Saat revolusi preprint (publikasi sebelum terbit) dimulai dengan rilisnya arXiv – penyimpanan data sains berbasis online – pada bulan Agustus 2011, muncul kehebohan di komunitas ilmiah. Banyak yang menganggap revolusi ini sebagai "misi terselubung" untuk menghindari kajian ahli – proses penting dalam sistem pendaftaran jurnal.

Meskipun demikian, ide ini bukanlah ide baru. Usaha serupa, namun terlupakan, juga pernah dilakukan di tahun 1960an oleh National Institutes of Health (NIH), tetapi berakhir dengan kegagalan. Sekarang, meskipun muncul kontroversi preprint, namun semuanya tampak terkontrol dengan penggunaan arXiv, situs ini masih bekerja dan berjalan – dengan jumlah unduhan melebihi 1 miliar, dan akan terus bertambah.

Apakah preprint bermanfaat bagi penelitian ilmiah?

Baru-baru ini, peliti dari Stanford berhasil menciptakan terobosan dengan membangun algoritma yang dapat mendiagnosis penyakit berdasarkan interpretasi gambaran rontgen. Algoritma ini disebut CheXnet dan dapat mendiagnosis 14 macam kondisi medis. Hanya dalam waktu satu bulan, CheXnet menyaingi spesialis radiologi dalam mendiagnosis pneumonia secara akurat. Ini hanyalah satu dari berbagai manfaat yang dipublikasikan dalam arXiv. Sejak dirilis, arXiv telah menginspirasi situs web lainnya (dalam berbagai disiplin ilmu) dan secara bertahap mengubah cakupan publikasi ilmiah. Sekarang ratusan jurnal dapat diunggah pada server preprint sebelum dipublikasikan.

Cepatnya penyebaran hasil penelitian merupakan salah satu manfaat terbesar yang diperdebatkan oleh penggiat preprint, mengingat sistem pengajuan jurnal konvensional yang dapat memakan waktu berbulan-bulan kadang bertahun-tahun sebelum dapat dipublikasikan. Hal ini juga membantu peneliti menjaga antusiasme mereka. "Publikasi merupakan sebuah proses panjang yang dapat menyedot antusiasme kerja Anda dari waktu ke waktu," keluh Stephen Royle, seorang ahli biologi sel di Univeristas Warwick di Coventry, United Kingdom. Dia menambahkan, "Menerbitkan makalah disaat Anda masih bersemangat adalah perasaan yang luar biasa."

Penyebarluasan hasil studi secara cepat juga dapat membuat peneliti pada lingkup bidang tertentu 'mengetahui' perkembangan terbaru, yang bermanfaat dalam jangka panjang. Needhi Bhalla, Profesor Biologi Molekuler, Sel & Perkembangan di Universitas California Santa Cruz menulis dalam artikelnya, "Kemampuan memberitahukan peneliti lain tentang perkembangan terbaru pada laboratorium sesorang sehingga mereka dapat menyempurnakannya akan mempercepat kemajuan bidang ilmu dibandingkan memulai dan menyesuaikannya dengan proses kajian jurnal oleh peneliti lain." Artikel ini diterbitkan dalam Molecular Biology of the Cell.

Pada artikel tersebut, Bhalla juga menambahkan empat keuntungan lain dalam sistem preprint seperti penetapan prioritas penemuan, yang mengenali karya seorang individu sebagai pionir penemuan tertentu. Preprint juga membantu menunjukkan produktivitas dan kontribusi peneliti dalam suatu bidang, saat manuskrip sedang dikaji dan diperiksa sebelum dipublikasikan. Sebagai tambahan, preprint juga menyediakan layanan untuk menyebarkan hasil karya seseorang tanpa memungut bayaran.

Apakah komunitas medis siap mengikuti tren preprint?

Preprint dapat meningkatkan produktivitas dan kontribusi peneliti di lapangan
Preprint dapat meningkatkan produktivitas dan kontribusi peneliti di lapangan

Gagasan preprint sebagai masa depan penelitian saintifik berhasil menarik banyak kritikan. Terutama saat konsep yang sama diaplikasikan dalam domain klinis, dimana akan memunculkan berbagai kekhawatiran di kalangan medis.

Beragam reaksi ditunjukkan setelah ahli jantung dari Yale, Harlan Krumholz berencana merilis server preprint khusus untuk hasil penelitian klinis, yang bernama MedArXiv, pada Kongres Internasional Kedelapan tentang Resensi Penelitian dan Publikasi Ilmiah. Tanggapan beragam muncul – perhatian utama muncul pada kekhawatiran terapi dan diagnosis sendiri oleh pasien. Howard Bauchner, pemimpin redaksi Journal of American Medical Association (JAMA), menyatakan bahwa dia 'terkejut' Krumholz tidak menyertakan potensi risiko kesehatan pasien dengan merilis makalah yang belum dikaji dalam ceramahnya.

Steven Goodman, ahli epidemiologi dan dekan penelitian klinis dan translasi di Universitas Stanford di Palo Alto, mengusulkan agar hal tersebut dilakukan dengan berhati-hati pada bidang medis tertentu. Namun Krumholz tampaknya tidak tertarik dengan ide tersebut. "Saya tidak akan membatasi pengguna," ungkapnya.

Apakah komunitas medis akan menerima atau menolak masih belum jelas hingga sekarang. Meskipun preprint sedang dihadapkan dengan status quo dalam bidang publikasi jurnal, harapan dihapuskannya kajian penelitian yang konvensional mungkin masih tampak tidak masuk akal. Namun, ditengah kontroversi sekitar revolusi preprint, para peneliti diharapkan untuk tidak mengabaikan inti dan integritas sebuah penelitian. MIMS

Bacaan lain:

Waspada terhadap jurnal predator – peringatan dari hasil penelitian terbaru
3 sumber jurnal gratis yang bisa dimanfaatkan oleh tenaga kesehatan
Kredibilitas jurnal saintifik: Apa makna dari faktor R?

Sumber:
https://arxiv.org/
https://www.statnews.com/2017/11/16/original-biology-preprint-system/
https://news.stanford.edu/2017/11/15/algorithm-outperforms-radiologists-diagnosing-pneumonia/
https://news.cornell.edu/stories/2017/11/one-billion-downloads-and-counting-arxiv
http://www.sciencemag.org/news/2017/09/are-preprints-future-biology-survival-guide-scientists
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4831872/
http://www.sciencemag.org/news/2017/09/plan-new-medical-preprint-server-receives-mixed-response