Saat obat baru untuk terapi kanker dan penyakit lain masuk ke pasar, harganya akan langsung dinaikkan secara drastis tanpa transparansi harga. Hal ini kemudian membuat produsen obat ditekan untuk menurunkan harga penjualan obat.

Perdebatan mengenai harga obat menjadi topik umum di AS, dan masalah harga obat juga menjadi perhatian dunia terutama saat anggota World Health Organisation (WHO) meminta untuk dilakukan "harga yang adil."

Di Eropa, beberapa firma Jerman lebih memilih untuk tidak menjual obat daripada menurunkan harga obat, sedangkan di Inggris dikeluarkan kontrol biaya baru untuk produk mahal bulan lalu. Sedangkan Cina dan Jepang - dua pasar terbesar di Asia untuk produk farmasetik - juga memotong anggaran, meskipun harga obat baru masih belum mencapai negara yang lebih miskin.

"Bagus jika kita memiliki pilihan terapi baru tetapi kita harus memikirkan bagaimana cara membuatnya menjadi lebih terjangkau," kata Andrew Rintoul, ahli ekonomi kesehatan WHO yang mengatur forum biaya obat.

Kurangnya transparansi harga menjadi satu masalah serius

Meskipun Thomas Cueni, seorang direktur umum baru International Federation of Pharmaceutical Manufacturers and Associations, menolak pernyataan yang menyebutkan bahwa pengeluaran biaya untuk obat merupakan hal yang merusak sistem, namun Rintoul mengatakan kurangnya transparansi harga masih menjadi masalah utama untuk para pemegang kebijakan.

Di sektor publik, pemerintah meminta industri farmasi membuka biaya R&D dan produksi untuk mempermudah negosiasi. Namun, industri farmasi enggan memberikan detail faktor yang membuat tingginya harga obat.

"Industri harus ikut berperan dan mendukung proposisinya," kata Cueni, yang khawatir mengenai pertemuan WHO lalu.

Meskipun ada beberapa obat genetik yang sudah tidak terikat paten dan dihargai lebih murah, namun pasar bisa jadi kekurangan suplai saat harganya lebih rendah. Dengan demikian, ahli menyarankan untuk menentukan harga minimal untuk memastikan sirkulasi produk penting di pasar.

WHO mengeluarkan pendekatan baru untuk menggunakan obat biosimilar

Untuk menyelesaikan masalah akses terbatas dan obat yang mahal di negara miskin, WHO mengeluarkan proyek pilot tahun ini untuk mempelajari potensi menggunakan obat biosimilar, terutama untuk obat kanker berteknologi tinggi yang sangat mahal. PBB juga mengeluarkan perintah serupa untuk menemukan pilihan insulin biosimilar untuk pasien.

Mulai September, WHO akan menerima aplikasi dari produsen obat yang bisa memproduksi obat kanker generik, termasuk rituximab dan transtuzumab yang didaftarkan dalam obat penting WHO, demi memperluas distribusi obat di dunia.

"Produk bioterapi inovator seringkali lebih mahal di beberapa negara, sehingga biosimilar merupakan satu kesempatan baik untuk memperluas akses dan mendukung negara-negara untuk meregulasi dan menggunakan obat ini," kata Marie-Paule Kieny, asisten direktur umum WHO.

Konflik kepentingan dari perspektif dokter

Meskipun sudah mempertimbangkan penggunaan obat biosimilar, namun penelitian terbaru yang dilakukan oleh Ian Larkin, seorang asisten profesor di Universitas California, Los Angeles, Fakultas Manajemen Anderson, menyatakan adanya konflik kepentingan dari perspektif dokter ketika meminta obat dari penjual obat.

Menurut hasil penelitian, dokter yang bekerja di rumah sakit dimana ada agen pemasaran sangat terbatas akan cenderung jarang mempromosikan obat bermerk dan lebih banyak meresepkan obat generik. Namun, agen pemasaran yang sering bertemu dokter dan memberikan makan dan hadiah juga akan memberikan hasil berbeda.

Faktanya, beberapa dokter ditemukan mendapat penghasilan lebih banyak dengan bekerja bersama dengan obat dan perusahan alat kesehatan untuk lebih banyak memberi resep obat bermerk meskipun tidak terlalu efektif atau bukan merupakan terobosan medis yang lebih besar. Meskipun konflik kepentingan sudah sangat umum, namun hal ini sangat memengaruhi pola peresepan obat oleh dokter.

Dengan demikian, Larkin mengatakan bahwa penting untuk membuat kebijakan yang mengatur pemasaran obat farmasetik dan di waktu yang sama, memikirkannya dengan hati-hati dan meliputi komunitas medis untuk mengeksekusi kebijakan secara lebih efisien. MIMS

Bacaan lain:
Apakah obat biosimilar benar-benar lebih murah?
4 sumber informasi obat dan farmakologi yang wajib dimiliki
Apa itu tanggal kedaluwarsa obat?
Bisakah AI mengubah harga obat dan mensuplai obat untuk generasi selanjutnya?


Sumber:
http://www.reuters.com/article/us-pharmaceuticals-pricing-analysis-idUSKBN1801L9
http://www.foxnews.com/health/2017/05/04/who-to-explore-biosimilar-drugs-in-effort-to-make-treatments-available-in-poorer-countries.html
http://www.washingtontimes.com/news/2017/may/4/who-asks-manufacturers-develop-generic-cancer-drug/
http://www.npr.org/sections/health-shots/2017/05/02/526558565/doctors-prescribe-more-generics-when-drug-reps-are-kept-at-bay