Perfeksionisme merupakan ancaman yang banyak terjadi pada individu berprestasi tinggi dan performa tinggi – seperti tenaga kesehatan – dimana individu ini dikenal memiliki standar tinggi untuk dirinya sendiri.

Peneliti membuat dua kategori perfeksionisme – adaptif dan maladaptif – berdasarkan susunan berbeda mereka. Mereka yang disebut sebagai orang perfeksionis dan mereka yang berusaha memenuhi ekspektasi orang lain, banyak dihubungkan dengan susunan perfeksionis maladaptif daripada perfeksionisme dengan orientasi diri.

Dalam konteks kesehatan dan kehidupan mereka, hubungan signifikansi perfeksionisme lebih besar dengan berbagai outcome kesehatan negatif. Hubungan ini sudah banyak diteliti dalam banyak penelitian. Kelelahan, rasa gelisah, depresi dan gangguan makan, misalnya, merupakan beberapa kondisi yang banyak dihubungkan dengan perfeksionisme.

Perfeksionisme menyebabkan kelelahan akademik

Sebuah penelitian yang dilakukan tahun 2016 pada lebih dari dua ratus mahasiswa kedokteran di Korea Selatan menemukan hubungan signifikan antara kelelahan akademik dan perfeksionisme. Dengan kata lain, mahasiswa kedokteran dengan perfeksionisme maladaptif lebih tinggi berisiko lebih tinggi mengalami kelelahan akademik.

Meskipun demikian, efikasi-diri akademik berhubungan negatif dengan kelelahan akademik – hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko kelelahan meningkat saat efikasi-diri akademik rendah. Subskala digunakan untuk mengukur efikasi-diri akademik dalam penelitian yang meliputi aspek seperti rasa percaya diri, efikasi pengaturan-diri dan preferensi kesulitan pekerjaan.

Mahasiswa kedokteran dipilih dalam penelitian ini karena mereka seringkali dibebani ekspektasi orangtua, guru, teman dan masyarakat umum. Penelitian ini dilakukan oleh Ji Hye Yu dari Fakultas Kedokteran Universitas Ajou, bersama dengan dua peneliti lain.

Dihubungkan dengan gangguan pola makan dan depresi paska melahirkan

Penelitian juga dilakukan dengan tujuan untuk mencari hubungan antara perfeksionisme dengan penderita gangguan makan. Penelitian menunjukkan bagaimana perfeksionisme adaptif dan maladaptif memainkan fungsi dalam ketidak puasan tubuh dan kejadian gangguan makan pada wanita.

Penelitian yang dilakukan di tahun 2016 oleh Sebastiano Costa dari Universitas Messina, bersama dengan empat peneliti lain, menemukan bahwa kepuasan tubuh banyak dihubungkan dengan wanita yang memiliki tingkat kekhawatiran akan kesalahan yang tinggi dan menganggap kesalahan sebagai suatu kegagalan (perfeksionisme maladaptif) begitu juga dengan mereka yang memiliki standar personal (perfeksionisme adaptif) bagi diri mereka sendiri. Singkatnya, tingkat perfeksionisme yang tinggi banyak dihubungkan dengan idealisme yang lebih ringan.

Untuk mendemonstrasikan implikasi serius dari perfeksionisme, tim peneliti dari Universitas Barcelona di Spanyol menyelidiki peran dari perfeksionisme sebagai prediktor depresi paska melahirkan pada ibu baru. Ahli psikologis, Estel Gelabert, bersama dengan beberapa peneliti lain mengevaluasi lebih dari ratusan wanita dengan depresi paska melahirkan pertama dan juga lebih dari ratusan waktu paska melahirkan sehat di tahun 2011.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat perfeksionisme yang tinggi, dengan kekhawatiran tinggi akan kesalahan, berada dalam dimensi yang lebih signifikan yang berhubungan dengan depresi mayor paska melahirkan . Lebih spesifiknya lagi, prevalensi perfeksionisme tinggi lebih tinggi dalam kelompok depresi mayor paska melahirkan, dengan angka sebesar 34%.

Masih ada manfaat baik dari perfeksionisme

Melihat subjek dari perspektif berbeda, meskipun demikian, perfeksionisme tidak sepenuhnya buruk. Misalnya, penelitian yang dilakukan selama enam setengah tahun oleh Prem Frey, seorang profesor psikologi di Universitas Trinity Western di Canada bersama dengan koleganya, menemukan bahwa mereka yang memiliki nilai tinggi pada perfeksionisme terorientasi diri sendiri memiliki risiko mortalitas lebih rendah (29%) dibandingkan mereka yang memiliki skor lebih rendah.

Penelitian dilakukan pada lebih dari 300 pasien lansia diabetes. Penemuannya berkebalikan dengan hipotesis penelitian sebelumnya bahwa stres, yang disebabkan perfeksionisme, bisa menyebabkan peningkatan risiko mortalitas pada penerita diabetes.

Hasil penelitian dari penelitian di atas menunjukkan bahwa memahami peran perfeksionisme sebagai prediktor risiko kesehatan berbeda sangat penting. Pengetahuan dan penyetaraan mengenai masalah ini bisa menjadi tahap penting untuk mengetahui strategi pencegahan dan intervensi yang sesuai. Hal ini bisa secara efektif digunakan untuk mengatasi masalah kesehatan berbeda yang diderita individu lainnya. MIMS

Bacaan lain:
Semakin sibuk rumah sakit, semakin kompeten dokter lulusannya
3 metode pengajaran baru dan inovatif di fakultas kedokteran
Tips berjaga malam untuk perawat

Sumber:
https://muse.jhu.edu/article/180085 
http://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/1088868315596286
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5323000/ 
http://journals.sagepub.com/doi/10.1177/1359105311398684
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0165032711005155