Pada hari Jumat ini, tim kepolisian dari Malaysia mengeluarkan pernyataan bahwa substansi yang menempel di mata dan wajah Kim Jong Nam adalah racun saraf VX, yang dilarang penggunaannya di dunia internasional.

Sejarah racun saraf

Racun saraf merupakan senyawa kimia paling toksik, golongan organofosfat antikolinesterase, yang digunakan selama perang. Racun ini pada mulanya dikembangkan tahun 1930an untuk pestisida oleh peneliti Jerman. Namun seiring berjalannya waktu, racun ini dijadikan sebagai senjata dan persediaan, tetapi tidak pernah digunakan, oleh Nazi Jerman. Hanya Irak yang pernah menggunakannya saat berperang melawan Iran, dari tahun 1984 hingga 1987.

Tabun (GA), soman (GD), sarin (GB), siklosarin (GF) dan VX merupakan empat racun saraf yang pernah dikembangkan. VX merupakan substansi paling toksik yang pernah ada dalam sejarah neurobiologi, di luar toksin biologis. Satu tetes cairan VX sudah cukup untuk membunuh banyak manusia.

VX merupakan satu-satunya racun saraf yang paling tidak volatil, memiliki warna kekuningan, dan satu-satunya racun saraf yang mempunyai konsistensi seperti minyak. Sehingga lebih mudah dipaparkan melalui kulit dan tidak akan rusak hingga berjam-jam, berhari-hari, atau bahkan berminggu-minggu.

Tanda dan gejala keracunan

Jika terhirup, pasien bisa jadi mengeluhkan sesak napas, nyeri dada, dan batuk. Jika terus terpapar, pasien kemudian akan mengalami mual dan muntah dan sistem respirasi menjadi terhenti akibat peningkatan sekresi dan bronkospasme. Pasien juga mungkin mengalami kelemahan otot yang kemudian menyebabkan paralisis. Henti napas bisa menjadi penyebab utama kematian.

Meskipun demikian, ketika ada satu tetes racun saraf menyentuh kulit, daerah yang terpapar kemudian akan berkeringat. Ketika sudah terpenetrasi, faskulasi terlokalisasi bisa ditemukan di otot bawahnya. Setelah terjadi absorpsi, racun saraf mulai menunjukkan tanda dan gejala sistemik, seperti faskulasi, mual, defekasi dan urinasi tak terkendali, kejang, dan paralisis. Gagal napas merupakan penyebab utama kematian pasien disebabkan efek depresan pernapasan pusat dan paralisis muscular dengan atau tanpa bronkorea atau bronkokonstriksi.

Cara penanganan

Jika ada pasien mengalami keracunan akibat zat tersebut, pemberian bantuan pernapasan merupakan poin terpenting. Di tahun 1995, Jepang telah membuktikan bahwa meskipun pasien telah berada dalam kondisi henti jantung total, namun pasien masih bisa diselamatkan melalui pemberian resusitasi dan bantuan pernapasan, serta diikuti dengan pemberian terapi antidot.

Prinsip terapi antidot untuk keracunan racun saraf masih tetap sama dengan yang digunakan Inggris tahun 1945 silam. Semua negara menggunakan strategi yang sama, yaitu:
1. Obat antikolinergik (biasanya atropine sulfat) untuk mengatasi krisis kolinergik akut,
2. Oxime untuk secara reaktif menghambat AChE, dan
3. Antikonvulsan untuk mengatasi atau mencegah kejang dan kerusakan saraf.

Bangsa Jepang telah membuktikan bahwa korban yang telah keracunan racun saraf tetap bisa selamat dari serangan racun paling mematikan ini. Saat itu, dari lebih dari 1.050 korban, hanya 12 orang yang meninggal.

Selain itu, penelitian juga pernah membuktikan bahwa tiga individu dengan seragam militer biasa (bukan seragam pelindung) tersemprot VX 200 mg atau 20 kali LD50. Setelah 8 jam, tidak satu pun subjek menunjukkan gejala, tanda, atau tes laboratorium yang menggambarkan paparan racun. Ini menunjukkan bahwa intervensi sederhana, seperti dengan cepat menutup daerah kulit yang terpapar, dengan cepat keluar dari ruangan beracun, menahan napas atau menutup mulut dengan kain (misalnya), dan mungkin menutup mata untuk meminimalisir paparan ke mata bisa menurunkan tingkat toksisitas racun saraf. Meskipun demikian, orang yang selamat sekalipun bisa tetap menunjukkan gejala gangguan somatik, kognitif, dan psikologi beberapa tahun setelahnya. MIMS

Bacaan lain:
Menghadapi krisis penggunaan obat
Pembunuh berantai meracuni kantung infus pasien
Peneliti dalam misi untuk membuktikan nilai terapeutik karbon monoksida
Dilarangnya krantom menghambat penemuan painkiller baru


Sumber:
http://jamanetwork.com/journals/jamaneurology/article-abstract/785766
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0022510X06002929
http://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/0885066603258659?journalCode=jica
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0749070405703742