Dilema etik selalu menjadi topik perdebatan dalam praktek kedokteran yang bertujuan ‘mencari keuntungan’. Pada tahun 1969, laporan dari AMA Judicial Council Opinion and Report secara gamblang menyatakan bahwa “praktek kedokteran tidak diperbolehkan dilakukan untuk tujuan komersil, apalagi sebagai komoditas jual-beli.”

Namun pada tahun 1957, AMA board of trustees menyatakan bahwa “Perjanjian keuangan antara dokter dan rumah sakit, perusahaan ataupun badan usaha lainnya penting dan berkaitan dalam menentukan beretika atau tidaknya perjanjian tersebut. Kami yakin ke depannya jumlah pendapatan dokter disertai pengambilan keuntungan dari jasa pelayanan institusi atau bukan sama sekali tidak berhubungan dengan prinsip etika yang dimaksud.

Garis pembatas yang memisahkan antara keuntungan dan etika kedokteran menjadi semakin tidak jelas. Meskipun demikian, tahun ini Medical Group Management Association (MGMA) merumuskan suatu kunci pokok pada pertemuan tahunan 2017 MGMA Data Dive Better Performance. Salah satu kesimpulan yang diambil termasuk memahami standar perbaikan tindakan operasi, keuntungan, produktivitas dan penghargaan.

Performa yang baik mendatangkan keuntungan

Menurut laporan tersebut langkah termudah untuk meningkatkan keuntungan adalah dengan memperbaiki kualitas penanganan pasien. Penelitian dilakukan pada studi tentang kinerja baik mulai dari sistem administrasi pasien yang lebih cepat, janji-temu pada hari yang sama, dan meminimalisir pembatalan pelayanan kesehatan. Dari hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa dokter dengan kinerja penanganan pasien yang baik justru lebih produktif dan sebagai gantinya mereka mendapatkan kompensasi yang lebih.

Selain itu, penelitian menemukan bahwa praktek dengan performa pelayanan lebih baik – yang dimiliki oleh dokter sendiri menghabiskan biaya lebih rendah untuk teknologi informasi per jumlah waktu kerja dokter dibandingkan dengan semua praktek lain yang dilaporkan; sedangkan rumah sakit  dilaporkan menghabiskan lebih banyak uang untuk teknologi informasi. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa praktek kesehatan dengan performa lebih baik menghabiskan lebih sedikit biaya untuk biaya operasional.

Observasi: Lebih banyak bukan berarti lebih baik

Sebelum MGMA melaporkan penemuan mereka, sekelompok dokter telah berencana untuk merintis usaha praktek kedokteran agar bisa menutup biaya pengeluaran dan menghasilkan keuntungan.

Menurut Tessie Quattlebaum, CHBC, FACHE, presiden dan kepala eksekutif kantor Quantrex & Healthcare business consultant di Libum, Georgia – salah satu cara untuk memperbaiki praktek kedokteran di sebuah institusi adalah dengan mempertahankan cakupan jumlah pasien mereka.

Saat suatu instansi menambah jumlah cakupan pasien, mereka juga harus meningkatkan jumlah tenaga kerja serta fasilitasnya. Quattlebaum berkata dia memperkirakan cakupan pasien yang ditangani dokter lebih kurang 1900 pasien/tahun. 

"Dari satu pasien, bukan keuntungan USD1000 yang dicari, tetapi USD2000," catat Crème

Andrew Cremé, MBA, seorang konsultan dengan gelar MD Practice Consulting, Lake Mary, Florida berkata bahwa praktek kesehatan dengan target khusus pengobatan keluarga, bisa meraup keuntungan lebih besar pada konsultasi dan lebih sedikit untuk pelayanan tambahan. Jika praktek kesehatan menawarkan lebih banyak pelayanan tambahan, maka mereka tidak membutuhkan terlalu banyak pasien untuk memaksimalkan keuntungan.

“Saat mereka menangani pasien, mereka  tidak akan mengambil keuntungan hanya USD1000 per tahun, namun mereka akan menarik total USD2.000 pada setiap pasien per tahun,” pungkas Crème.

Crème merujuk pada cara lain untuk meningkatkan keuntungan adalah dengan meminimalisir pengeluaran tambahan. Tempat praktek umumnya mewajibkan hal seperti asuransi malpraktek, biaya fasilitas, dan harga pasaran yang sesuai pada tempat praktek untuk memastikan semua kontrak bisnis sesuai dengan yang direncanakan agar nantinya tidak mengeluarkan biaya melebihi perkiraan. Tempat praktek juga harus memperhatikan biaya sumber daya manusia, biaya karyawan, biaya pemasaran, kredensial dan perkembangan teknologi informasi secara berkala agar dapat mengurangi biaya-biaya yang tidak diperlukan.

Biasanya biaya terbesar yang dihabiskan selain untuk gaji dokter adalah fasilitas-fasilitas yang digunakan sehari-hari dalam praktek, menurut Crème. Biaya sewa bangunan saja dapat mencapai USD15.000 per bulan (menurut laporan tahun 2013) belum termasuk biaya peralatan.

Standar pelayanan yang tinggi untuk imbalan jasa yang tinggi, dimana kerjasama mungkin bukan solusinya

Untuk mengurangi biaya fasilitas, banyak tempat praktek memilih untuk melakukan kerjasama. Namun sebuah studi pada tahun 2013 menyingkapkan bahwa kerjasama hanya memotong sedikit biaya yang dikeluarkan. Laporan tersebut menyebutkan bahwa perjanjian semacam itu dapat memberikan kekuatan negosiasi kepada pihak yang membayar, hampir mengarah pada praktek berlebihan, dan memiliki perubahan efek yang signifikan. 

Sebagai bukti pada diskusi oleh ahli kesehatan pada tahun 2013 dan penemuan oleh MGMA bahwa suatu praktek kedokteran tidak perlu mempertanyakan etika dalam meningkatkan pendapatan.

Saat Anda melakukan hal yang benar, tentunya Anda juga akan mendapatkan hasil yang setimpal. Kita menemukan bahwa tempat praktek yang menggelontorkan biaya yang banyak juga mendapatkan pemasukkan yang besar juga. Karena adanya Return on Investment (ROI) permodalan dan sumber daya manusia membantu dokter untuk lebih produktif. Selalu ada imbalan yang didapatkan pada praktek klinis yang dikelola dengan baik dan benar,” tegas David Gans, anggota senior MGMA urusan industri. MIMS

Bacaan lain:
Sumpah Dokter Indonesia: Apakah benar ditulis oleh Hipokrates?
Tips bagi dokter yang ingin mulai berpraktek
Pasien atau konsumen: Garis pembatas pelayanan di apotek

Sumber:
https://www.medscape.com/viewarticle/886816_1
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK216766/
http://medicaleconomics.modernmedicine.com/medical-economics/news/modernmedicine/modern-medicine-feature-articles/6-keys-profitability?page=full