Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Jurnal Asosiasi Kedokteran Amerika menunjukkan tingginya jumlah mahasiswa kedokteran yang mengalami depresi, meningkatkan kekhawatiran nasional mengenai kesejahteraan mahasiswa yang sedang mengikuti pelatihan medis.

Saat mendiskusikan depresi dengan mahasiswa kedokteran, seringkali mereka menyebutkan beban kerja, jam kerja yang panjang, dan lingkungan kerja yang membuat stress sebagai penyebabnya. Tetapi pelaku terbesarnya adalah saat mahasiswa kedokteran menghindari diskusi saat atasan memberikan sikap tidak menyenangkan ke para mahasiswa.

Penyiksaan terjadi di balik pintu tertutup

Setelah memasuki lingkungan klinis, mahasiswa medis cenderung tidak mau menjadi bagian hierarki tertentu yang sudah menjadi budaya rumah sakit selama beberapa generasi.

Ilmu obat sudah lama diajarkan dengan cara yang kasar, dan metode pengajaran demikian seringkali terjadi dalam kebanyakan sistem edukasi, terutama di rumah sakit. Secara alami, hal ini karena satu kesalahan bisa menyebabkan kehilangan nyawa.

Dokter senior seringkali merefleksikan budaya bagaimana mereka dilatih ke mahasiswa mereka. "Orang-orang memperlakukan orang lain sebagaimana mereka diperlakukan," kata Michael Green, seorang dokter dan profesor tenaga medis internal di Penn State. "Beginilah cara saya melakukannya dan saya baik-baik saya dengan hal tersebut, sehingag saya juga akan menerapkan hal yang sama ke Anda dan Anda tetap akan baik-baik saja."

Sesi pelatihan demikian seringkali meliputi secara agresif mempertanyakan mahasiswa mengenai pertanyaan sulit kemudian membuat suatu candaan akan ketidakmampuan mahasiswa dalam menjawab pertanyaan demikian dengan benar. Terkadang komentar menyakitkan mengenai jenis kelamin, ras atau kebodohan mahasiswa muncul, meskipun bisa dianggap sebagai suatu 'candaan'.

Menurut Abraar Karan, seorang mahasiswa program magister di Fakultas Kesehatan Masyarakat T. H. Chan Harvard, masalah ini hanya muncul saat mereka merasa aman utnuk membicarakan hal ini – dalam pembicaraan "kecil, pelan antara mahasiswa di kantin saat makan siang atau saat tengah malam setelah jam kerja yang panjang di bangsal."

Dr Green dan Dr Daniel George mengajarkan kelas 'Cerita dalam dunia pengobatan' di Fakultas Kedokteran Penn State, dan menulis artikel yang menyatakan rasa bersalah yang dihadapi hampir setengah mahasiswa kedokteran mereka yang menggambarkan atasan mereka sebagai ibu bermulut kotor di cerita mereka.

Dibutuhkan usaha untuk menghentikan sikap yang tidak sesuai

Meskipun demikian, budaya hierarki hanya berfungsi untuk melindungi seseorang dari komentar menyakitkan. Mahasiswa seringkali menyimpan emosi mereka karena mereka tahu mereka akan menghadapi masalah yang lebih besar lagi jika mereka melaporkannya.

Meskipun beberapa fakultas medis menyediakan kesempatan untuk melaporkan keluhan secara anonim, namun laporan tersebut harus menyebutkan dokter spesifik tertentu dan apa kesalahan mereka. Meskipun demikian, dengan detail tersebut, dokter bisa dengan mudah mengetahui siapa yang melaporkannya.

Satu masalah besar saat mengajukan keluhan adalah kemungkinan mahasiswa bisa mendapat evaluasi negatif dari atasan mereka, atau menjelekkan mereka ke kolega, yang kemudian bisa memengaruhi kemungkinan mereka masuk ke dunia medis.

"Asosiasi keprofesian konon menyadari pentingnya kesehatan dan kebugaran, namun sistem penilaian dari lingkungan pelatihan yang sekarang membuat residen tidak bisa beristirahat di rumah saat sakit, dan menceritakan kerentanan permintaan emosi dan fisik," kata Thomas Schwenk, dekan Fakultas Kedokteran Universitas Nevada.

Penting untuk mempertimbangkan tanggung jawab atasan atas sikapnya

Depresi di antara mahasiswa kedokteran memiliki reperkusi di masa depan, karena depresi pada para residen banyak dihubungkan dengan kualitas pelayanan yang buruk dan meningkatnya kesalahan medis, sebagaimana yang dicatat oleh George dan Green dalam penelitian mereka.

"Dokter yang melatih dokter lain juga perlu berlatih mengenai apa yang perlu mereka ajarkan. Kami tidak mengajarkan mereka dalam mekanisme yang mendukung kebugaran dan baiknya kesehatan mental dan cara menahannya," kata Schwenk.

"Harus ada pesan yang menyatakan bahwa ini tidak baik-baik saja dan akan ada konsekuensi karena memperlakukan orang dengan tidak baik," simpul Green. MIMS

Bacaan lain:
Menggertakkan gigi pada anak remaja bisa menjadi indikasi "perundungan"
Mengajarkan mahasiswa kedokteran tanpa kuliah
Utang mahasiswa fakultas kedokteran bisa berkontribusi kepada kelelahan fisik

Sumber:
https://www.statnews.com/2016/12/28/depression-medical-students-supervisors/
http://www.npr.org/sections/health-shots/2015/12/08/458835148/medical-students-see-their-mentors-as-marauding-monsters