Seorang wanita Singapura yang menggugat Thomson Fertility Centre dengan tuduhan kelalaian, setelah insiden tercampurnya sperma saat fertilisasi in-vitro (IVF) menyebabkan ia harus menerima seorang anak yang secara biologis bukan anak suaminya. Pengajuan "biaya pemeliharaan" wanita ini ditolak oleh keputusan pengadilan.

Keputusan ini dikeluarkan pada 22 Maret, dengan menyatakan bahwa Pengadilan menolak gugatan wanita ini dan bahwa wanita ini tidak berhak meminta biaya pemeliharaan dari Thomson Medical, pusat fertilitasnya, dan juga dua spesialis embriologi yang bekerja di tempat itu.

Seorang wanita menggugat pusat fertilitas

Di tahun 2010, penggugat, seorang wanita beretnis Cina, dan suaminya Kaukasianya, menyambut anak perempuan mereka, Bayi P, setelah mengikuti terapi IVF di Thomson Fertility Centre. Meskipun demikian, ada perbedaan signifikan pada warna kulit dan rambut Bayi P, sehingga mereka memutuskan untuk melakukan tes DNA.

Tes menunjukkan bahwa Bayi P memiliki gen wanita ini, tetapi tidak memiliki gen suaminya. Pemeriksaan lebih lanjut menemukan ada insiden pencampuran, sehingga telur wanita ini difertilisasi dengan sperma donor beretnis India selama prosedur IVF, bukan sperma suaminya.

Wanita ini akhirnya menuntut Thomson Medical dan tiga responden lain di tahun 2012 sebagai ganti-rugi dan meminta biaya pemeliharaan untuk anak ini. Meskipun terdakwa mengaku bersalah dan mau bertanggung jawab akan insiden ini, namun Pengadilan tidak mengizinkan klaim ini di tahun 2015, dengan menyatakan "pertimbangan kebijakan" menolak pertanggung jawaban atas anak yang tumbuh sehat, dan juga menyebutkan bahwa kelahiran anak yang sehat dianggap sebagai suatu berkat.

Gugatan biaya pemeliharaan ditolak oleh Pengadilan Tinggi

Pasangan ini kemudian menaikkan banding ke Mahkamah Agung atas keputusan Pengadilan Tinggi.

Namun, Mahkamah Agung, dengan Ketua Mahkamah Agung Sundaresh Menon, Hakim Agung Chao Hick Tin, Andrew Phang, Tay Yong Kwang dan Hakim Steven Chong, mendukung keputusan Pengadilan Tinggi.

"Hukum memandang tanggung jawab orang tua sebagai suatu kewajiban yang sah dan wajib dilakukan setelah lahirnya suatu kehidupan baru; kesempatan ini tidak bisa dikatakan sebagai 'kehilangan' dan 'kerugian'," kata Hakim Agung.

"Dengan Pemohon dan suaminya telah menerima Bayi P sebagai bayi mereka sendiri (dan asumsi status orangtua), mereka harus menerima tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan Bayi P (secara finansial dan lainnya)," ungkap Hakim menambahkan.

Pasangan ini kehilangan "afinitas genetik"

Meskipun demikian, Pengadilan mengakui pasangan ini kehilangan "afinitas genetik" yang kemudian bisa memicu timbulnya stigma sosial dan juga penyesalan bagi keluarga.

"Dalam kondisi ini, Pengadilan menyadari keinginan Pemohon untuk memiliki anak sendiri, dengan suaminya, yang merupakan keinginan dasar manusia, dan hilangnya kesempatan ini sangat disesalkan mereka," kata pengadilan. "Manusia pada umumnya mengatakan bahwa orang tua dan anak memiliki ikatan dalam darah mereka dan masalah biologis - hereditas - bisa menyebabkan gangguan signifikansi sosial-budaya yang mendalam."

"Dan ketika, seperti dalam kasus sekarang, seseorang menolak berkatnya karena kelalaian orang lain maka ia telah kehilangan satu signifikansi tertentu dan menghadapi satu kesalahan serius," lanjut pengadilan.

"Hilangnya 'afinitas' juga bisa memicu munculnya stigma sosial dan rasa malu karena takut akan pandangan orang lain, seperti kasus ini sekarang."

Meskipun Mahkamah Agung mempertimbangkan klaim 30% dari biaya pemeliharaan Bayi P, namun dikatakan bahwa jumlah keputusan ganti-rugi akan diserahkan ke Pengadilan Tinggi. MIMS

Bacaan lain:
Euthanasia pada bayi: Perlukah dilegalkan?
Bayi dengan 'tiga orangtua' membuktikan kontroversi ilmu pengetahuan dapat melawan infertilitas
Hibrida manusia-babi pertama di dunia: Terobosan medis atau dilema etik?
Transplantasi rahim sekarang bisa dilakukan pada manusia


Sumber;
http://www.channelnewsasia.com/news/singapore/court-dismisses-appeal-over-ivf-sperm-mix-up/3616038.html?cid=fbcna 
http://www.straitstimes.com/singapore/courts-crime/woman-who-had-ivf-baby-with-a-strangers-sperm-suffers-genetic-affinity-gets 
http://www.straitstimes.com/singapore/courts-crime/woman-entitled-to-compensation-court-rules