Usia tidak bisa digunakan sebagai patokan kedewasaan seseorang. Meskipun mudah digunakan sebagai alat ukur 'kedewasaan', namun manusia terus berubah dan peran sosial pun ikut mengaburkan garis pembatas masa remaja dan dewasa. Inilah masalah yang harus dihadapi saat manusia menciptakan konsep usia remaja dan dewasa.

Sekelompok peneliti baru-baru ini mengeluarkan definisi remaja baru – 10-19 tahun hingga 10-24 tahun – demi mengikuti perubahan sosial yang terjadi dimana semakin banyak manusia menunda (secara sengaja atau tidak) untuk menapaki langkah kehidupan selanjutnya. Misalnya, menyelesaikan pendidikan, menikah, dan menjadi orangtua. Apakah definisi remaja baru ini sesuai dengan kehidupan generasi minelinal, atau hanya sebagai alasan bagi orang dewasa 'kekanak-kanakan' yang menolak berkembang?

Alasan di balik perpanjangan batas usia remaja

Kelompok akademisi, yang diketuai oleh Profesor Susan Sawyer dari Rumah Sakit Anak Royal di Melbourne, Australia, berpendapat bahwa anak-anak saat ini menjalani fase perkembangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Tidak hanya harus melewati masa pendidikan yang lebih lama, bahkan biasanya hingga pendidikan tersier, namun ada pergeseran signifikan dalam hal usia di mana masa dewasa harus dimulai, menurut masyarakat kebanyakan.

Beberapa tahun lalu, artikel yang ditulis oleh Robin Marantz Henig dalam New York Times, secara gamblang menggambarkan fenomena yang oleh para sosiolog didefinisikan sebagai 'jadwal perkembangan kedewasaan'. Konsep 'dewasa', seperti yang dijelaskan dalam ilmu sosiologi tradisional, didasarkan oleh pencapaian lima tahap kehidupan, yaitu: menyelesaikan pendidikan, meninggalkan rumah, mandiri secara finansial, menikah dan memiliki anak.

Banyak orang mungkin tidak setuju dengan definisi yang terkesan 'ketinggalan zaman tersebut'. Demikian juga yang ditunjukkan dalam banyak penelitian, bahwa terjadi peningkatan kecenderungan bagi manusia sekarang untuk mengambil pilihan hidup yang berbeda dengan yang dilakukan orangtuanya.

Apa yang kita putuskan sekarang bukan hanya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang lebih ketat dibandingkan dengan yang dinikmati orangtua, tetapi manusia sekarang juga harus menghadapi normal budaya yang sangat memengaruhi mekanisme pengambilan keputusan. Misalnya saja utang biaya kuliah yang membatasi kita membeli rumah, dan juga peningkatan 'narsisme dalam generasi selfie' dimana semuanya berpusat pada 'diri sendiri'. Banyak perubahan ini membuat kaum milenial terperangkap dan membuat mereka tidak berdaya, secara finansial dan mental, dalam menghadapi dunia.

Dasar biologi masa remaja

Terdapat bukti biologis yang mendukung gagasan untuk memperpanjang masa remaja hingga usia 24 tahun. Studi neurologis selama beberapa dekade menunjukkan penemuan penting dalam mengungkapkan fakta bahwa otak manusia akan terus bertumbuh hingga melewati batas usia remaja (yang berubah-ubah). Khususnya, pada korteks prefrontal yang mengatur perencanaan, ingatan kerja dan keterampilan organisasi. Dengan kata lain, otak remaja belum mencapai kematangan penuh. Pengamatan ini, sebagian, juga menjelaskan mengapa beberapa remaja mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi dan mengambil risiko yang tidak perlu.

"Koneksi di dalam otak tidak sepenuhnya terbagi hingga mencapai usia 22 tahun atau lebih. Jenis kemampuan yang ditunjang konektivitas otak – pengaturan emosi dan keinginan – mungkin akan stabil di awal hingga pertengahan usia 20-an" menurut Profesor Psikologi Laurence Steinberg, dari Universitas Temple.

Perlu digarisbawahi bahwa tidak semua remaja mengalami perkembangan otak dengan kecepatan yang sama. Tingkat perkembangan otak banyak dipengaruhi oleh lingkungan, hereditas dan hormon.

Menjadi dewasa atau tetap kekanak-kanakan?

Sejak dipublikasikan, hasil penelitian tersebut banyak menjadi topik diskusi di kalangan akademisi. Banyak respon muncul, beberapa ahli setuju dengan gagasan memperpanjang batas usia remaja sebagai strategi untuk "memberdayakan kaum muda dengan mengenali perbedaan mereka", sedangkan yang lain berpendapat bahwa tindakan tersebut hanya memperpanjang 'sifat kekanak-kanakan' manusia.

Dampak dari perubahan tersebut, jika diterapkan, tak bisa dianggap remeh. Tidak hanya batasan usia yang memiliki pengaruh besar terhadap bagaimana kita memandang remaja, hal ini juga membantu menginformasikan kebijakan dan menentukan jumlah dukungan yang akan diberikan masyarakat. Pertimbangan yang teliti harus diprioritaskan sebelum melakukan tindakan lebih lanjut.

Terlepas dari ketentuan yang ada, kita harus menyadari bahwa berkembang adalah bagian dari kehidupan. Prosesnya bisa memakan waktu puluhan tahun, bahkan seumur hidup, untuk mencapainya. Hal itu akan terjadi jika kita percaya dan dapat dengan tegas menyatakan: Saya akhirnya sudah dewasa. MIMS

Bacaan lain:
Tahun 2030, diprediksi rata-rata manusia bisa hidup hingga usia 90 tahun
Orang overweight memiliki otak "10 tahun lebih tua" daripada orang normal
Tua dan kecanduan: Mengungkap epidemi tersembunyi penyalahgunaan zat pada lansia

Sumber:
http://www.thelancet.com/journals/lanchi/article/PIIS2352-4642(18)30022-1/fulltext
http://www.nytimes.com/2010/08/22/magazine/22Adulthood-t.html?pagewanted=all
https://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/teenbrain/work/adolescent.html
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3621648/
https://www.npr.org/2016/07/12/485087469/me-me-me-the-rise-of-narcissism-in-the-age-of-the-selfie
http://www.bbc.com/news/health-42732442
http://www.bbc.com/news/magazine-24173194