Phineas Gage, yang terkenal dengan 'Kasus Linggis Amerika', merupakan seorang pria yang memainkan peran penting dalam proses memahami kerja otak manusia.

Di tahun 1848, saat bekerja, Gage yang berusia 25 tahun mengalami cedera mengerikan di otak. Beruntungnya, ia berhasil selamat, tetapi kepribadiannya sangat terpengaruh hingga teman-temannya menganggap ia 'bukan Gage yang sama'. Ia merupakan contoh klasik mengenai bagaimana bagian spesifik otak bisa memengaruhi sikap dan kepribadian seseorang.

Sembuh total, namun dengan efek samping yang tidak terduga

Gage merupakan seorang pekerja yang membersihkan jalan untuk kemudian digunakan untuk membangun rel kereta di Cavendish, Vermont, US. Ia akan mengebor lubang dan menggunakan besi tempa - berbobot 13 pounds, yang berlubang - untuk memadatkan serbuk peledak ke bebatuan. Pada 13 September, batang besi, yang mengenai batu, menciptakan percikan yang menyebabkan ledakan.

Kemudian, "menyebabkan sebatang besi naik dan keluar dari lubang, menusuk pipi kirinya, di balik lubang mata, dan menembus hingga atas kepalanya," kata Jack Van Horn, profesor asosiasi di bagian neurologi di Fakultas kedokteran Keck di Universitas Southern California. Batang besi ini kemudian diketahui "dilapisi darah dan otak".

Di luar semua ekspektasi, dalam hitungan menit setelah kejadian, Gage bisa duduk sendiri di kereta, sadar dan mengetahui apa yang sudah terjadi. Lobus frontal kiri Gage hancur, dan ia menjadi seorang yang suka gelisah, tidak sopan, manja, yang bukan merupakan sifatnya sebelum kejadian ini', menurut dokter periksa, John Martyn Harlow.

A cabinet-card portrait of Phineas Gage (1823–1860), holding the tamping iron which injured him. Photo credit: Wikimedia
A cabinet-card portrait of Phineas Gage (1823–1860), holding the tamping iron which injured him. Photo credit: Wikimedia


Kasus berharga dalam dunia kesehatan

Perubahan sikap yang tiba-tiba ini membuat nama Gage selalu tercatat dalam buku kedokteran, kata Malcolm Macmillan, seorang profesor honorer di Fakultas Ilmu Pengetahuan Psikologi Melbourne.

"Ia merupakan kasus pertama yang membuktikan bahwa cedera otak bisa menciptakan perubahan sikap," ungkap Macmillan. Perkembangan ini banyak membantu dunia neurosains, momen di saat tidak ada yang mengetahui fungsi otak.

"Jika Anda membicarakan mengenai neurologi dan hubungan antara kerusakan struktural ke otak dan perubahan sikap, kemungkinan Anda tidak akan menemukan hubungan apapun," kata Allan Ropper, seorang ahli neurologi di Fakultas Kedokteran Harvard dan Brigham dan Rumah Sakit Wanita. Ini merupakan kasus ideal karena "satu bagian [otak], sangat jelas, dan hubungannya dengan perubahan sikap sangat mencengangkan."

Kasus Gage terus dipelajari oleh akademisi dan peneliti. Hingga di tahun 2012, tim yang dipimpin oleh Jack Van Horn dari Laboratorium Neuroimaging UCLA (bagian dari Proyek Connectome Manusia) menggunakan kombinasi scan CT dan MRI pada tengkorak Gage untuk menciptakan model digital jalur batang besi.

Two renderings of Gage's skull show the likely path of the iron rod and the nerve fibers that were probably damaged as it passed through. Photo credit: Van Horn JD, Irimia A, Torgerson CM, Chambers MC, Kikinis R, et al./Wikimedia
Two renderings of Gage's skull show the likely path of the iron rod and the nerve fibers that were probably damaged as it passed through. Photo credit: Van Horn JD, Irimia A, Torgerson CM, Chambers MC, Kikinis R, et al./Wikimedia


Tim menemukan bahwa hingga 4% korteks cerebral Gage dan sekitar 11% sumsum otak di lobus frontalnya sudah hancur - kerusakan otak lebih besar dari yang diasumsikan sebelumnya.

Selain itu, kecelakaan ini menunjukkan adanya hubungan antara korteks frontal dan sistem limbik, yang meregulasikan emosi. Hal ini mendukung beberapa laporan mengenai sikap Gage.

Ketahanan otak manusia

Belum banyak yang diketahui mengenai hidup Gage setelah kecelakaan ini. Sebelumnya, diketahui bahwa kepala pekerja yang mempekerjakan Gage 'menganggap perubahan pikirannya sangat signifikan sehingga mereka tidak bisa lagi mempekerjakan Gage', menurut Harlow.

Selain itu, "perubahan sikap Gage, ... tidak berlangsung selama lebih dari dua hingga tiga tahun", kata Macmillan. Diketahui bahwa Gage akhirnya menjadi pelatih menyetir di Chile - pekerjaan yang membutuhkan keahlian dan fokus.

Penting untuk menganggap perkembangan hidup Gage sebagai pesan penting ke pasien di masa sekarang. "Meskipun dalam kasus kerusakan otak parah dan inkapasitas parah, namun rehabilitasi sangat mungkin dilakukan untuk menyembuhkannya," kata Macmillan.

Gage hidup selama 12 tahun sebelum akhirnya meninggal akibat kejang epileptik di tanggal 21 Mei 1860, yang kemungkinan berhubungan dengan cedera otaknya. Tetapi ceritanya tetap hidup, meskipun terkadang terdengar simpang-siur.

"Di tahun 1848, ia menjadi tanda kesembuhan ajaib. Kemudian, namanya selalu dicatat dalam buku kasus perubahan sikap paska-trauma. Baru-baru ini, orang-orang menginterpretasikannya sebagai menemukan bentuk kemerdekaan dan kesembuhan sosial, yang tidak dihargai 15 tahun lalu," kata Dominic Hall, kurator Museum Anatomi Warren, dimana tengkorak Gage disimpan bersamaan dengan batang besi yang menembusnya. MIMS

Bacaan lain:
Rokok sehat, mungkinkah?
Cerita kembar siam pertama di dunia
Faktor yang menyebabkan bervariasinya rasa nyeri
Memahami mekanisme molekular litium dalam terapi gangguan bipolar


Sumber:
http://www.npr.org/sections/health-shots/2017/05/21/528966102/why-brain-scientists-are-still-obsessed-with-the-curious-case-of-phineas-gage
https://bigpictureeducation.com/brain-case-study-phineas-gage
https://www.theguardian.com/science/blog/2010/nov/05/phineas-gage-head-personality
https://en.wikipedia.org/wiki/Phineas_Gage#/media/File:Phineas_Gage_GageMillerPhoto2010-02-17_Unretouched_Color_Cropped.jpg