www.bioedge.org/bioethics/new-hippocratic-oath-for-doctors-approved/12496
http://www.nzherald.co.nz/nz/news/article.cfm?c_id=1&objectid=11932712 
http://www.mdmag.com/medical-news/revised-declaration-of-geneva-could-replace-hippocratic-oath
https://www.wma.net/news-post/modern-physicians-pledge-approved-by-world-medical-association
http://fk.ub.ac.id/profesi/pendidikan/lafal-janji/lafal-sumpah-dokter/