Pertemuan tahunan Clinical Trials on Alzheimer's Disease (CTAD) ke-10 yang berlangsung awal bulan November di Boston, harus menghadapi kenyataan pahit akibat beberapa kegagalan penelitian, meskipun beberapa penelitian baru masih tampak cukup menjanjikan.

"Kami mencoba mengobati dan mencegah demensia," ujar Dr Maria Carrillo, kepala petugas ilmu pengetahuan di Asosiasi Alzheimer. "Ini mungkin salah satu kenyataan yang paling sulit diterima dalam sejarah panjang ilmu pengetahuan dan kedokteran."

Meskipun penelitian mengenai Alzheimer tetap harus menghadapi berbagai tantangan, namun Universitas Stanford berhasil menyampaikan kabar baik.

Darah muda untuk kaum lanjut usia

Peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Stanford melaporkan keberhasilan dalam uji klinis fase awal yang meneliti tentang  keamanan, kegunaan dan kepraktisan infus plasma darah dari pendonor muda untuk pasien penderita Alzheimer ringan hingga sedang.

Peneliti mengamati 18 pasien dan ingin mengetahui apakah plasma manusia bisa memberikan efek buruk pada pasien. Hasilnya bukan hanya menunjukkan sedikit efek samping – seperti gatal-gatal yang diderita subjek penelitian, tetapi juga menunjukkan perbaikan kemampuan mengingat seperti mengingat obat yang digunakan.

"Kami pikir intervensi ini cukup aman dan begitulah yang kami temukan," tutur Dr Sharon Sha. "Yang menarik adalah dalam waktu singkat kami menemukan peningkatan kemampuan fungsional."

Penelitian PLasma for Alzheimer's Symptom Amelioration (PLASMA) dimaksudkan untuk menguji hipotesis Tony Wyss-Coray, PhD, profesor neurologi dan ilmu saraf di Stanford dan seorang ilmuwan senior di Sistem Perawatan Kesehatan Veteran Affairs Palo Alto. Mengingat penelitiannya sebelum ini membuktikan bahwa faktor dalam darah tikus muda "dapat menangkal dan membalikkan efek penuaan otak yang sudah ada sebelumnya" pada tikus yang lebih tua.


"Saya tertarik untuk melihat bahwa pemberian infus plasma berulang kepada lansia penderita Alzheimer merupakan intervensi yang aman dan bahwa kami dapat melanjutkan penelitian ini ke tahap yang lebih besar," sebut Wyss-Coray. "Tapi, saya juga cukup realistis dan mengetahui bahwa akan sangat mudah menyembuhkan penyakit tersebut pada hewan kecil namun jutaan kali lebih sulit jika diterapkan pada manusia."

Penelitian sejenis lainnya yang dilakukan terhadap tikus, percobaan SAPHIR melaporkan bahwa Probiodrug PQ912 dapat menurunkan agen penanda inflamasi dan kerusakan koneksi saraf antar sel pada pasien Alzheimer. Peneliti dari Pusat Medis Universitas VU di Amsterdam menemukan peningkatan kadar enzim glutaminilsiklase yang tinggi di otak pasien Alzheimer. PQ912 bekerja dengan menghambat enzim tersebut. Penelitian terhadap tikus yang diinduksi Alzheimer menunjukan bahwa PQ912 bisa memperbaiki kemampuan kognisi hewan.

Percobaan yang sedang berlangsung mengharapkan hasil yang menguntungkan

Uji coba PLASMA dan SAPHIR bukan satu-satunya informasi menjanjikan dalam CTAD. Injeksi virus biogenik aducanumab juga memberikan efek jangka panjang. Hasil biogenik menunjukkan bahwa setelah tiga tahun, tidak ada tanda amyloid, plak beracun yang diduga merupakan penyebab Alzheimer. Hasil ini ditemukan pada pasien yang mendapat dosis aducanumab tertinggi saat scan PET.

Meskipun demikian, peneliti tetap mendapat hasil yang sama setelah 2 tahun, sehingga disimpulkan bahwa efek obat dalam menghilangkan amyloid tampaknya tidak berubah dalam 12 bulan terakhir.

Geoffrey Porges, seorang analis bioteknologi di Leerink, mengatakan, "Sangat bagus jika aducanumab bisa memberikan scan amyloid negatif setelah dua tahun, namun efek obat terhadap kemampuan kognisi pasien tampaknya paling baik dalam rentang waktu yang sama pula. Begitu pasien pengguna obat dosis tinggi mencapai rentang waktu dua tahun, skor uji mental mereka juga menurun hingga nilai yang mirip dengan pengguna aducanumab dengan dosis tidak efektif. Hal tersebut membuat data Biogen agak rancu, namun tetap bisa dinyatakan positif."

Hasil Biogen, bagaimanapun, belum cukup meyakinkan karena mereka berada dalam  percobaan fase tiga, yang akan selesai tahun 2019. Biogen saat ini sedang menjalankan dua percobaan yang sama terhadap 2.700 pasien. Hasilnya akan dibandingkan dengan plasebo dan disajikan secara lengkap. Apalagi jika hasilnya positif, Biogen akan menjadi penemu pertama  terapi modifikasi Alzheimer.

Sayangnya, tidak semua percobaan memberikan hasil yang berhasil. Hipotesis Merck adalah jika targetnya adalah enzim yang disebut BACE, produksi amiloid dapat dihentikan sebelum memiliki kemampuan bertambah banyak di otak dan menghambat fungsi kognitif. Namun, data Merck menunjukkan bahwa pemblokiran terhadap BACE yang dilakukan dalam percobaan, gagal mengobati pasien Alzheimer sebanyak 2.000 orang.

Uji coba Merck "mungkin yang terakhir dari jenisnya," ungkap seorang wakil presiden senior di Eli Lilly, Dr Dan Skovronsky, yang dijadwalkan untuk mengambil alih operasi penelitian perusahaan pada tahun depan. "Semakin banyak kita belajar, semakin kita berpikir bahwa kita harus mulai mengobati lebih awal dan lebih awal lagi," tambahnya. MIMS

Bacaan lain:
Aktivitas otak – Bagaimana otak bekerja
5 penemuan besar penelitian Alzheimer yang diumumkan di AAIC 2017
Keseimbangan yang rumit: TREM2 pada penyakit Alzheimer

Sumber: 
https://www.statnews.com/2017/11/06/alzheimers-clinical-trials/
https://medicalxpress.com/news/2017-11-trial-blood-plasma-infusions-alzheimer-safe.html
https://alzheimersnewstoday.com/2017/10/31/probiodrug-to-present-phase-2a-trial-results-at-alzheimers-conference-in-boston/
http://nationalpost.com/health/first-study-shows-hints-young-blood-could-treat-alzheimers