Resep berlebih terus ada meskipun sudah ada panduan klinis dan konsep untuk mencegah perawatan bernilai rendah, menurut penelitian yang dipublikasi online di Annals of Internal Medicine pada 5 Desember 2016 silam.

Survey online dengan partisipan 5.000 dokter anggota American College of Physicians (ACP) menemukan bahwa dari berbagai resep terapi yang tidak sesuai dengan rekomendasi panduan, 27% dokter memilih antibiotik. Dengan demikian, antibiotik menjadi terapi yang paling banyak diberikan dalam jumlah berlebih berdasarkan survey.

"Dalam kebanyakan kasus, antibiotik diresepkan untuk terapi infeksi saluran napas atas, meskipun kebanyakan disebabkan oleh virus," kata Dr. Qaseem.

Penggunaan antibiotik berlebih diikuti dengan penggunaan berlebih perawatan agresif pada pasien dengan ekspektansi kehidupan terbatas, dan pemberian narkotik berlebih, sebagaimana diidentifikasikan oleh 8,6% dan 7,3% dokter secara berurutan.

Sekitar 5% dokter mengidentifikasikan suplemen makanan, seperti vitamin D, multivitamin dan minyak ikan sebagai terapi yang paling banyak dilebih-lebihkan. Persentase dokter serupa juga memilih statin sebagai obat yang banyak digunakan pada lansia untuk mencegah masalah kesehatan.

Mengapa dokter melebih-lebihkan resep obat?

Sekitar 700.000 kematian di dunia disebabkan oleh resistensi antibiotik setiap tahunnya. "Jika tidak dikontrol, jumlah kematian bisa terus meningkat hingga 10 juta pada tahun 2050," kata Menteri Kesehatan Datuk Seri Dr S Subramaniam.

Meskipun demikian, strategi seperti mengedukasi dokter pada penggunaan antibiotik yang benar dan alarm elektronik ditemukan tidak berhasil, sehingga menunjukkan bahwa meskipun sudah memiliki cukup pengetahuan mengenai antibiotik dan menyadari panduan klinis yang ada, dokter masih memberikan resep berlebih untuk beragam alasan lain.

"Dokter yang tidak mengikuti panduan mungkin memiliki alasan baik, atau tidak, sebelum melakukannya," ungkap Dr. David Levine, seorang peneliti di Brigham and Women's Hospital and Harvard Medical School.

"Panduan ini mungkin tidak bisa diaplikasikan pada pasien di depan mereka, atau mereka mungkin tidak menyadari rekomendasi terbaru bagaimana cara melakukan konsultasi terhadap terapi atau prosedur yang mereka pelajari di fakultas kedokteran," tambahnya.

Dr Qaseem juga mencatat bahwa tekanan yang dokter hadapi untuk memenuhi ekspektasi pasien bisa membuat dokter melebih-lebihkan resep obat. Sebagaimana dijelaskan oleh Dr Subramaniam: "Ini merupakan budaya dalam negara ini bahwa dokter akan memberikan antibiotik dan dokter yang tidak memberikannya berarti belum memenuhi kewajiban mereka."

"Dokter juga mungkin melakukan praktek defensif untuk menghindari ancaman malpraktek, atau mencoba memenuhi performa klinis sehingga mereka harus memberikan terapi pelindung ke semua pasien," kata Qaseem.

Dalam kebanyakan negara di Asia, termasuk Malaysia, dokter bertanggung jawab untuk mendispensikan obat, sumber pemasukan yang bisa dieksploitasi melalui resep berlebih.

Mengatasi resep berlebih

Dalam penelitian yang dipublikasi dalam Journal of the American Medical Association (JAMA) di awal tahun ini, pendekatan 'perbandingan-ahli' sangat efektif untuk mencegah resep yang tidak perlu. Dalam satu pendekatan, dokter perlu menambahkan 'catatan antibiotik' yang bisa dilihat oleh orang lain.

Dr Mark Chen, seorang asisten profesor di NUS' Saw Swee Hock School of Public Health juga menunjukkan cara lain untuk menghindari resep berlebih. "Dokter bisa menawarkan tangguhan resep - pasien datang kembali beberapa hari kemudian jika mereka merasa kondisinya semakin memburuk, dan kemudian dokter mendapat kesempatan untuk memeriksa kembali pasien untuk melihat apakah infeksi bakteri benar-benar membutuhkan antibiotik.

Selain itu, memisahkan konsultasi dan pelayanan resep bisa menghindari pasien mengalami kerugian keuangan akibat praktek resep berlebih. MIMS

Bacaan lain:
Menghadapi krisis penggunaan obat
Resep hijau: Dokter meresepkan perubahan gaya hidup
Terlalu banyak resep antibiotik karena kesalahan interpretasi antara dokter dan pasien
Kesalahan penggunaan kotak pil yang mungkin terjadi


Sumber:
http://www.foxnews.com/health/2016/12/06/doctors-see-regular-misuse-antibiotics-narcotics.html
http://www.cbsnews.com/news/doctors-still-overprescribing-drugs-antibiotics/
http://www.thesundaily.my/news/1089439
http://www.straitstimes.com/singapore/health/too-much-antibiotics-and-how-to-stay-a-doctors-hand