"Pada mulanya sudah cacat."

Kritik tersebut dibuat oleh mereka yang mengkaji penelitian besar yang dipublikasikan dalam Lancet, yang menyimpulkan bahwa statin berhasil mencegah sekitar 80.000 kasus gangguan kardiovaskular, seperti infark miokardial dan stroke, setiap tahunnya.

Sekelompok dokter yang menulis dalam The Prescriber mengkritik metode yang dilakukan oleh penelitian dalam Lancet, menyatakan bahwa metode tersebut "salah pengarahan dan berusaha menghentikan perdebatan publik."

Mereka juga menyebutkan bahwa penelitian ini memiliki bentuk manipulasi statistik sistemik, pada beberapa data yang tidak dipublikasikan, dan bahwa outcome mengenai obat tidak berdasarkan bukti konkret, namun berdasarkan dugaan semata.

Jutaan orang banyak menggunakan statin karena mengikuti panduan NICE

Kontroversi mengenai penggunaan statin sudah ada selama bertahun-tahun, setelah National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE), di tahun 2013, menyarankan dokter untuk meresepkan statin untuk pasien dengan risiko penyakit jantung 10% – setengah dari rekomendasi sebelumnya yang merekomendasikan untuk pasien dengan risiko penyakit jantung 20%.

Ini berarti bahwa 4,5 juta orang lainnya memenuhi syarat untuk penggunaan statin, meskipun mereka berada dalam kondisi kesehatan yang baik.

Jutaan orang di dunia menggunakan statin untuk menurunkan kadar kolesterol, dan meskipun rekomendasi berarti lebih banyak orang akan memulai pengobatan, namun dokter di beberapa negara seperti Singapura cukup agresif dalam pemberian resep statin.

"Dokter kardiologi di Singapura secara agresif mengobati kolesterol dengan statin dosis tinggi untuk pasien gangguan jantung; dosis tertinggi yang bisa ditoleransi pasien," ungkap Dr Ong Hean Yee, kepala kardiologi di Rumah Sakit Khoo Teck Puat di Singapura.

Terlalu berlebihannya pengobatan pada jutaan pasien di dunia

Menurut penelitian Lancet, yang menganalisis kumpulan data sebesar 20 juta dan dilakukan oleh Universitas Oxford dan London School of Hygiene and Tropical Medicine, hanya 2% pasien mengalami efek samping penggunaan statin, yang meliputi nyeri otot, kehilangan ingatan, dan depresi.

Meskipun demikian, dokter yang mengkritik penelitian ini memiliki pandangan berbeda.

"Beberapa dekade mengenai kesalahan informasi akan kolesterol dan terlalu berlebihannya manfaat statin dibandingkan efek samping memicu berlebihannya penggunaan obat pada jutaan orang di seluruh dunia," ungkap kepala penelitian dan konsultan kardiologi Dr Aseem Malhotra.

"Kurangnya transparansi saat meresepkan statin merupakan salah satu faktor yang menandakan rusaknya sistem kesehatan dimana manfaat finansial membuat tenaga kesehatan mengesampingkan bukti penelitian dan apa yang paling penting untuk kondisi pasien," ungkap Malhotra, yang komentarnya didukung oleh ahli statin Harvard, Dr John Abramson, mantan presiden Royal College of Physicians, Sir Richard Thompson, dan Professor Sherif Sultan, presiden International Society for Vascular Surgery.

Kecuali data mentahnya ditunjukkan, katanya, klaim mengenai manfaat atau efek samping statin tidak bisa dianggap sebagai berdasarkan fakta penelitian.

Kritik kepada Dr Malhotra

Meskipun banyak orang mendukung pandangan Malhotra, namun yang lain, seperti profesor Sir Nilesh Samani yang merupakan direktur medis di British Heart Foundation, menolak komentarnya.

"Tulisan ini (oleh Malhotra) menggabungkan data dan pandangan bahwa risiko membingungkan pasien mengenai manfaat dan keamanan statin," ungkapnya.

"Bukti dari berbagai penelitian klinis sejak lebih dari dua dekade silam menunjukkan bahwa statin merupakan cara yang efektif bagi seseorang untuk menurunkan risiko serangan jantung."

Profesor Mark Baker dari NICE, juga menyebutkan bahwa revisi panduan dilakukan berdasarkan "badan anggota besar dari bukti penelitian yang mendukung penggunaan statin", bahkan bagi mereka yang memiliki risiko relatif rendah.

"Efektivitas statin sekarang sudah terbukti, begitu juga dengan keamanan jangka panjang, dan biaya yang relatif murah," ungkap Baker.

"Untuk memajukan peperangan melawan penyakit jantung dan stroke, kami harus mendorong pasien untuk berolahraga, memperbaiki pola makan, berhenti merokok dan diberikan kepada mereka yang berisiko dan memenuhi kriteria."

Meskipun demikian, mantan presiden Royal College of General Practitioners (RCGP), Profesor Iona Heath menyesalkan bahwa kontroversi yang berlangsung mengenai risiko statin memicu hilangnya rasa percaya masyarakat pada ilmu pengetahuan dan penelitian biomedis.

"Kontroversi hanya akan berhasil diatasi jika semua data penelitian tersedia untuk dikaju oleh peneliti yang yang tidak terlibat atau bebas dari intervensi manapun," tambah Heath. MIMS.

Bacaan lain:
Seorang pria hidup 555 hari tanpa jantung
Penyakit jantung dan stroke lebih banyak menyerang orang-orang yang kesepian dan terisolasi
Obat penghilang nyeri bisa meningkatkan risiko serangan jantung

Sumber:
https://www.ttsh.com.sg/about-us/newsroom/news/article.aspx?id=5946
http://www.telegraph.co.uk/news/2016/11/24/lancet-study-statins-fundamentally-flawed-critics-say/
http://www.ibtimes.co.in/why-these-cardiologists-think-lancets-statin-study-fundamentally-flawed-705665
https://inews.co.uk/essentials/news/health/lancet-statins-review-misleading-doctors-claim/
http://www.express.co.uk/life-style/health/736371/side-effects-statins-safe-cholesterol-levels-drugs