Menurut banyak penelitian, banyak pasien tidak mematuhi aturan pakai obat – tidak sesuai dengan yang diresepkan – sehingga membuat dokter kesulitan memberi terapi dan memantau efikasi obat yang diberikan. Seperti yang diutarakan oleh Dr William Shrank, kepala bidang medis dan perencanaan kesehatan di Pusat Medis Universitas Pittsburg, "Saat pasien tidak patuh pada aturan pola hidup dan terapi, pasien kemudian harus menanggung konsekuensi berat yang pada akhirnya akan merugikan pasien itu sendiri."

Saat ini, teknologi hadir sebagai solusi masalah tersebut. Dengan "pil digital", dokter bisa mengetahui apakah pasien mengonsumsi obat mereka. Dan ini merupakan tablet oral pertama dengan sensor pelacak – yang juga merupakan jenis obat digital pertama yang berhasil mendapat persetujuan FDA.

Manfaat pil digital di bidang medis

Tablet oral, Abilify MyCite, adalah pil dengan sistem pelacak sensor yang bekerja sebagai antipsikotik untuk pasien schizophrenia, penderita bipolar, depresi dan Tourette.

Setelah ditelan, sensor yang terbuat dari tembaga, magnesium, dan silikon akan aktif saat berinteraksi dengan cairan gastrointestinal. Kemudian, pil akan menghasilkan sinyal elektrik dan mengirimkannya kepada stiker yang ditempelkan pada toraks kiri pasien, sebelum akhirnya terdisintegrasi. Sinyal kemudian akan dikirimkan ke aplikasi di ponsel pintar Anda. 

New technology used in Abilify’s digital pill can collect data on whether patients have taken their medicine, as well as patients’ own reports on their mood. Photo credit: The New York Times
New technology used in Abilify’s digital pill can collect data on whether patients have taken their medicine, as well as patients’ own reports on their mood. Photo credit: The New York Times

Melalui aplikasi, dokter dan pasien dapat saling memantau tanggal dan waktu mengonsumsi obat sekaligus jumlah aktivitas yang dilakukan pasien. Selain itu, pasien juga bisa menambah daftar suasana hati dan waktu istirahat ke dalam database aplikasi yang dapat diakses dokter dan orang lain atas izin pasien tersebut.

Pasien yang setuju dengan pengobatan digital ini, harus menandatangani surat persetujuan untuk mengizinkan dokter – termasuk anggota keluarga hingga maksimal 4 orang – untuk mengakses dan menerima data. Pemberitahuan yang dikirimkan kepada semua orang dapat dihentikan kapanpun oleh pasien melalui aplikasi telepon pintar.

Pengobatan digital ini ditujukan untuk menginspirasi pasien agar patuh minum obat sesuai resep, sekaligus membantu dokter mengetahui apakah obat memberikan efek yang diinginkan atau untuk menentukan dosis yang sesuai untuk pasien. "Saat pasien menggunakan solusi ini, mereka dapat mengerti bagaimana cara menggunakannya, efeknya pada tubuh dan kami dapat mencari berbagai macam cara agar mereka tetap patuh melakukannya," tegas Andy Thompson, CEO dari Proteus Digital Health, pencipta teknologi sensor dan stiker tempel yang tergabung di Abilify MyCite.

Pil digital menarik perhatian publik

Walaupun pil digital memiliki banyak kelebihan, namun beberapa dokter dan pasien menyuarakan kekhawatirannya. Dokter dan pasien bertanya-tanya bagaimana pil – yang ditujukan untuk penderita gangguan mental – bisa diterima; mengingat pasien yang tidak patuh biasanya merupakan penderita masalah serius, atau mereka yang menderita paranoia dan gangguan kesadaran.

"Kebanyakan pasien tidak berobat karena mereka tidak berusaha menghindari efek samping obat, atau mereka merasa tidak sakit, atau karena mereka tidak percaya pada dokter," jelas Dr Paul Appelbaum, direktur bagian hukum, etika dan psikiatri di departemen psikiatri Universitas Columbia.

Selain itu, Dr Jeffrey Lieberman, ketua departemen psikiatri di Universitas Columbia dan rumah sakit NewYork-Presbyterian, juga menyadari bahwa pil digital hanya diakui dari segi dosis dan cara pemberiannya, namun tidak meningkatkan kepatuhan pasien – sehingga manfaatnya menjadi kontroversial.

"Apakah pil ini bisa membuat pasien tidak mengalami serangan penyakit, atau tidak perlu rawat inap, bisakah kemampuan akademik dan kehidupan sosial mereka menjadi lebih baik? Cukup ironis jika pil ini diberikan kepada penderita gangguan mental yang sering mengalami gangguan kesadaran," ungkapnya.

Disamping itu, teknologi ini menimbukan pertanyaan mengenai privasi dan perasaan stres yang mungkin dialami pasien saat dokter terus memonitor kesehariannya. "Saya tidak ingin sinyal elektrik keluar dari tubuh saya sehingga dapat dibaca oleh dokter," ungkap Bapak Jiang, seorang penderita schizophrenia yang rutin mengonsumsi pil Ablify selama enam belas tahun untuk mencegah serangan paranoia. Pasien penderita gangguan skizoafektif juga menganggap pil ini sangat membebaninya – "ini menghambat kemajuan terapi seseorang."

Seorang partisipan uji klinis digital Ablify, Tommy juga mengalami sedikit masalah selama uji coba, dan ia mengatakan bahwa patch yang menempel pada tubuhnya membuatnya merasa tidak nyaman dan gatal. Menurut Tommy, ia tidak memerlukan monitoring, "Saya tidak mengalami serangan paranoid dalam jangka waktu panjang."

Meskipun ada beberapa kekhawatiran, namun manfaat teknologi ini melebihi risikonya, menurut The Verge. "Tentu saja ada tantangan tersendiri untuk mengaplikasikan digital ke sektor baru. Alasan untuk menghadapi tantangan dalam kesehatan adalah karena kebutuhannya sangat besar," ungkap pembicara Proteus. MIMS

Bacaan lain:
Aplikasi untuk manajemen eksim
Aplikasi telepon genggam sebagai alat penelitian medis
3 cara tenaga kesehatan mencegah onset demensia digital

Sumber:
http://www.nydailynews.com/life-style/health/doctor-not-meds-article-1.3632798
http://www.straitstimes.com/world/united-states/with-digital-pill-doctors-can-check-if-patient-has-taken-medicine
https://siliconangle.com/blog/2017/11/14/fda-approves-digital-pill-alerts-doctors-take-medicine/
https://www.statnews.com/2017/11/13/pill-sensor-fda-approval/
https://www.nytimes.com/2017/11/13/health/digital-pill-fda.html
http://www.bbc.com/news/health-41980836
https://www.theverge.com/2015/10/7/9466121/proteus-digital-pill-tracking-privacy-quantified-self
http://www.proteus.com/ 
https://www.fda.gov/NewsEvents/Newsroom/PressAnnouncements/ucm584933.htm