Pasangan dokter-dokter dan dokter-perawat mungkin sering dijumpai dalam film dan televisi, atau bisa jadi mereka berpasangan secara alami di tempat kerja.

Kemungkinan tenaga kesehatan berpikir apakah mereka harus mulai memikirkan membangun hubungan dengan sejawat lain; mereka mungkin cemburu terhadap teman mereka yang memutuskan untuk memperkuat ikatan. Ada beberapa pro-kontra yang harus dipertimbangkan sebelum memulai hubungan serius dan/atau menikah dengan sejawat lain.

Pro pernikahan dalam dunia medis

1. Komunikasi dan saling memahami

Karena tenaga kesehatan bekerja dalam satu industri yang sama, mereka cenderung memahami pekerjaan satu sama lain. Mereka bisa merasa terhubung ketika berbicara mengenai pengalaman atau tantangan yang dialami. Mereka bisa mudah merasa nyaman, dan membuat mereka yakin bahwa mereka tidak menghadapi masalah sendirian dan bahwa ada orang lain yang memahami masalah mereka. Mereka juga bisa membagikan kesamaan nilai dan etika kerja, yang menciptakan rasa bangga dan tenang karena bisa menghabiskan waktu bersama seseorang memahami kondisi yang di hadapi. Selain itu, mereka juga tidak perlu menghindari penggunaan istilah medis ketika berkomunikasi karena pekerjaan mereka.

2. Sifat penyayang dan pendidik

Penyayang dan pendidik merupakan bagian dari pekerjaan profesi medis. Kualitas ini harus dikembangkan dan dimunculkan selama beberapa tahun sebagai tenaga kesehatan dan sangat berguna dalam hubungan personal. Faktanya, mereka cenderung merupakan partner yang sangat mendukung yang memahami pentingnya menunjukkan kasih sayang dan mengetahui bagaimana cara menunjukkannya, yang bisa meningkatkan ikatan emosi dalam hubungan pernikahan dan membantu menjaga hubungan jangka panjang. Selain itu, kualitas ini sangat berguna ketika mereka memainkan peran dalam mendidik anak-anak mereka di masa depan. Melalui pendidikan, mereka bisa menanamkan kualitas tertentu dalam diri anak-anaknya.

Kontra pernikahan dalam dunia medis

1. Buruknya keseimbangan hidup

Tenaga kesehatan secara umum perlu bekerja dengan jam kerja panjang setiap harinya. Kondisi ini bisa menyebabkan buruknya keseimbangan hidup. Selain itu, jadwal yang bentrok, membuat tenaga kesehatan tidak bisa menghabiskan waktu bersama, yang kemudian bisa menurunkan kualitas waktu bersama sebagai pasangan. Kemudian, memiliki jadwal yang ketat bisa mengubah peran mereka sebagai orangtua ketika mereka sudah memiliki anak - Bukannya menjadi pengasuh utama, mereka dipaksa untuk meminta bantuan anggota keluarga lain atau bahkan membayar seorang pembantu. Ini artinya, mereka bisa kehilangan aspek-aspek penting dalam mengasuh anak - melihat anaknya tumbuh.

2. Terperangkap dalam kelompok sosial mereka

Bekerja di industri kesehatan berarti mereka memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk berinteraksi dengan orang-orang di profesi serupa. Meskipun demikian, ketika pasangan juga merupakan tenaga kesehatan, peluang memperluas lingkungan sosial pun menjadi terbatas. Selain itu, bagi beberapa tenaga kesehatan, menghabiskan waktu mereka yang sangat berharga dengan orang yang sangat dekat dan familiar merupakan hal yang membosankan. Seiring berjalannya waktu, akan sangat sulit bagi mereka untuk membuka lingkungan sosial mereka lingkungan baru. Lingkungan sosial yang kecil cenderung kurang beragam dan bisa merugikan, karena bisa menghambat kemampuan mereka untuk berinteraksi dengan pasien yang berasal dari beragam latar belakang.

Poin yang dijelaskan tersebut hanya beberapa contoh yang harus dipertimbangkan ketika memutuskan untuk memiliki hubungan serius dengan sejawat Anda. Tentu saja, apakah pernikahan dalam dunia medis bisa menjadi mimpi indah atau buruk, semuanya tergantung pada tingkat komitmen dan kesadaran bahwa suatu hubungan merupakan suatu tanggung jawab bersama. MIMS

Bacaan lain:
6 tanda Anda cocok berkarir di dunia kesehatan
Apakah dokter tidak bisa hidup seimbang?
4 kebiasaan yang memberi pengaruh negatif pada pelayanan kesehatan
Kreativitas: Kemampuan utama yang perlu dimiliki oleh tenaga kesehatan?